Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 41 Bagai layangan


__ADS_3

Yang belum pencet tombol favorit, pencet dulu ya bestie...


Jangan lupa ritualnya, like komen dan juga votenya


Ditunggu kiriman bunga, kopi atau kursi pijatnya ya...😁😁


Terima kasih sekebon bestie...


......................


Bel tanda pelajaran telah usai telah berbunyi. Toni bergegas ke kelas Dina, dan ternyata Dina sudah duduk di taman depan kelasnya. Toni berlari menghampiri Dina.


"sudah menunggu lama?" tanya Toni dengan nafas sedikit terengah-engah


"sudah... Jam terakhir selesai lebih cepat" ucap Dina santai


"maaf aku tidak tahu, kenapa kamu tidak ke kelasku tadi?" ucap Toni merasa bersalah


"sudah...tak apa aku menunggumu, aku juga terpaksa menunggumu jam segini sudah susah untuk menunggu bis" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan beranjak berdiri dari duduknya


"sudah kubilang aku lebih baik naik motor sendiri saja" ucap Dina santai


"baiklah...besok aku tidak akan menjemputmu, tapi ingat makan siang di rumah ya...papa menunggumu" ucap Toni meraih tangan Dina dan menggandengnya


"apa aku bisa menolaknya?" tanya Dina menatap Toni


"hmmm....papa itu kadang-kadang pemaksa, kamu tidak datang pasti hari-hari berikutnya kamu seperti diteror" Toni terkekeh


Toni memboncengkan Dina dengan kecepatan rendah. Hari ini ia begitu bahagia, Dina tak lagi bersikap acuh padanya. Dina sudah mulai bersikap baik seperti saat mereka belum berpacaran dulu.


Setelah mengantarkan Dina pulang, Toni melajukan motornya dengan kecepatan sedikit tinggi. Tidak sampai lima belas menit ia telah sampai di rumahnya.


Saat memasuki rumah, ia melihat papa mamanya sedang mengobrol di ruang keluarga


"dari mana saja jam segini baru pulang?!" tanya mamanya Toni sedikit berteriak


"dari jalan-jalan ma..." Toni berlalu meninggalkan papa dan mamanya naik ke lantai dua


"Toni..! Kamu tidak ada sopan-sopannya, mama tanya baik-baik ditinggal pergi!" mamanya Toni marah


"Toni capek ma....!" teriak Toni dari atas


"lihat pa...! Anak kesayangan kamu itu!" ucap mamanya Toni kesal


"seharusnya mama jangan berteriak seperti itu..." ucap pak Yanuar

__ADS_1


"papa jadi membela Toni sekarang?!"


"bukan membela, tapi Toni itu butuh orang tua yang mau menjadi temannya mengobrol ma..." ucap papanya Toni


"terserah papa saja...urus itu anak kesayangan papa!" mamanya Toni meninggalkan pak Yanuar di ruang keluarga


Pak Yanuar menghela nafasnya, watak mamanya Toni dari dulu tak pernah berubah. Kakaknya Toni memilih kuliah di luar kota karena sering terlibat percekcokan dengan mamanya.


Mamanya Toni merasa ia harus dihormati, bukan dianggap sebagai mama bagi anak-anaknya. Lingkungan kerja yang membuatnya gila hormat.


Papanya Toni naik ke lantai dua, ia mengetuk pintu kamar Toni. "Boleh papa masuk?"


Toni membuka pintu kamarnya "ada apa pa?"


"papa butuh teman mengobrol, kamu ada waktu?" ucap pak Yanuar masuk ke dalam kamar Toni


Toni mengekori papanya "aku mandi dulu pa..." ucap Toni masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya


Papanya Toni memperhatikan kamar Toni. Semua barang-barang Toni tertata rapi. Meski mamanya jarang memperhatikan anak-anaknya, mereka bisa menjadi anak mandiri berkat mbok Nah.


Mbok Nah yang berjasa buat Toni dan kakaknya. Bahkan Toni lebih dekat dan menurut kepada mbok Nah daripada dengan mamanya. Ada sesuatu yang menarik perhatian papanya Toni. Ia mendekat ke arah meja belajarnya. Ada foto Dina terpajang di meja belajarnya, tapi di foto itu Dina memakai baju putih biru dan dalam foto itu terlihat seolah Dina tak menyadari jika dirinya difoto


Papanya Toni tersenyum, ia menyimpulkan jika Toni sudah menyukai Dina sejak mereka masih SMP. Toni sudah keluar dari kamar mandi dan tampak lebih segar.


"ada apa pa?" Toni kaget melihat papanya berdiri di depan meja belajarnya


"jadi...malah Dina yang menungguku, aku jadi merasa bersalah" ucap Toni dengan tatapan bersalah


"kalau papa lihat, Dina itu anak yang mandiri, dan tidak mau merepotkan orang lain" ucap papanya Toni kemudian duduk di kursi belajar Toni


"iya...tadi Dina juga bilang besok jangan jemput dia lagi"


"terus kamu bagaimana?" tanya papanya Toni penasaran


"aku menyetujuinya pa...kasihan kalau ia pulang duluan seperti hari ini"


"bagus....kamu mulai bisa memahami Dina"


"terima kasih pa...karena saran papa, Dina sekarang tak acuh lagi padaku" ucap Toni dengan senyum mengembang


"ingat jangan terburu-buru, buat Dina nyaman terlebih dahulu, aku yakin Dina masih menaruh hati padamu" ucap papanya Toni sambil beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Toni.


.


Keesokan harinya, Dina sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk berpamitan dengan mamanya.

__ADS_1


"Toni sudah datang?" tanya mamanya Dina


"aku naik motor sendiri ma...." ucap Dina


"oh....ya sudah hati-hati di jalan, pelan-pelan saja bawa motornya"


Dina mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sebenarnya ia ingin diantar jemput oleh Toni, tapi ia juga tak mau jika harus menunggu Toni seperti kemarin.


Apalagi papanya Toni yang mengetahui jika Toni mengantar jemput dirinya, membuat ia semakin tak enak hati. Ia tak mau jika dianggap cewek yang suka memanfaatkan orang lain.


Dina tidak mau dicap sebagai cewek matrealistis. Kehidupan Toni yang begitu mewah sedangkan kehidupannya yang tergolong sederhana membuat ia harus berhati-hati dalam bersikap.


Meskipun mamanya dan orang tua Toni sudah saling mengenal, Dina tak ingin memanfaatkan hubungan orang tua mereka. Dina tidak tahu persis hubungan orang tua mereka di masa lampau.


Dina hanya menjaga sikap agar tidak diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh teman-temannya yang lebih kaya. Sama seperti dulu , ia tak pernah berhubungan dengan Bian tapi Bian memandangnya sebelah mata.


.


Jam istirahat jam sore, Toni menghampiri Dina di kelasnya. Toni mendekat ke meja Dina yang tampak berbincang dengan Yuni.


"boleh aku pinjam Dina?" tanya Toni datar


"boleh....boleh...tidak dikembalikan juga tidak apa-apa" ucap Yuni terkekeh, Dina menyenggol Yuni dengan sikunya sambil melirik dengan tatapan kesalnya


"ayo Din..." Toni mengulurkan tangannya


"iya...." Dina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Toni dan Yuni


Dengan langkah lebar, Toni mengejar Dina. Toni melihat wajah Dina yang datar dan cenderung acuh.


"ada apa Din...?"tanya Toni sambil mensejajari langkah Dina


"tidak apa-apa" ucap Dina datar, Toni menghela nafasnya, baru kemarin Dina bersikap baik padanya hari ini Dina kembali acuh kepadanya


"sudah kubilang, jangan bersikap berlebihan, aku tidak mau teman-temanku salah mengartikan hubungan kita ini" ucap Dina datar


"memangnya apa yang salah Din? Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku menyayangi kamu, dan hatiku hanya milikmu" Toni semakin dibuat heran


Dina menghela nafasnya "saat kita hanya berdua, aku tidak masalah kamu menggandeng aku, tapi jika ada orang lain, tunjukkan bahwa kita hanya berteman baik"


"baiklah...." ucap Toni lesu. Mereka berdua berjalan memasuki rumah Toni dan langsung menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada papanya Toni yang sudah menunggu mereka datang.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2