
"jangan ulangi lagi, jangan membentakku lagi, rasanya sakit Ton....kukira setelah aku menerima lamaran kamu dan menyerahkan diriku padamu kamu tak akan cemburu buta lagi" Dina terisak hatinya begitu sakit namun ia tetap berusaha memahami Toni
"iya sayang...aku janji...tapi kamu jangan temui mantan-mantanmu lagi"
Dina menguraikan pelukannya "mereka temanku, mereka hanya bagian masa laluku, dan kamu masa depanku, lihat cincin ini..." Dina mengangkat telapak tangannya "selalu aku pakai, ini sebagai pengingat jika aku sudah menjadi milikmu"
"iya sayang...maafkan aku yang selalu mudah emosi" Toni kembali memeluk Dina
Toni menyadari dirinya terlalu cemburu, dan terkadang terlalu mengekang Dina. Ia hanya takut Dina akan berpaling darinya, ia takut peristiwa di masa lalu terulang lagi.
Begitu sulit ia menaklukkan Dina, banyak hal yang harus ia lakukan demi bisa merebut hati Dina kembali. Ia tak ingin apa yang ia usahakan selama ini sia-sia. Dalam hatinya hanya ada satu nama yaitu Dina.
.
Seminggu berlalu setelah pertengkaran itu hubungan Toni dan Dina kembali membaik. Toni tak lagi mempermasalahkan Dina bertemu dengan siapa atau pergi dengan siapa saja.
Toni kembali memberi Dina kebebasan seperti dulu, ia berusaha menjaga kepercayaan Dina bahwa dirinya tak lagi cemburu buta, dan lebih mendengarkan apa kata Dina.
Persiapan pembukaan restoran milik Toni telah selesai, ia ingin memberi kejutan pada Dina, kado pertunangan mereka. Toni sudah mempersiapkan restoran itu menjadi miliknya dan Dina.
Pukul sepuluh pagi, Toni menjemput Dina di kosnya. Ia menyuruh Dina berdandan dan memakai baju yang ia bawa. Dina protes, tak biasanya Toni menyuruhnya berdandan jika akan pergi berdua.
Bukan Toni namanya kalau tidak bisa membujuk Dina dengan segala rayuannya. Akhirnya Dina menyerah, ia mengikuti mau Toni dan sedikit berdandan sesuai yang Toni mau.
Setengah jam perjalan mereka telah sampai di restoran tempat Toni melamar Dina waktu itu. Dina pikir ia hanya sekedar diajak makan siang oleh Toni.
"bukankah ini restoran waktu itu?" Dina turun dari mobil milik Toni
"iya...hari ini peresmian sekaligus pembukaan restoran ini" Toni menggandeng tangan Dina masuk ke dalam restoran
Semua orang menyambut mereka, Dina hanya tersenyum menanggapi sapaan orang-orang yang ia tidak kenal. Semua yang hadir di sana asing baginya hanya Ridwan yang ia kenal.
Toni menggandeng Dina duduk di kursi paling depan, tak seperti biasanya kali ini Toni terlihat lebih bersemangat. Semua orang yang baru datang menghampirinya dan mengucapkan selamat. Dina tak mengerti, dan ia pun hanya diam mengamati semua yang Toni lakukan.
__ADS_1
"memangnya siapa pemilik restoran ini?" bisik Dina
"sebentar lagi aku kenalkan...nikmati saja acaranya" Toni menyungginykan senyumnya
Dina berusaha acuh, ia mendengarkan band yang mulai menyanyikan lagu-lagu dan juga pembawa acara yang mulai melaksanakan tugasnya.
Tibalah ke acara inti, pembawa acara memperkenalkan siapa pemilik restoran itu. Dina tidak begitu terkejut, dari awal ia sudah menduga-duga jika Toni pemiliknya namun ia hanya diam, ia ingin Toni memberitahunya secara langsung.
Toni diminta ke depan untuk memberikan sambutan. Dina tersenyum bangga, ia melihat sisi lain Toni yang begity berwibawa memberikan sambutannya.
"saya membuka restoran ini karena terinspirasi oleh seseorang yang sangat spesial buat saya, dialah yang memberi saya ide untuk membukanya walaupun itu hanya sebuah candaan tapi kenapa tidak untuk mewujudkannya" ucap Toni sambil menatap Dina "maka dari itu saya menamakan restoran ini Lou~An resto diambil dari nama saya dan nama tunangan saya" Toni mengembangkan senyumnya kemudian ia berjalan ke arah Dina.
Toni mengulurkan tangannya pada Dina "dan juga restoran ini adalah hadiah pertunangan untuk tunangan saya" Toni menggandeng tangan Dina untuk maju ke depan.
Dina tak bisa berkata-kata, ia malu sekaligus marah. Ia malu karena Toni memperkenalkannya di depan umum jika dirinya adalah tunangan Toni. Dina marah, Toni memberinya hadiah yang terlalu mewah. Sebuah restoran, meskipun ia tidak tahu apakah benar atau tidak.
"sekarang tiba saatnya untuk pemotongan pita, mari Tuan Louis untuk menggunting pitanya" pembawa acara memberikaan gunting kepada Toni.
Pita telah terpotong, suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.
"oh....romantis sekali Tuan Louis ini..." ucap pembawa acara
Dina tersipu malu mendapat perlakuan Toni seperti itu. Sejenak ia melupakan rasa marahnya pada Toni. Toni benar-benar membuatnya menjadi seseorang yang diinginkan semua wanita. Begitu dicintai, diperhatikan dan disayangi.
Terkadang Dina merasa Toni seperti memiliki kepribadian ganda, ia bisa begitu lembut begitu penyayang namun ketika ia sudah cemburu ia berubah menjadi sosok yang menakutkan.
Semua orang memberikan selamat pada Toni dan Dina atas pembukaan restoran baru mereka. Semua tamu undangan begitu menikmati acara dan juga makanan dari restoran milik Toni.
"kamu pembohong...!" ucap Dina kesal
"pembohong..? Aku...?" Toni mengerutkan dahinya
"iya...kamu...!" ucap Dina ketus
__ADS_1
"kenapa Din?" Toni semakin bingung
"kamu membohongi aku, kemarin bilang restoran ini milik orang yang kamu kenal tapi nyatanya milik kamu" Dina meluapkan kekesalannya
Toni tergelak "oh...itu..." Toni terkekeh "memang benar kan....milik orang yang aku kenal...ini milik kita sayang...."ucap Toni lembut di akhir kalimatnya
Dina mengerucutkan bibirnya "ini terlalu berlebihan, ini milikmu bukan milikku"
"setelah kita menikah, akan jadi milik kita berdua" Toni menggapai pinggang ramping Dina
"aku tidak mau...aku nggak mau kamu memberi restoran ini untukku" Dina kesal
"sayang....ini tak ada harganya jika dibandingkan dengan apa yang telah kamu beri untukku" Toni menatap mata Dina
Dina masih kesal, ia tak menanggapi ucapan Toni. Ia tidak mau dianggap sebagai cewek matre, rela menjual dirinya demi kekayaan. Dina menyerahkan dirinya pada Toni karena cinta bukan karena harta.
"ayolah sayang....jangan marah...baiklah....restoran ini milikku dan ketika kita telah menikah kamu yang mengelolanya, begitu saja ya..." Toni merayu Dina
Dina masih membuang wajahnya, Toni menghela nafasnya "sayang....ayolah...jangan marah....aku hanya ingin memiliki usaha sendiri, bukan pemberian dari papaku....ini bisnis pertamaku...tolong bantu aku..."
Dina menghela nafasnya "baiklah....aku akan membantumu, tapi restoran ini tetap milikmu..." ucap Dina
"baik sayang..." dalam hati Toni tersenyum, ia tak akan mengubah kepemilikan restoran itu.
Ia telah mengatur, saat mereka resmi jadi suami istri restoran itu akan menjadi milik Dina. Dina tidak mengetahuinya, Toni tak ingin Dina tahu entah sampai kapan ia akan menyembunyikannya dari Dina.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1