Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 207 Hukuman


__ADS_3

Dina hanya tersenyum namun senyumnya penuh arti, entah kenapa ia ingin sekali membalas ucapan istri Jo itu. Sejujurnya ia sudah melupakan masalah itu, namun karena istri Jo kembali lagi berkata pedas, memori saat dirinya awal kuliah seolah terbuka kembali.


Ia ingat betul, dirinya pernah menjadi bahan gunjingan di kampusnya. Meskipun ia tidak bersalah, namun rasa malu itu tetap ada. Mahasiswa baru, namun telah memiliki skandal, sungguh memalukan bagi Dina.


Sebagian menganggapnya perebut pacar orang, karena Dina kembali lagi berpacaran dengan Bimo. Namun sebagian lagi acuh, dan menganggap Dina tak bersalah.


"oh...iya aku ingat....seingatku dulu kamu hamil entah anak siapa, pasti anak itu sekarang sudah besar...." ucap Dina santai namun begitu tajam.


Jo menatap istrinya itu, sedangkan Toni menatap Dina dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia tak menyangka Dina berbuat seperti itu, namun ia juga tidak tahu masalah apa yang mendasari Dina bisa bersikap seperti itu.


"kamu...!" istri Jo menunjuk wajah Dina dengan kilatan amarah di matanya


"jelaskan ada apa sebenarnya ini?" Jo bingung, ia tak pernah tahu apapun tentang istrinya itu, yang ia tahu istrinya itu pindah ke Singapura untuk ikut kedua orang tuanya.


"bukan apa-apa baby..." ucap istri Jo lembut "dia hanya iri padaku, karena aku lebih cantik darinya"


"dan kamu...hati-hati dengan ucapanmu, atau aku akan membuka aibmu pada semua orang!" Istri Jo menunjuk-nunjuk wajah Dina dengan telunjuknya


"Kak Riri... Kak Riri... aib apa yang mau kakak bongkar? Aku kira selama ini kakak sudah berubah ternyata belum" ucap Dina sinis


"sayang...sebenarnya ada apa dengan kalian?" ucap Toni lembut


"iya katakan Din..." Jo menahan emosinya. Di hari pernikahannya ia harus dikejutkan dengan kenyataan tentang istrinya itu


"kamu ingat dulu aku pernah menceritakan aku pernah dipermalukan di kampus? Dia ini yang mempermalukan aku untuk tuduhan yang tak pernah aku lakukan, seisi kampus mencibirku hanya karena ucapan kakak senior yang terhormat ini"


"aku masih tidak mengerti Din..." ucap Jo


"sayang...kamu tahu kan bagaimana Mas Bimo?" Dina menatap Toni, ia tahu Toni tidak suka dengan Bimo namun ia harus menceritakannya


"apa hubungannya dengan dia?" ucap Toni dingin, tangannya terkepal

__ADS_1


"kak Riri ini menuduhku merebut Mas Bimo darinya, dan saat itu ia mengaku sedang hamil anaknya"


Toni terperangah, kemudian menatap Riri dan juga Jo bergantian. Wajah Jo benar-benar terlihat shock. Toni menatap Dina penuh selidik, menatap matanya tak ada kebohongan di sana.


"benar kata Dina baby?" Jo menatap istrinya "benarkah kamu pernah hamil? Lalu dimana anak itu?" Jo mengguncang tubuh Riri


"maaf Jo, bukannya aku ingin mengacaukan hari pernikahan kamu, andai kak Riri tidak menuduhku aku tidak akan membuka cerita lamanya" ucap Dina tak enak hati


"tak apa Din...sepertinya aku harus berbicara dengan istriku ini" ucap Jo dengan raut wajah yang sulit diartikan "maafkan istriku ya Din..."


Dina mengangguk dan tersenyum kepada Jo. Toni masih berusaha menahan emosinya, di satu sisi ia merasa sakit hati dengan apa yang pernah dilakukan oleh Riri di sisi lain Riri adalah istri dari teman baiknya.


"benar sebaiknya kalian bicarakan berdua...." ucap Toni dingin "dan satu hal yang harus kamu ingat Nona...." Toni menatap Riri "aku tahu Bimo, aku tahu Dina, aku lebih percaya Dina daripada ceritamu...Dina tak pernah merebut siapapun, aku yang mengejar Dina bukan dia yang merebutku dari siapapun"


"aku minta maaf Ton..." ucap Jo menahan malu


"iya Jo...tak apa...kami permisi..." ucap Toni menggandeng Dina keluar dari tempat acara itu. Meski Toni bersikap biasa saja namun dadanya bergemuruh. Ia cemburu sekaligus marah. Ia tak menyangka Dina pernah dipermalukan begitu hebatnya.


Sesampainya di kamar hotel Toni menutup pintu dengan kencang ia melemparkan jasnya asal dan melepas dasi yang ia pakai. Dina berjengit kaget karena tiba-tiba Toni membanting pintu.


"kamu harus memberi penjelasan padaku..." ucap Toni dingin "namun sebelum itu...kamu harus dihukum" Toni langsung menyambar bibir Dina dengan rakus. Dina bingung, kenapa tiba-tiba Toni marah padanya.


Dina mendorong dada Toni "aku salah apa?" Dina bingung


"karena malam ini kamu begitu seksi" Toni mulai menciumi leher Dina dan mulai meraba-raba tubuh Dina "dan juga karena kamu menyebut nama mantanmu itu!" Toni semakin brutal menciumi Dina, bahkan ia sudah menurunkan dress yang dipakai Dina.


"tapi itu bukan salahku" Dina masih mencoba menahan agar Toni tidak kasar padanya, namun Toni menulikan pendengarannya, ia terus mencumbui dada Dina, namun Dina mencoba mendorong Toni.


Toni kembali mencium leher Dina dengan kasar sesekali menyesap meninggalkan banyak bekas di tubuhnya. Dina masih berusaha memberontak "sayang...jangan begini....aahhhhh" akhirnya ******* Dina lolos dari bibirnya karena Toni memainkan puncak gunung kembar Dina.


Toni menyeringai ia tahu Dina tak bisa menolak sentuhannya di bagian itu. Kemudian dengan langkah terburu-buru Toni mendorong tubuh Dina hingga terjatuh di atas tempat tidur.

__ADS_1


Ia menarik dress Dina hingga terlepas semua, kemudian ia merayap di atas tubuh Dina "kamu harus dihukum....aku tidak suka kamu menyebut namanya..." Toni menciumi bibir Dina dengan kasar tangannya tak tinggal diam ia memainkan titik-titik sensitif tubuh Dina.


Dina hanya bisa menjerit dan mendesah, ia dibuat tersiksa dengan sentuhan Toni karena seolah-olah Toni mempermainkan dirinya.


"Toni...i want it..." racau Dina karena sudah tak tahan


Toni menyeringai "apa sayang....?" Toni sengaja membelai inti Dina membuat Dina tak karuan


"i miss yours... I want it...! right now....." racau Dina sudah bergerak tak karuan ia sudah tak tahan ia menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.


"ok...baby...." Toni membuka bajunya dengan cepat, dan tanpa aba-aba ia menghentakkan miliknya hingga terbenam seluruhnya pada milik Dina. Dina hanya bisa menjerit merasakan penuh pada intinya.


Detik berikutnya Toni mulai menghentakkan pinggulnya dengan kasar. Ia melampiaskan kecemburuaannya, ia tak rela Dina menyebut nama mantannya.


Meski kasar namun Dina begitu menikmatinya, karena ia juga merindukan milik Toni. Sudah lama mereka tak melakukan penyatuan, hingga membuat Dina hanya bisa menjerit, mendesah, dan meracau.


Berbagai macam gaya mereka lakukan. Karena rasa cemburu yang begitu besar, Toni benar-benar menghajar Dina habis-habisan. Ia tak memberikan Dina jeda untuk beristirahat. Meski begitu tak ada raut terpaksa pada wajah Dina.


Bahkan Toni bisa melihat jika Dina menyukai permainan mereka yang kasar. Dan sesekali Dina memimpin permainan. Mereka bercinta hingga malam telah berganti pagi.


Hingga mereka benar-benar kelelahan dan akhirnya tertidur tanpa melepas penyatuan mereka. Sungguh gila hukuman dari Toni, membuat Dina tak berdaya kehabisan tenaga.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2