Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 239 Bukalah hatimu


__ADS_3

Semua larut dalam kebahagiaan, tak sedikit yang ikut terharu akan keromantisan sepasang pengantin baru itu. Semua mata masih tertuju pada pengantin baru yang masih berciuman di atas panggung sana.


Mama dan papa Dina pun juga ikut menangis haru, cowok yang dulu sempat tak disukai papanya Dina itu kini telah membuat semua orang terpukau. Tuan Joni pun menitikkan air matanya, ia tak menyangka Toni akan setulus itu mencintai Dina. Di awal ia sempat ragu karena Toni anak orang yang pernah menyukai istrinya itu, dan melihat latar belakang keluarga mereka yang tak utuh, namun malam ini, ia lega karena sudah menyerahkan putrinya kepada orang yang tepat.


Di tempat lain, tepatnya di kota J ada yang begitu emosi melihat tayangan televisi yang memberitakan pernikahan Toni dan Dina. Orang itu adalah Diana, mama kandung Toni.


"anak sialan...! Tak tahu diuntung...sudah menganggap aku mati rupanya!" Dina berteriak kesetanan "Lea...kenapa kamu tak bisa membuat anakku mau menikahimu hah?!"


Lea yang berada di sebelahnya pun terlonjak kaget, mendengar teriakan dari mamanya Toni. Ia sebenarnya belum menyerah untuk bisa menaklukkan Toni, namun ia tak bisa menemukan celah untuk bisa mempengaruhi Toni agar berpisah dari Dina, dan pada akhirnya ia lebih memilih untuk diam sementara waktu.


.


Toni melepaskan ciumannya, ia menatap penuh cinta pada Dina "i love you my wife, from now and forever" ia kemudian mengecup dahi Dina begitu dalam.


"i love you too my husband" ucap Dina tersenyum, semua tamu bersorak gembira, siapa yang tak akan iri dengan keromantisab pasangan baru itu. Mereka semua tak pernah tahu bagaimana perjalan cinta Dina dan Toni yang mereka tahu hanyalah yang sedang mereka saksikan sekarang.


"mereka sungguh serasi" ucap Ani berdiri di sebelah Roy


"benar...mereka sungguh serasi, kini aku lega....Dina menikah dengan orang yang tepat" Roy mengusap buliran bening yang mulai keluar dari matanya. Semua itu tak luput dari tatapan Ani, hatinya sedikit tercubit melihat air mata Roy.


"apa kamu masih mencintainya?" tanya Ani menahan sesak di dadanya


"selalu, aku akan selalu mencintainya, dia yang pertama bagiku takkan kulupakan selamanya" ucap Roy masih larut dalam kesedihannya


"selamanya? Apa kamu tak akan membuka hatimu untuk orang lain?" Ani ingin memastikan sesuatu, sesuatu yang selama ini selalu mengganjal dalam benaknya, ia mengetahu Roy begitu mencintai Dina dari setiap tatapan dan perilaku Roy.

__ADS_1


"mungkin tidak, tapi entahlah...saat ini aku hanya ingin menyimpan semua kenangan tentangnya" Roy masih tak mengalihkan tatapannya pada Toni dan Dina


"aku mencintaimu Roy, bukalah hatimu untukku" ucap Ani, ia memberanikan dirinya mengutarakan perasaannya, bahkan kini ia ingin memberanikan dirinya untuk mengejar cintanya, selama ini ia selalu berusaha untuk diam karena ia masih melihat Dina dekat dengan Roy.


Roy terkekeh "Ani...Ani..." hanya itu yang terucap dari bibir Roy.


Toni dan Dina kembali ke pelaminan, mereka kembali menerima ucapan selamat dari tamu-tamu undangan yang sepertinya tak ada habisnya. Toni tak tahu para orang tua mereka mengundang berapa banyak orang hingga dari tadi seperti tak ada habisnya orang yang datang.


"selamat Toni...akhirnya kalian menikah..." ucap seseorang menghampiri Toni


"Deni...aku kira kamu tak akan datang" Toni memeluk tubuh Deni


"tentu datang, aku tak mau melewatkan pernikahan kalian"


"bagaimana kamu terima tawaranku?" tanya Toni


"baiklah...berarti kamu di sana saja, membantu Ridwan di anak perusahaan yang dulu aku kelola" ucap Toni


"baiklah...terserah kamu saja...." ucap Deni kemudian beralih pada Dina "selamat ya...Nona sungguh cantik, jika saja tak menikah dengan Toni, aku pasti akan mengejar Nona" Deni tersenyum


"terima kasih Den..." Dina tersenyum tulus


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, tamu-tamu sudah mulai berkurang. Tak sebanyak tadi, Dina dan Toni sudah turun dari pelaminan dan duduk di kursi yang disediakan khusus untuk keluarga.


Mereka berdua menikmati makan malam yang kemalaman. Tampak Toni dan Dina saling menyuapi. Di sana ada juga Roy dan Ani yang duduk bersama mereka. Sedangkan para orang tua mereka masih menerima tamu.

__ADS_1


"jika kalian lelah, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian, terserah mau pakai satu atau dua kamar kalian tinggal meminta kunci pada resepsionis" ucap Toni dengan seringai jahil


"aku tadi sudah mengambilnya, kamu kira aku tadi mandi dimana?" ucap Ani sedikit kesal karena ucapan


"kamu ini, kenapa harus menggoda mereka sih" ucap Dina sedikit kesal, karena membuat Ani kesal. Ia kenal Ani seperti apa, ia tidak mau menggoda Ani masalah perasaannya, biarlah Ani melakukan apa yang menurutnya baik.


Roy hanya diam mengamati perdebatan ketiga sahabatnya itu. Meski merasa sesak di dadanya, Roy tetap ingin berada di sana menghadiri pernikahan sahabat sekaligus orang yang ia sayangi sejak lama.


"kalau nona sudah selesai makan, nanti ditunggu di ruangan sebelah untuk berganti baju" ucap salah satu orang WO


"baik...apa Melinda juga sudah ada di sana?" tanya Dina


"sudah...dia sudah menunggu anda di sana, dia sudah siap kapanpun anda butuh" ucap orang itu


"aku akan menemani kamu, aku nggak mau kamu disentuh wanita jadi-jadian itu" ucap Toni


"ah...baiklah...suamiku ini sekarang menjadi lebih posesif" Dina tergelak


Roy dan Ani hanya memperhatikan interaksi pasangan suami istri baru itu. Melihat Dina bahagia Roy merasa ikut bahagia.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2