Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 190 Aku sudah bertunangan


__ADS_3

Dan di sinilah mereka, berada di sebuah warung sederhana dekat dengan kantor mereka. Dina yang meminta agar tidak terlalu jauh dari kantor, ia tak mau berlama-lama bersama Bimo.


Bimo memesankan makanan yang menjadi makanan kesukaan mantan pacarnya itu. Ia masih ingat betul semua yang disukai dan tidak disukai oleh Dina. Namun ia tidak tahu daftar tidak suka Dina telah bertambah, yaitu terlalu dekat dengan Bimo.


Setelah pelayan mengantarkan makanan mereka, Dina pun mulai makan, ia makan bukan karena menghargai Bimo, namun kata-kata Toni baru saja masih terngiang-ngiang di kepalanya.


"hemm....Din..." ucap Bimo ragu. Dina mendongak menatap Bimo yang duduk di hadapannya


"sudah lama kamu bertunangan?"


"belum...tiga minggu yang lalu" ucap Dina apa adanya


"siapa cowok yang beruntung itu Din?" Bimo menatap manik mata Dina yang terlihat biasa saja, ia jadi ragu apakah benar Dina telah bertunangan.


"nanti kamu juga akan tahu dengan sendirinya" ucap Dina sambil mengunyah makanannya


Dina melanjutkan makannya, ia ingin segera menghabiskan makanannya dan segera kembali ke kantor.


"masih mau kan berteman denganku Din?" tanya Bimo memcari celah untuk merebut hati Dina lagi


Dina meletakkan sendok dan garpunya "mas mengenal aku bukan?" Bimo mengangguk "jadi buat apa bertanya lagi? Mas sudah tahu jawabannya" Dina menatap datar pada mantan pacarnya itu


"aku kira kamu sudah berubah Din" Bimo terkekeh


"namun, kini ada hati yang harus aku jaga, ada nama baik keluargaku dan keluarga tunanganku, aku harap mas bisa mengerti"


Dengan susah payah Bimo menelan salivanya, baru saja ia mendapat celah tiba-tiba celah itu tertutup kembali. Sepertinya kali ini usahanya akan semakin sulit. Bimo memaksakan senyumnya, kali ini ia sudah membulatkan tekad ingin menghancurkan hubungan Dina dan tunangannya bagaimana caranya ia belum memikirkannya.

__ADS_1


Bimo masih berharap Dina akan kembali padanya. Apa itu namanya cinta atau hanya obsesi Bimo saja, karena setelah bertemu dengan Dina lagi perasaan ingin memilik Dina kembali muncul.


.


Setelah peristiwa makan siang itu, Dina menjaga jarak dengan Bimo. Ia membatasi diri hanya menanggapi Bimo di kantor saja. Jika Bimo mengajak Dina keluar atau ingin mengantarkan Dina pulang, selalu ditolak oleh tunangan Toni itu.


Hingga dua bulan sudah Dina berada di kota S, Bimo masih belum menemukan celah untuk mendapatkan Dina. Ada hal yang Bimo tak tahu, bahwa Dina tinggal satu bulan lagi bekerja di sana.


Kedua orang tua Dina mendesak agar putri pertamanya itu segera pindah kerja entah di kota kelahirannya atau di kota J. Dina menurut, ia sudah berjanji tak akan ia ingkari.


"tinggal satu bulan lagi...." gumam Dina, ia mulai mempersiapkan surat pengunduran dirinya yang akan ia serahkan di hari terakhir ia menyandang status sebagai karyawan training.


Dina sedikit kesepian, biasanya di akhir minggu Toni mendatangi apartemennya namun tiga minggu terakhir Toni belum juga datang ke kota S. Dina rindu dengan tunangannya, meskipun kadang menyebalkan namun tetap saja pesona Toni membuat Dina tak ingin melirik cowok lain.


Satu bulan terakhir, ada beberapa cowok yang dengan terang-terangan mendekatinya bahkan asisten direktur pun juga menaruh hati padanya. Namun Dina selalu punya cara untuk menghindari mereka.


Dina merapikan meja kerjanya, ia bergegas keluar dari ruangannya karena Deni si sopir taksi telah menunggunya di depan kantornya. Saat Dina melangkah keluar gedung terlihat Bimo sedang berdebat dengan asisten direkturnya.


Dina tersentak tiba-tiba ia berada di tengah perdebatan dua orang itu.


"Dina pasti memilihku..."


"aku sudah mengenalnya cukup lama, aku yakin ia masih memiliki perasaan untukku, ya kan Dina?"


Dina benar-benar pusing dua orang dewasa di depannya itu entah memperebutkan apa, kenapa Dina dibawa-bawa. Saat Dina semakin pusing ada suara yang sangat ia kenal.


"sayang..."Dina menatap siapa yang memanggil namanya. Dina mengembangkan senyumnya, orang yang tiga minggu terakhir sulit ia hubungi, tiba-tiba datang menjemputnya.

__ADS_1


Toni langsung menarik tangan Dina, kedua orang yang berdebat itu terkejut melihat Dina yang ditarik oleh seorang cowok. Sedangkan Bimo terperangah, ia tak percaya jika Dina ternyata kembali bersama mantan pacarnya dulu.


"siapa dia Din...?" asisten direktur bernama Raka itu menatap sengit pada Toni


"aku tunangan Dina" ucap Toni dengan nada dingin


"dia bohong kan Din?! Bukannya kamu dulu begitu membencinya?" Bimo tak lagi bisa menahan emosinya


Sedangkan Raka bingung menatap ketiga orang yang dihadapannya itu.


"aku sudah pernah mengatakan jika aku sudah bertunangan, namun kalian tak pernah percaya, dan kamu mas, semua orang berhak atas kesempatan kedua, dan aku telah memberikannya padamu namun ternyata kamu tidak berubah" ucap Dina datar kemudian ia pergi meninggalkan kedua rekan satu kantornya itu


Sesampainya di apartemen Toni duduk di sofa kemudian menari Dina untuk duduk di sebelahnya. Rencananya ia ingin memberi kejutan pada Dina malah dirinya sendiri yang terkejut.


"sepertinya ada yang harus kamu jelaskan sayang...." ucap Toni santai namun kata-katanya begitu menohok pasalnya Dina tidak menceritakan jika Bimo juga ada di sana.


Dina diam, ia bingunh harus menjelaskan apa pada Toni, semua sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"kenapa mantanmu itu ada di sana? Ada yang kamu sembunyikan dariku?" lagi-lagi Dina terdiam, ia seperti orang yang kepergok selingkuh "apa gara-gara dia kamu menolak bekerja di kantornya Vanya?"


Pertanyaan yang pertama belum juga dijawab oleh Dina sudah muncul pertanyaan lain. Dina bingung harus menceritakan apa, dari mana, ia takut Toni tak akan menerima penjelasannya, ia tahu tabiat Toni.


Dia akan sangat marah jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Dina. Apalagi Dina dekat dengan cowok lain meskipun hanya sebatas teman kerja.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2