Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 38 Obrolan ayah dan anak


__ADS_3

Toni hanya menatap punggung Dina dengan tatapan sendu, ia dibuat bingung sikap Dina yang berubah-ubah. Toni melajukan motornya pulang ke rumahnya. Hatinya berkecamuk semua pertanyaan dan segala kemungkinan.


Dengan langkah gontai Toni masuk ke dalam rumahnya. Terlihat papanya sudah berada di rumah duduk di ruang keluarga sedang membaca koran.


"baru pulang?" tanya papanya Toni sambil melirik Toni yang baru datang


"tumben papa jam segini ada di rumah" ucap Toni datar sambil berlalu berjalan ke arah tangga


"Papa sudah lama tidak mngobrol dengan anak papa" ucap papanya Toni sambil melipat koran yang ia baca


"sini papa mau mengobrol dengan kamu" papanya Toni menepuk kursi sebelahnya


Toni tidak jadi naik ke kamarnya, ia berjalan menghampiri papanya. Dia duduk di kursi depan papanya.


"bagaimana sekolahmu?" tanya papanya Toni


"baik pa" jawab Toni datar


"anak papa sekarang ternyata sudah besar, sudah punya pacar" papanya Toni menarik kedua sudut bibirnya.


"Dina bukan pacarku pa..." ucap Toni dengam raut muka berubah menjadi sendu


"kalau bukan pacarmu, buat apa kamu sibuk antar jemput Dia?" papanya Toni mencibir Toni


"namanya juga usaha..." jawab Toni acuh


"usaha?" papanya Toni tergelak "terus sudah sampai mana usaha kamu? Dan bagaimana hasilnya?"


"memangnya papa...pengusaha yang selalu menghasilkan uang" ucap Toni ketus


Toni kesal karena diledek oleh papanya. Jarang bertemu dan menghabiskan waktu dengannya, sekalinya mereka berdua bisa mengobrol yang ada malah saling meledek.


"usaha itu tidak selalu menghasilkan uang...tergantung usahanya itu apa" papanya Toni terkekeh


"seperti kamu ini, berusaha mendapatkan perhatian Dina, apa yang sudah kamu usahakan demi dirinya, dan apakah yang kamu usahakan itu membuat apa yang kamu inginkan terwujud, itu yang dinamakan hasil usaha" terang papanya Toni


Toni hanya mendengarkan perkataan papanya. Ia merasa apa yang dikatakan oleh papanya itu ia sudah mengetahui semuanya, tidak perlu nasihat atau kata-kata bijak lagi.

__ADS_1


"berapa lama kamu mengenal Dina?" tanya papanya dengan nada serius


"sejak kelas satu pa" jawab Toni datar


"sejak kelas satu tapi baru sekarang kamu mendekatinya?" papanya Toni berpura-pura tak mengetahui apa yang terjadi dengan Toni dan Dina.


Ia sengaja melakukannya karena ingin membuka komunikasi dengan Toni. Selama ini pak Yanuar terlalu sibuk dengan bisnisnya dan tak pernah menghiraukan perkembangan anak-anaknya.


"bukan baru sekarang pa....dulu sudah pernah dekat tapi sekarang tidak lagi" jawab Toni sedikit kesal


"papa tidak mengerti apa maksud kamu Ton" ucap pak Yanuar dengan bersedekap dada dan menatap Toni


Toni akhirnya menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Dina. Sebenarnya ia sedikit tidak nyaman menceritakan permasalahannya, tapi ia juga ingin papanya membantunya. Pak Yanuar mencoba mendengarkan tanpa menyela cerita Toni. Ia ingin Toni bisa terbuka dengannya.


Pak Yanuar ingin memposisikan dirinya sebagai teman Toni yang menjadi tempatnya berkeluh kesah. Ia tidak ingin anaknya terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat. Apalagi sedang mengalami pubertas.


Sudah sedikit terlambat memang, tapi pak Yanuar ingin lebih dekat dengan anak-anaknya terutama Toni karena anak laki-laki.


"melihat Dina papa jadi teringat dengan adik kelas papa dulu waktu SMA" ucap papanya Toni sambil menerawang jauh "Dina punya kemiripan dengan adik kelas papa itu"


"apanya yang mirip pa?" tanya Toni penasaran


"namanya tante Vera pa..."


"vera....? adik kelas papa itu namanya Verawati Boediono" ucap papanya Toni dengan senyum tipisnya


"iya...kemungkinan itu tante Vera yang papa maksud" ucap Toni


"dari mana kamu tahu Ton?" tanya papanya Toni


"tante Vera mengenal mama, katanya mama itu teman bermain dan teman masa kecil mama" jawab Toni santai


"oh...jadi benar Dina anaknya Vera yang papa kenal" pak Yanuar terkekeh "pantas saja mirip sekali"


Pak Yanuar teringat waktu dia masih bersekolah. Waktu itu jaman putih abu-abu, papanya Toni menyukai mamanya Dina tapi tak pernah ditanggapi oleh mamanya Dina.


"kalau mendengar cerita kamu, papa beri saran untuk sementara waktu menjaga jarak dengannya, biarkan ia memulihkan hatinya" saran papanya Toni

__ADS_1


"tapi pa.... Nanti kalau didekati orang bagaimana?" protes Toni


"ya berarti kamu belum beruntung" papanya Toni terkekeh "kadang kala kita sebagai laki-laki itu harus tarik ulur jika mendekati cewek"


"tarik ulur bagaimana papa ini, yang ada kalau diulur ya lepas" Toni mengerucutkan bibirnya.


Pak Yanuar menghela nafasnya, jiwa muda Toni seperti dirinya waktu muda dulu. Ia teringat waktu mendekati mamanya Dina, terlalu ngotot yang akhirnya membuat mamanya Dina menjadi risih.


Bedanya dirinya dengan mamanya Dina belum sempat pacaran jadi percekcokan mereka tak berlarut-larut seperti Toni sekarang. Ia tahu betul Dina tak akan mudah didekati jika sudah terlalu kecewa.


Sifatnya hampir sama dengan mamanya Dina. Jika sudah kecewa ia akan enggan untuk dekat dengan orang yang mengecewakannya. Meski tetap mau berteman, tapi ia tak akan mau lebih dekat lagi hanya sekedar berteman baik.


"kalau kamu berpikiran seperti itu, ya sudah kamu yang lebih mengenalnya" pak Yanuar lebih memilih mengambil jalan tengah "papa hanya bisa memberi saran jangan terlalu memaksanya jika memang dia tidak nyaman"


"kalau Dina mau, ajak ke sini lagi papa ingin makan siang bersama kalian" ucap papanya Toni dengan kedua sudut bibir terangkat.


"kapan pa?" tanya Toni bersemangat "bukannya papa sangat sibuk?"


"papa ingin bekerja dari rumah untuk satu minggu ke depan" pak Yanuar berjalan meninggalkan Toni di ruang keluarga.


Toni bersemangat, papanya yang jarang perhatian dengannya kini mendukung apa yang ia lakukan. Meski tidak menyatakan secara langsung jika papanya menyetujui hubungannya denga Dina, tapi dari kata-kata yang tersirat menunjukkan jika papanya sudah sangat mendukung apa yang ia usahakan untuk Dina.


Toni masuk ke kamarnya, meski sempat mendapat sedikit penolakan dari Dina tapi ia senang mendapatkan dukungan dari papanya. Dan juga papanya mulai membuka komunikasi bersama dirinya.


Toni teringat, dia dengan papanya terakhir berbicara saat ia masih SD. Setelah itu lama mereka tak berbicara seperti ini lagi karena kesibukan papa dan mamanya.


Toni tinggal memikirkan sekarang apa yang selanjutnya akan ia lakukan agar Dina bisa kembali dengannya.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Dukung terus karya ini ya bestie

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya 'PACARKU ADIK KELASKU'


__ADS_2