
Dina kembali ke kelasnya, ia termenung. Sepanjang jam pelajaran pikirannya melayang pada setiap kata yang diucapkan oleh Roy. Ada secuil rasa marah, sedih, bersalah dan penyesalan dalam hatinya.
Andaikan Dina tahu dari dulu pasti sekarang dirinya dan Toni tak akan seperti ini. Dina marah pada dirinya sendiri, Toni dan Bian. Dina marah pada dirinya sendiri karena terlalu bodoh tidak menyadari apapun dulu.
Dina marah pada Toni karena ia seperti tak punya pendirian dan terlalu mendengarkan orang lain. Dina sangat marah pada Bian yang dengan tega telah menghancurkan perasaannya.
Dina bersyukur karena dulu tak pernah tahu dan kenal dengan Bian, Dina tak tahu apa jadinya jika ia dulu mengenal Bian mungkin ia tak akan pernah lepas dari Bian.
Dina menyesal, andaikan kemarin ia tidak hanya percaya dengan apa yang ia dengar pasti sekarang dia tak akan terjebak dalam perasaan yang rumit.
Ia kini telah punya pacar, dan ia mulai menyayangi Dendy tapi dalam hatinya ia juga masih menyimpan sedikit rasa untuk Toni dalam hatinya, tapi rasa sakit dalam hatinya membuat dia menyangkal jika ia masih menyimpan rasa untuk Toni.
Dina bimbang akan keputusannya menerima Dendy, apakah keputusan yang tepat sementara ia masih terjebak pada masa lalunya. Ataukah sudah tepat ia memilih Dendy.
Keesokan harinya Dina datang lebih siang dari beberapa hari terakhir. Dina datang sambil menunggu bel masuk Dina duduk-duduk di taman depan kelasnya sambil membaca buku.
Bel tanda jam pelajaran dimulai telah berbunyi semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Yuni sudah menunggu Dina duduk. Tumben sekali Yuni menunggu Dina, biasa juga dia acuh Dina mau masuk apa tidak, tidak pernah menunggunya.
"Din... Din... Beneran kamu balikan sama Toni" tanya Yuni antusias seperti ibu-ibu komplek yang sedang mencari berita yang tajam dan terpercaya.
"Tahu dari mana kamu Yun?" tanya Dina sambil mengeluarkan buku pelajaran jam pertama
"Semua sudah tahu kalau kamu balikan sama dia, kemarin waktu jam olahraga kelihatan kamu sama dia mesra begitu" ucap Yuni dengan nada menggebu-gebu
"Hah... Semua pada mikir begitu ya?" ucap Dina sambil mengedarkan pandangan melihag sekeliling
"aku dukung kalau kamu balikan lagi sama Toni" ucap Yuni memberi semangat
"aku pikir-pikir dulu ya Yun" ucap Dina mulai membuka bukunya.
Dina tak ingin Yuni tahu akan cerita tentang dirinya dan Toni. Semakin sedikit yang tahu, itu akan semakin baik untuk dirinya.
Dina juga heran, kenapa Yuni belum tahu kejadian waktu di toilet waktu itu, padahal teman Yuni banyak yang berada di kelas Toni. Kenapa Yuni bisa tidak tahu ada cewek-cewek yang berusaha mendekati Toni. Ada apa sebenarnya dengan Yuni, Dina hanya bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
"jangan lama-lama mikirnya ya...ya...ya..." ucap Yuni menaikturunkan alisnya. Dina merasa bingung kenapa tiba-tiba Yuni jadi perhatian dengan masalahnya dengan Toni.
Jam istirahat telah tiba, Dina membereskan buku dan alat tulisnya.
"Din kamu mau ke kantin mana?" tanya Yuni
"kantin belakang IPS Yun" jawab Dina
"ayo...aku juga mau ke sana" ucap Yuni semangat.
.
Dua hari setelah perubahan sikap Yuni yang tiba-tiba peduli tentang hubungannya dengan Toni, Yuni mulai bersikap biasa lagi. Yuni memang teman yang terlihat plin-plan sesuai dengan suasana hatinya.
Tak terasa jam istirahat ketiga pun tiba, Dina seperti biasa ke studio untuk mengecek keadaan studio, dan juga mengecek laporan pengeluaran dari Widi dan teman-teman.
Ketika keluar dari studio dan melewati lorong kelas IPS Dina berpapasan dengan Toni. Entah mengapa Dina merasa canggung dengan pertemuan tak sengaja dengan Toni, yang akhirnya Dina hanya menatap datar pada Toni.
Dina bingung harus menjawab apa, statusnya sekarang adalah pacar Dendy, tak mungkin dirinya pergi berdua dengan cowok lain, dan juga jika iya mengiyakan ajakan Toni, maka akan dirinya akan semakin terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
"Maaf Ton, aku sudah ada janji" ucap Dina berlalu meninggalkan Toni yang masih mematung menatap ke arah Dina.
Bagi Dina, saat ini yang terbaik adalah ia menghindar dan menjauh dari Toni, rasa sedih, marah serta sakit masih ia rasakan. Dina berjalan ke kelas Ani, berharap bisa bercanda dengan Ani dan teman-temannya.
"Din, sabtu aku ajak ke resto 'S' bisa enggak?" tanya Ani
"jam berapa?"
"pulang sekolah" ucap Ani
"acara apa An? Kok tumben ke resto terkenal?" tanya Dina memicingkan matanya
"makan-makan lah...masak di sana cuma cuci piring " Ani mencebik
__ADS_1
"oh...syukuran ulang tahun ya " ucap Dina dengan nada menggoda
"iya itu sudah tahu kenapa tanya?" Ani mencebik
"bisa...bisa...aku bolos les saja demi kamu" ucap Dina merangkul bahu Ani "terus yang ikut siapa saja?"
" Toni dan kawan-kawan" ucap Ani antusias
"terus ceweknya cuma kita berdua?" tanya Dina dengan nada sedikit malas
"iya, nanti kita berdua boncengan" ucap Ani antusias
"oke....demi kamu aku rela bolos, dan pergi dengan Toni dan kawan-kawan" ucap Dina menepuk-nepuk bahu Ani
Sebenarnya Dina sedang menghindari Toni, tapi demi menyenangkan teman dekatnya yang sedang berulang tahun Dina rela mengesampingkan egonya. Karena Dina tahu Ani menyukai teman dekat Toni yang juga merupakan sahabat baiknya yaitu Roy, jadi sekali-sekali membuat teman dekatnya bahagia tidak masalah.
Dina kembali ke kelasnya, di sana Yuni sudah menunggunya dengan senyum mengembang. Belum jadi memulai percakapan mereka guru mereka sudah masuk kelas, Yuni mengurungkan niatnya untuk berbicara dengn Dina.
Dina merasa lega, karena guru yang mengajar masuk ke kelasnya. Jadi dia bisa menghindari percakapan dengan Yuni. Yang sudah bisa dipastikan akan membahas Toni lagi.
Bukannya Dina tak mau bercerita tentang Toni pada Yuni, tapi Dina hanya ingin semua teman-temannya tahu dengan sendirinya. Ia tak mau dikatakan cewek yang suka mengumbar masalah pribadi ke teman-temannya.
Ia tak ingin masalah pribadinya menjadi bahan pergunjingan teman-teman yang tak tahu masalah mereka. Selain itu Dina juga tak ingin masalahnya dengan Toni akan sampai di telinga teman-teman Dendy yang juga sekolah di SMAnya.
Dina tak ingin menambah masalah lagi, apalagi masalah dengan Dendy yang baru saja resmi menjadi pacarnya. Dina hanya ingin tenang tanpa ada konflik yang mengganggu pikirannya. Karena baginya sudah saatnya dia fokus untuk ujian akhirnya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1