
Dengan langkah lebar dan wajah yang terlihat emosi, orang yang baru datang itu menghampiri brankar Dina. Orang itu terlihat ingin sekali memghajar Toni yang masih duduk santai di sebelah brankar Dina.
"biar aku yang menyuapi Dina" ucap orang itu dingin
"tanggung, biar aku selesaikan tinggal sedikit lagi" ucap Toni tak kalah dingginnya tapi berusaha untuk tetap santai dan tak terpancing emosinya
Ia teringat dulu ketika mereka masih bersama, Dina tidak suka jika dirinya mudah tersulut emosinya. Sejak saat itu ia berusaha untuk bisa mengendalikan emosinya.
Dina hanya diam menatap datar ke arah mereka berdua yang memperebutkan siapa yang mau menyuapinya.
"sudah Ton, aku sudah kenyang" ucap Dina mendorong piring yang dipegang oleh Toni.
"ayo dihabiskan Din, biar kamu bisa cepat pulang" ucap Toni dengan nada lembut
Dina melirik ke arah orang itu, tampak menahan emosinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"lebih baik kamu pulang saja, jangan membuat Dina semakin sakit" ucap Toni datar sambil menyuapi Dina
"apa hak kamu di sini?! Aku pacarnya aku yang lebih berhak!" ucap orang itu mulai tersulut emosinya
"pacar yang telah membuat Dina masuk rumah sakit, pacar macam apa itu?!" ucap Toni sinis "lagipula mamanya meminta aku menjaganya sampai papanya datang" lanjutnya
Yang baru datang adalah Dendy, ia terlihat marah melihat Dina makan disuapi oleh Toni. Dua hari ia tak tahu kabar Dina dan sekarang ia melihat pemandangan tang begitu menyesakkan dadanya.
"kau....!" ucap Dendy menarik baju yang dipakai Toni
"sudah....sudah..!! kalau kalian di sini hanya mau membuat keributan sebaiknya pulang saja" ucap Dina datar
"aku akan tetap di sini sampai papamu datang Din" ucap Toni lembut
Dendy hanya bisa mengepalkan tangannya. Ia tidak mau kalah dari mantan pacar Dina.
Dina sudah menghabiskan makanannya, Toni tersenyum puas melihat wajah Dendy yang sedang menahan emosinya. Ia berbangga hati, karena bisa menyuapi Dina hingga makanannya habis.
__ADS_1
Ceklek...
Terdengar pintu dibuka, dan masuklah dokter muda yang merawat Dina. Dokter tersebut memeriksa Dina dengan teliti.
"apa ada keluhan?" tanya dokter muda itu
"masih sering sakit dok, apalagi kalau makan, terlalu lama berdiri dan ketika berbicara" ucap Dina
"hmm...berarti belum boleh pulang ya...tapi makannya bagaimana? Aku lihat piringnya kosong" ucap dokter itu tersenyum
"siang ini habis dok" ucap Toni
"ya harus habis...biar bisa cepat pulang, apalagi dari kemarin yang menunggu pacar pasti cepat sembuh" ucap dokter muda itu
Seketika wajah Toni memerah, ia tersenyum bangga karena dokternya Dina menganggap ia sebagai pacarnya Dina. Orang lain saja bisa melihat bagaimana pengorbanan Toni. Sedangkan Dina hanya bersikap biasa saja, ucapan dokter itu tidak berarti apa-apa. Ia pun melirik Dendy yang tampak tidak terima apa yang diucapkan dokter baru saja.
"kalau siang ini makannya sudah habis, besok bisa makan yang lebih keras lagi, nasi tim misalnya ya sust..." ucap Dokter itu sambil menulis sesuatu dalam buku rekam medis Dina
"baik dok...nanti saya pesan ke bagian dapur" ucap perawat yang mendapingi dokter itu
Toni merasa yakin jika karena kesabaran dan ketelatenannyalah Dina mulai pulih. Ia ingin menebus rasa bersalahnya dulu ketika Dina sakit malah ia abaikan. Ia ingin menebusnya sekarang dan berharap Dina mau membuka hatinya kembali untuknya.
Dina berusaha turun dari tempat tidurnya, ia ingin pergi ke toliet. Dendy melihat itu hanya diam saja, sedangkan Toni yang melihat Dina berusaha turun dari tempat tidur dengan sigap menghampiri dan membantu Dina.
"mau ke toilet?" tanya Toni
"iya" jawan Dina datar
Dendy terperangah, melihat Dina yang berjalan dipegangi oleh Toni. Ia tidak tahu kalau Dina ingin ke toilet
"biar aku saja" ucap Dendy merebut kantong infus yang dipegang Toni. Toni hanya tidak mau berdebat, apalagi Dina masih dalam kondisi lemah, ia membiarkan saja Dendy membantu Dina. Sedangkan Dina hanya diam saja tak berkomentar.
Setelah memastikan Dina masuk toilet dan menutup pintu toilet rapat-rapat Dendy menghampiri Toni.
__ADS_1
"jangan berani dekat-dekat dengan Dina" ucap Dendy dingin
"lucu....aku tahu apa yang kamu lakukan terhadap Dina" ucap Toni dengan tatapan sinis
"aku melihat kemarin kamu berbuat kasar ke Dina, aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi yang perlu kamu ingat Dina tidak akan jatuh sakit kalau ia tidak stres berat"
Toni menatap Dendy dengan tatapan penuh permusuhan, Toni tak habis pikir kenapa Dina lebih memilih Dendy daripada dirinya. Ia bertanya-tanya apa yang Dendy miliki yang ia tak miliki.
"tahu apa kamu tentang kami?" ucap Dendy mulai terpancing emosinya dan menarik baju Toni lagi
"aku memamg tidak tahu apa-apa, yang aku tahu, Dina sedang stres jangan menambah beban pikirannya" ucap Toni penuh penekanan "aku akan merebut Dina dari kamu"
"kau...." Dendy mengangkat tangannya yang terkepal hendak memukul Toni, tapi tidak berhasil pintu toilet terbuka dan terlihat Dina berjalan dengan lunglai sambil memegang kantong infus.
Toni hendak menghampiri Dina yang terlihat lemah berjalan keluar toilet, tapi ia kalah crpat dari Dendy. Toni lebih memilih mengalah, ia tak mau Dina marah padanya.
Toni teringat, tadi perawat sudah mengantar obat yang harus Dina minum. Ia pun mengambil obat dan membukanya satu per satu.
"kamu belum minum obatmu Din" ucap Toni mendekat sambil membawa obat yang harus diminum Dina dan segelas air
Dina menerima obat itu, kemudian meminumnya. Pandangannya hanya tertuju pada Dina, ia tak menghiraukan Dendy yang menatap mereka berdua.
Toni ingin menunjukkan bagaimana ia merawat Dina. Toni ingin Dendy sadar bahwa dirinya tak pantas menjadi pacar Dina. Dina terlalu berharga untuk disia-siakan, ia sudah lama menyadari itu.
"sekarang kamu isirahat, aku mau ke kantin dulu" ucap Toni dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Dina.
Sebenarnya Toni enggan meninggalkan Dina berdua dengan Dendy, tapi melihat Dendy duduk di sebelah brankar Dina membuat dadanya sesak.
Ia butuh udara untuk bernafas, agar sesak di dadanya hilang. Toni keluar ruangan dengan langkah yang terasa berat. Berat meninggalkan orang yang ia sayangi bersama cowok lain.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g