
Toni dan Dina beserta ketiga sahabatnya telah sampai di restoran milik Toni. Saat mereka memasuki ruangan yang Toni sediakan untuk merayakan kelulusan mereka, para karyawan di restoran itu memberi mereka ucapan selamat.
Ada juga yang memberi Dina setangkai bunga dan juga hadiah. Kedua orang tua Dina hanya menatap heran pada perlakuan para karyawan pada putri mereka itu.
"mereka sudah tahu Dina pemilik restoran ini, namun Dina yang tidak mengetahuinya" ucap papanya Toni santai
Papanya Dina merasa harga dirinya diinjak-injak namun ia tetap diam. Ia tidak suka anaknya diberi hadiah apapagi sebuah restoran. Gengsinya begitu besar, ia tak ingin Dina menerima hadiah sebesar itu sedangkan hubungan Toni dan Dina sebatas pacaran saja.
Mereka pun duduk mengelilingi meja yang besar. Para pelayan silih berganti mengeluarkan masakan spesial mereka untuk para bos mereka.
"kenapa kamu berpacaran dengannya? Bukankah dulu dia telah menyakitimu dan merendahkanmu?!" papanya Dina akhirnya bersuara dengan nada tegas dan sorot mata marah.
Dina diam tak berkutik menatap papanya yang terlihat marah. Ia berpikir dari mana papanya tahu masalahnya dengan Toni dulu. Setahu dia tak ada keluarganya yang tahu tentang permasalahannya dengan Toni.
Toni pun juga terkejut, papanya Dina seolah membuka luka lama Dina. Ia sudah bersusah payah meyakinkan Dina jika dirinya sudah berubah, namun seolah-olah papanya masih menaruh dendam pada peristiwa beberapa tahun silam.
Teman-teman Dina hanya bisa tertunduk, mereka merasa udara di sekitar mereka terasa panas. Mereka tidak menyangka berada di tengah-tengah situasi yang begitu menegangkan.
"maafkan saya om, semua itu salah saya sebenarnya hanya salah paham, dan saya sudah menjelaskan semuanya pada Dina, saya juga telah memperbaiki kesalahan saya di waktu lampau, saya telah membuktikan bahwa saya sungguh menyesal dengan apa yang terjadi dulu" Toni membela Dina karena ia tahu Dina tak akan berani melawan papanya.
Cepat atau lambat papanya Dina pasti akan mengetahui semua tentang mereka di masa lalu, ia pikir memang ini saatnya ia meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Papanya Toni tersenyum tipis, ia bangga pada anaknya yang mau mengakui kesalahannya.
Dina hanya bisa menggigit bibirnya, ia tak tahu harus menjawab apa. Toni telah membuktikan jika ia berubah. Alasan apalagi untuk tidak menerimanya kembali.
"aku tidak bertanya pada kamu, aku bertanya pada Dina" ucap papanya Dina tegas tak ingin dibantah
__ADS_1
"Toni sudah mengakui kesalahannya pa...dan sudah memperbaikinya tidak ada alasan lagi untuk tidak menerimanya" ucap Dina lirih
"Papa tidak melarang kamu berpacaran dengan siapapun, kamu sudah dewasa, papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu, kamu anak perempuan papa satu-satunya"
Dina mendongak menatap papanya, dan melihat papanya tidak semarah tadi, ia merasa berarti papanya merestui mereka "baik pa...terima kasih atas restunya" Dina mengembangkan senyumnya.
"sekarang papa dan mama mau pulang dulu kasihan adik-adik kamu, jaga diri baik-baik setelah semua urusan selesai segeralah pulang" ucap papanya beranjak dari tempat duduknya.
Situasi yang tadinya menegangkan perlahan mulai mencair. Ketiga sahabat Dina tak lagi ketakutan melihat papanya Dina yang wajahnya terlihat seolah-olah akan memakan mereka hidup-hidup.
"kenapa buru-buru sekali, bahkan kita belum makan semua hidangan ini" papanya Toni berdiri dan menyalami tangan papanya Dina seraya menepuk punggungnya.
"lain kali saja Yan...kabari kami pastinya tanggal berapa jadi kami bisa bersiap-siap" ucap papanya Dina terlihat lebih santai
"pasti...dalam waktu dekat aku kabari kalian" Papanya Toni mengembangkan senyumnya
"aku titip Dina, jaga dia baik-baik" papanya Dina menepuk bahu Toni
Toni terkejut, ia pun langsung berdiri "pasti om...aku pasti menjaga Dina"
Papa dan mamanya Dina meninggalkan restoran, mereka semua melanjutkan makan siang mereka dengan suasana yang lebih santai. Candaan, gelak tawa di menghiasi siang itu.
Dua hari berlalu, Dina tak mengatakan apapun pada Toni jika hari ini dirinya akan pergi ke kota S untuk melakukan wawancara kerja. Dina sudah bersiap-siap, ia pergi ke stasiun kereta di saat Toni masih sibuk bekerja di kantornya.
Dina pergi seorang diri, tanpa memberi tahu siapapun hanya kedua orang tuanya yang tahu kemana dia pergi. Dina memantapkan hati untuk pergi tanpa pamit karena ia tahu jika ia mengatakan pada Toni pasti Toni akan melarangnya.
__ADS_1
Sepulang kerja Toni ke kos Dina yang baru, Dina memutuskan pindah kos yang bisa membayar bulanan. Di kosnya yang lama ia diharuskan membayar sekaligus untuk satu tahun kedepan.
Toni mengetuk kamar Dina, namun tak ada jawaban dari Dina, sedangkan motor Dina terparkir di tempat parkir. Lama ia menunggu dibukakan pintu namun tak pintu itu tak kunjung terbuka.
Toni cemas, ia menelpon ponsel Dina namun tidak aktif. Ia semakin ketakutan terjadi sesuatu dengan Dina.
"hemm...permisi...apa kamu tahu Dina ada dimana?" tanya Toni kamar sebelah kamar Dina yang kebetulan terbuka.
"Dina...?" cewek itu sedikit berpikir "oh...yang di sebelah? Tadi sore aku melihat dia pergi membawa tas besar, aku tidak menanyakan mau pergi kemana" terang cewek itu
"baiklah terima kasih..." Toni masih kebingungan, ia kemudian menelpon satu per satu teman Dina tapi tak ada yang tahu keberadaannya.
Toni semakin kalang kabut, ia tak tahu Dina ada dimana. Ia pun menghubungi Ridwan dan meminta bantuan untuk mencari Dina.
Dua hari sudah Dina menghilang tanpa kabar, Toni semakin kawatir. Ia takut menghubungi orang tua Dina ia takut papanya Dina akan murka karena ia tak bisa menjaga Dina.
Toni uring-uringan, semua anak buahnya menjadi sasaran kemarahannya. Ia takut terjadi apa-apa dengan Dina. Seketika ia teringat perkataan mantan Dina kemarin, bahwa Dina masih menyimpan perasaannya untuk Dendy.
Toni benar-benar takut Dina akan meninggalkannya kembali. Ia sudah tak sanggup jika Dina benar-benar meninggalkannya. Pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi, apa ada yang salah dengan dirinya.
Yang ia ingat Dina tampak bahagia, apalagi telah mendapatkan restu dari papanya. Dia dan papanya juga sudah merencanakan hari minggu ini mereka akan mendatangi kedua orang tua Dina untuk melamar Dina secara resmi serta menentukan tanggal kapan mereka akan menikah.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g