
Di luar ruangan Toni, Ridwan menghampiri Raya yang terlihat cemas. Wajahnya terlihat pucat, dan ketakutan. Bahkan wajahnya terlihat berkeringat.
"kamu kenapa?"
"sepertinya setelah ini aku akan dipecat oleh bos" ucap Raya yang matanya mulai berkaca-kaca
"memangnya kenapa?" Ridwan penuh tanda tanya
"non Dina baru saja datang, sedang di dalam kamu tahu ada siapa kan?"
Ridwan menghela nafas "kamu biarkan dia masuk begitu saja?"
"mau bagaimana lagi dia lewat begitu saja kemudian masuk ke dalam, aku takut mas..." air mata Raya mulai menetes
"biar aku yang...." ucapan Ridwan terhenti ada satpam yang berjalan ke arah mereka berdua
"mau kemana pak?" tanya Ridwan ketika satpam perusahaan berjalan seperti terburu-buru
"tadi ada yang menelpon ke bawah katanya saya disuruh keruangan pak Toni" ucap satpam itu
Ridwan dan Raya saling berpandangan, mereka tidak merasa menelpon satpam.
"siapa yang menelpon resepisonis pak?"
"bukannya Bu Raya yang menyuruh saya ke sini?" satpam itu bingung
"bukan..." Raya yang tadinya ketakutan perlahan ketakutannya menghilang. Ia malah dibuat bingung siapa yang menelpon satpam
"aku akan memeriksanya....ayo pak..." ucap Ridwan.
Ridwan mengetuk pintu ruangan Toni dan membukanya kemudian ia masuk diikuti satpam di belakangnya. Ia bisa melihat Toni yang beberapa hari belakangan sering marah-marah kini terlihat tak berkutik.
Ridwan ingin menenrtawakan Toni yang terlihat takut gugup dan wajahnya seperti ingin meminta tolong padanya.
"bos...katanya bos memanggil satpam" ucap Ridwan
Toni tak menjawab namun Dina yang menjawabnya "aku yang meminta satpam ke sini" ucap Dina datar
"oh...mbak Dina yang memanggil" ucap Ridwan.
Satpam itu kebingungan, siapa Dina sebenarnya, ia tak tahu karena ia baru satu bulan bekerja di sana. Ia tadi tidak memeriksa siapa saja tamu yang datang ke kantornya.
"pak...bawa...perempuan ini keluar...!" ucap Dina dingin
__ADS_1
Satpam dan Ridwan terlihat kebingungan, kenapa Dina yang memberikan perintah sedangkan Toni hanya diam. Mereka berdua menatap Toni penuh tanda tanya
"lakukan apa yang diminta Dina" ucap Toni dingin
"harusnya dia yang keluar dari sini! Aku tidak terima! Aku akan balas kalian semua!!" teriak Andini
"menurutlah agar kamu tidak mendapat malu di depan para karyawan!" ucap Dina dingin
"ayolah Ton....dia tak baik untukmu...! Jangan sia-siakan hidupmu dengan bersamanya" teriak Andini tidak terima
"ayo mbak..." ucap satpam sopan. Andini pun keluar dari ruangan Toni diikuti satpam. Ridwan pun juga ikut keluar, ia tak mau ikut campur dengan masalah Toni dan Dina. Sudah cukup hampir dua minggu ia menjadi sasaran kemarahan Toni.
Dina di sofa, ia diam tak satu katapun terucap dari bibirnya. Toni menjadi ketakutan, melihat Diam setelah apa yang terjadi.
"sayang...ujianmu sudah selesai?" Toni mendekati Dina
"sudah..." jawab Dina singkat
"aku tidak mengira kamu akan ke sini" ucap Toni berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia lebih baik menghadapi Dina yang cerewet dan suka mengomel daripada Dina yang diam.
"kenapa? Aku ingin memberimu kejutan tapi aku yang terkejut" Dina terkekeh
"sayang....itu tidak seperti yang kamu pikirkan..." ucap Toni dengan tatapan mengiba
"memangnya aku memikirkan apa?" ucap Dina santai
"Andini tiba-tiba datang ke sini aku tadi mau mengusirnya namun kamu sudah masuk terlebih dulu" terang Toni dengan perasaan was-was
"dan kamu membiarkannya duduk di meja kamu?! Itu sama saja tidak menghargai kamu!" Dina kesal
"iya...aku minta maaf, lain kali aku akan melarang dia masuk kantor ini" ucap Toni mengiba
"memang apa saja yang sudah dia berikan kepadamu sampai-sampai dia berani berbuat seperti itu?"
Toni menggeleng, tak ada yang Andini berikan kepadanya hanya rasa kesal dan marah menghadapi tingkah Andini yang sok berkuasa. Yang selalu seenaknya memandang rendah pada karyawannya.
"Toni...aku serius menjalani hubungan kita...sebelum kita terlalu jauh, aku akan bertanya sekali ini saja, tolong jawab dengan jujur, kamu masih mau melanjutkan hubungan kita ini?" Dina terpaksa menanyakannya karena bagaimanapun juga tak ada cewek yang mau dipermainkan perasaannya.
"aku serius sayang...sangat serius menjalani hubungan kita ini, jadi jangan berpikir aku tak pernah serius denganmu, aku mau menjalani hubungan kita ini seterusnya..." ucap Toni sungguh-sungguh
Dina menatap Toni mencoba mencari kebohongan di mata Toni, yang ia lihat Toni memang bersungguh-sungguh tak ada keraguan dalam ucapannya.
"baiklah...lanjutkan pekerjaanmu, aku pulang dulu" Dina beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya
__ADS_1
"hah...? Kenapa pulang?" Toni bingung
"kejutanku gagal...." Dina berjalan keluar dari ruangan Toni.
Toni mengejarnya "sayang....tunggu sebentar...."
Dina berhenti di depan meja Raya, menatap Raya dan Ridwan lalu tersenyum "Bos kalian seperti anak kecil" Dina terkekeh
Ridwan dan Raya terlihat lega melihat Dina tertawa di depan mereka "mbak Dina tidak tahu saja, dua minggu ini kami yang jadi sasaran amukannya" keluh Ridwan
"benarkah?"
"sayang...." Toni menggapai tangan Dina. Ridwan dan Raya pun terdiam mereka masih takut akan mendapat amukan dari Toni.
"aku mau pulang....kamu lanjutkan saja pekerjaanmu" ucap Dina ketus
"Wan...nanti suruh orang antar motor Dina ke rumah" ucap Toni sambil menarik tangan Dina pergi meninggalkan Ridwan dan Raya
"kuncinya bos...!"
"ada di mejaku!"
"kenapa kunci motorku ada di kamu?" Dina bingung
"kamu memang melupakannya atau sengaja melupakannya agar aku mengantarmu hemmm?" ucap Toni lembut
"Toni...!" Dina kesal
Toni membawa Dina pergi dari kantornya. Ia tak diantar ke kos atau ke rumah Toni namun ia membawanya ke sebuah restoran yang terletak di lereng gunung.
"kenapa membawaku ke sini?" ucap Dina ketus
"aku merindukanmu sayang....dua minggu tak bertemu membuatku tak enak makan" ucap Toni
"dua bulan saja bisa masak cuma dua minggu tidak bisa" cibir Dina
Toni tergelak, Dina telah kembali seperti semula. Ia takut Dina akan berlarut-larut marah padanya. Ia tak mau itu terjadi lagi. Membujuk Dina bukan hal yang mudah, tapi terkadang juga mudah hanya pandai-pandai membaca kondisi Dina saja
Kali ini Toni tahu bagaimana membujuk Dina agar tidak marah. Dina terlalu lelah menghadapi ujian, ia membutuhkan sebuah hiburan untuk menghilangkan rasa lelahnya. Dina sama dengan dirinya begitu menyukai pemandangan alam, apalagi yang masih alami.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g