
Semester ganjil berlalu, tugas akhir Dina seperti jalan di tempat. Karena masalahnya bersama Toni tempo hari membuat ia mengalami kebuntuan seolah-olah ia tak memiliki ide untuk mengerjakan tugas akhirnya.
Apalagi Raya, sekretaris Toni mengundurkan diri karena ia harus mengurus bayinya, membuat Toni memintanya untuk membantu menggantikan tugas Raya sementara waktu.
Berkali-kali Dina menolaknya, karena ia merasa ia belum mampu jika harus menjadi sekretaris pengganti. Namun beda menurut Toni dan Ridwan, Dina mampu menjadi pengganti Raya.
Sejak Raya mengundurkan diri, Toni menjadi pulang lebih larut, dan setiap pulang ia selalu menjemput Dina di kosnya dan meminta Dina menginap di rumahnya, alasannya karena Dina menolak menggantikan Raya.
Selama dua minggu Dina menuruti mau Toni, namun tugasnya semakin berat. Toni membawa pekerjaannya ke rumah, Dina harus menemani Toni lembur sampai dini hari.
Lama-lama Dina lelah, karena harus menuruti mau Toni yang aneh-aneh "sayang...carilah sekretaris baru....agar pekerjaanmu lebih ringan" ucap Dina sambil merebahkan dirinya di sofa ruang kerja Toni
"iya....sedang dalam proses, masih belum mendapat yang cocok" ucap Toni sambil membolak-balik kertas yang ia baca
"bukannya ada Ridwan?" ucap Dina
"Ridwan sudah lama aku pindah ke bagian keuangan" ucap Toni sambil membereskan kertas-kertas di mejanya
"sesulit itukah mencari sekretaris?" tanya Dina sambil memejamkan matanya
Toni berjalan menghampiri Dina "sulit mencari orang yang cekatan dan serba bisa seperti Raya....ada sih...yang bisa seperti dia, namun dia tidak bersedia..." ucap Toni duduk di sofa yany ditiduri Dina
"mungkin gajinya enggak cocok, coba kamu bicarakan lagi dengannya" ucap Dina santai
"ini aku sedang berusaha membujuknya...."
Dina membuka matanya "maksumu siapa....? Aku...?"
"iya sayang....ayolah....sementara saja, pekerjaanku sekarang sedang banyak-banyaknya aku nggak sanggup mengerjakan sendirian" rayu Toni
"baiklah....tapi ada syaratnya" akhirnya Dina mengalah, ia tak tega melihat Toni setiap hari lembur.
"apa sayang...?"
"selama aku membantumu, aku tidur di kosku, jangan antar jemput aku jika pergi ke kantor...aku bisa berangkat sendiri"
"baiklah....jika itu syaratmu..."
"dan satu lagi....setelah aku pulang ya...besok waktunya aku pulang ke rumah" ucap Dina
"sudah malam...tidurlah di kamar, nanti aku menyusulmu" ucap Toni lembut kemudian ia kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
.
Satu minggu setelah percakapan itu, Dina menepati janjinya. Pagi-pagi ia berangkat ke kantornya Toni menaiki motor kesayangannya. Dina memarkirkan motornya di tempat khusus karyawan.
Dina masuk ke dalam, keadaan kantor masih sepi. Dina duduk di meja biasa Raya duduk. Sudah lama Dina tak ke kantor itu, tak banyak berubah.
Dina berjalan ke arah pantry, ia ingin membuatkan teh untuk Toni. Pantry pun sama, masih sepi.
"kamu anak baru?" suara seseorang membuat Dina menoleh ke arah pintu
"aku menggantikan kak Raya...." ucap Dina tersenyum
"oh....sekretaris baru....kenalkan, aku Bagas....marketing..." cowok itu mengulurkan tangannya
"aku Dina...." Dina membalas uluran tangan Dina.
"nanti siang kita makan siang bersama ya...." ucap Bagas
Dina hanya tersenyum "aku duluan ya....takut bos sudah datang" Dina meninggalkan Bagas sendirian di pantry
"gadis yang menarik...." gumam Bagas menatap punggung Dina yang perlahan menjauh dari pantry.
Dina tersenyum kemudian berbalik "minumlah dulu selagi masih hangat..." ucap Dina
"minggu ini aku akan sering keluar kantor, kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal?" ucap Toni sambil meneguk minumannya
"kamu ini lucu, aku di sini kamu suruh kerja, sekarang malah tanya begitu" Dina terkekeh
"mungkin saja kamu takut aku tinggal" Toni terkekeh "banyak anak baru di kantor ini aku harap kamu bisa jaga diri"
"iya...aku di sini kerja.....bukan main....jadi jangan kawatir, aku keluar dulu, sepertinya kak Raya meninggalkan setumpuk pekerjaan" Dina meninggalkan ruangan Toni
Dina mengerjakan yang seharusnya dikerjakan oleh Raya. Meski ia sudah pernah melakukannya sebelumnya, Dina merasa sedikit kesulitan, tapi Dina berusaha mengerjakan sebaik mungkin.
"sayang....aku keluar dulu ke daerah X belum tahu sampai jam berapa, nanti kamu makan siang sendiri saja ya..." Toni berdiri di depan meja Dina sambil meletakkan setumpuk dokumen di meja Dina
"iya....hati-hati di jalan..." ucap Dina tersenyum menatap Toni
Dina kembali mengerjakan, setumpuk dokumen yang ditinggalkan Toni. "Non....bos sudah berangkat?" Ridwan sudah berada di depannya
"eh...kak Ridwan....sudah....baru saja...." ucap Dina tersenyum
__ADS_1
"apa ada kesulitan Non?" tanya Ridwan sopan
"sementara belum, nanti kalau aku bingung, aku boleh ke ruangan kakak kan?"
"tentu saja Non....non Dina di sini kan karena Raya mengundurkan diri, sudah seharusnya saya juga bertanggung jawab....kalau begitu saya permisi..." ucap Ridwan sopan
.
Jam makan siang pun tiba, Ridwan menghampiri Dina dan meletakkan bungkusan makanan di meja Dina. Dina bingung, kenapa tiba-tiba Ridwan memberinya makanan.
Kata Ridwan, Toni yang menyuruhnya untuk membelikan makanan untuk Dina, agar Dina tak repot keluar kantor untuk mencari makan siang.
"ayo Din....kita cari makan siang di luar" sapa Bagas membuyarkan konsentrasi Dina
"eh...Gas...aku makan siang di sini saja...kamu kalau mau makan di luar silahkan"
"kamu makan apa?" tanya Bagas penasaran
"ini" Dina menunjukkan bungkusan tadi yang diberikan oleh Ridwan
"oh...ya sudah kalau begitu" Bagas buru-buru meninggalkan meja Dina.
Sepuluh menit kemudian, Bagas kembali ke meja Dina dengan membawa bungkusan makanan juga. "katanya mau makan?" ucap Dina datar
"iya...aku makan di sini ya..." ucap Bagas menarik kursi kemudian duduk di depan meja kerja Dina
"kamu makan saja dulu, tanggung...tinggal sedikit lagi" ucap Dina sambil mengetik
Bagas memperhatikan Dina, ia menunggu Dina menyelesaikan pekerjaannya. Dina merasa risih, tapi ia juga tak ingin membuat keributan di sana. Ia di sana hanya sementara menggantikan Raya, sedangkan Bagas bekerja di sana.
Meski merasa tidak nyaman, Dina berusaha bersikap wajar. Ia tak tahu apa jadinya Bagas jika sampai Toni tahu, Bagas mencoba mendekatinya.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1