Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 107 Menunggu


__ADS_3

Apa yang telah mereka rencanakan untuk menghabiskan waktu libur mereka tak terpengaruh dengan munculnya Andini. Toni memasak bersama Dina, lebih tepatnya Toni yang memasak Dina yang meracik.


Mereka berdua tampak serasi di dapur. Mereka berdua tak menyadari jika mereka berdua sama-sama hobi memasak dan mencoba hal-hal baru.


Setelah selesai mereka pun memakannya, dan mereka berdua puas dengan hasil karya mereka. Setelah selesai makan mereka berdua tertawa bersama.


"sepertinya setelah ini kita buka restoran saja " ucap Dina sambil tertawa, namun dianggap serius oleh Toni. Kini Toni mendapatkan ide, untuk membuka usaha barunya.


"ide bagus itu..." Toni mengembangkan senyumnya


"jangan dianggap serius, aku cuma bercanda" Dina mendadak serius, Toni hanya tersenyum lembut.


.


Semester baru pun telah dimulai, Dina kembali sibuk dengan kuliahnya. Ia ingin fokus menyelesaikan sisa mata kuliah yang belum ia ambil, dan juga memperbaiki nilai-nilainya, agar di semester depan atau paling lambat ia dua semester lagi ia bisa skripsi.


Toni pun juga sekarang sudah resmi menjadi mahasiswa magister menejemen di kampus yang sama dengan Dina. Selain itu ia juga sibuk mengurus perusahaan, namun di sela-sela kesibukannya, ia masih menyempatkan waktu untuk menemui Dina.


Terkadang ia menjemput Dina kuliah jika mereka ada jam kuliah yang berbarengan. Hubungan mereka berdua semakin dekat, namun tak ada status di antara mereka.


Meski mereka berdua semakin dekat, namun Dina masih bebas melakukan apa yang ia sukai, pergi bersama teman-temannya tidak seperti dulu waktu Dina dekat dengan Bimo, ia merasa terkekang.


Toni ingin Dina dengan sendirinya menyadari perasaanya pada Toni. Toni yakin jika Dina perlahan mulai membuka hati untuknya. Toni bisa melihat dari sikap, perilaku dan tatapan Dina saat bersamanya.


Meski begitu, Dina merasa ia masih bebas, ia bisa pergi dengan siapa saja kemana saja. Toni tak membatasi ataupun mengawasinya. Dina bebas, karena mereka berdua belum memiliki ikatan dalam hubungan mereka. Teman-teman Dina menyebut mereka teman tapi mesra.


Namun, saat Dina sendirian, tanpa ada siapapun di dekatnya ia merasa kesepian. Ia merindukan memiliki pacar yang selalu perhatian, selalu ada untuknya. Tapi ia juga masih takut membuka hatinya untuk orang lain.


Hati dan pikirannya tak pernah sejalan. Dalam hatinya, ia ingin memiliki pacar yang pengertian, temannya berkeluh kesah, namun pikirannya selalu mengingatkan akan kekecewaan ditinggalkan oleh pacarnya terdahulu.


Satu minggu terakhir, Toni mendatangi Dina setiap hari, terutama di sore hari setelah jam kerja. Toni mengajaknya berjalan-jalan, berkeliling, mengajaknya ke rumah dengan dalih merindukan masakan Dina.


Mereka berdua semakin dekat, semakin akrab. Toni hanya menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan perasaannya kembali. Tapi ia juga masih berpikir Dina akan menjauh darinya jika ia mengungkit masalah perasaannya.


Toni mengambil gitar, ia duduk di meja makan menunggu Dina yang sedang memasak untuknya. Toni pun mulai memetik gitar dan menyanyikan lagu untuk Dina.


Oceans apart, day after day

__ADS_1


And I slowly go insane


I hear your voice on the line


But it doesn't stop the pain


If I see you next to never


How can we say forever?


Wherever you go, whatever you do


I will be right here waiting for you


Whatever it takes or how my heart breaks


I will be right here waiting for you


waiting for you....


(Richard Marx ~ Right here waiting)


Dina mendengarkan nyanyian Toni, ia menitikkan air mata namun cepat-cepat ia hapus, ia tak ingin Toni menyadari jika Dina sedih mendengar Toni bernyanyi dari hatinya.


Dina tak menyangkal jika ia mulai jatuh cinta lagi pada Toni. Namun pikirannya selalu mengingatkan dia pada masa lalu, masa dimana Toni lebih mementingkan teman-temannya daripada dirinya.


Dina butuh waktu, untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau memang sudah saatnya ia mengubur ingatannya akan masa lalu, mengubur dalam-dalam perasaannya pada Dendy. Entah sampai kapan Dina akan meyakinkan dirinya untuk menerima Toni kembali.


Setelah makan malam bersama Toni di rumahnya, Dina pulang ke kosnya, jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Dina melangkah menaiki tangga dengan perasaan campur aduk. Ia bingung, ia bimbang apakah ini memang sudah saatnya, ataukah ia hanya terbawa perasaan karena Toni menyanyikan lagu yang meyayat hati.


"baru pulang?" tanya Tere di ujung tangga


"iya kak..." ucap Dina lesu


"kamu kenapa?"


"aku bingung kak..." ucap Dina masuk ke kamar Tere

__ADS_1


"bingung apa lagi?" ucap Tere membereskan kertas-kertas yang berserakan di kamarny


"aku bingung harus bagaimana dengan Toni" ucap Dina lesu


"memangnya kenapa?"


"ya bingung saja.... Aku harus menerimanya atau menjauh darinya" Dina merebahkan tubuhnya


"sekarang perasaanmu ke dia bagaimana?"


"entahlah...kadang sedih kalau ia tidak menghubungiku, tapi ketika ia mengirim pesan singkat aku merasa bahagia"


"kalau kamu memang mulai membuka hatimu padanya jangan kamu lawan Din..."


"tapi...Dendy...?"


"kenapa bahas Dendy lagi? Ini sudah dua tahun Din...dan dia tak pernah sekalipun mencari kamu, sampai kapan kamu menunggunya!" Tere kesal


Dina menggelengkan kepalanya "aku masih takut kak..."


"apa yang kamu takutkan? "


"aku akan kecewa lagi, jika aku pacaran dengan Toni" ucap Dina lirih


"yang aku lihat, dia benar-benar menunjukkan penyesalanny Din, di saat kamu sakit siapa yang merawatmu? Dia kan?! Selama ini siapa yang selalu ada untukmu? Dia kan?!" Tere mencoba membuka pikiran Dina


"tidak adakah sedikit saja rasa sayangmu untuknya?"


"sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu Din! Apa yang kurang dari Toni? Setahuku dia seseuai kriteria cowok idaman kamu, jadi kamu menunggu apa lagi? Menunggu ada yang merebutnya darimu?!"


Tere kesal, sejak pertama ia bertemu Toni, ia tahu Toni tulus mencintai Dina. Ia tahu Toni tidak seperti Bimo yang terkadang terkesan kasar dan pemaksa. Semua penilaiannya terjawab waktu Dina sakit, Tonilah yang terlihat begitu panik, padahal Tere sendiri tahu apa yang harus dilakukannya ketika Dina sakit seperti itu.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2