Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 182 Cerita lalu Toni (1)


__ADS_3

Karena terlalu lelah mereka berdua tertidur hingga tak menyadari jika matahari mulai meninggi. Dina mengerjapkan matanya karena terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui sela-sela gorden.


Tubuhnya terasa remuk, ia tak ingin beranjak dari tempat tidur. Hari ini ia ingin bermalas-malasan apalagi saat ini ia sedang dipeluk oleh orang yang telah ia pilih sebagai calon pasangan hidupnya.


Toni yang begitu memanjakannya, yang begitu perhatian padanya telah berhasil menggeser posisi Dendy di hati Dina. Meski rasa itu masih tetap ada namun ia tidak pernah berharap lagi untuk bisa kembali bersama Dendy.


Dendy telah menghilang darinya, tiba-tiba hadir dan kemudian menghilang lagi. Membuat Dina yakin jika Dendy memang sudah tak memilik perasaan padanya dan tak ingin memperjuangkan cinta Dina.


Kini orang yang sedang mendekapnya erat penuh dengan cinta itulah yang telah dengan mantap ia pilih menjadi masa depannya. Kini bagi Dina, Dendy hanyalah serpihan masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam di hatinya. Tak bisa dipungkiri jika rasa itu masih ada namun kenyataanlah yang membuatnya sadar jika rasa itu sulit untuk diperjuangkan.


Dina menatap wajah seseorang yang dulu pernah ia tolak dan hindari karena rasa sakit di hatinya. Kini wajah itu yang selalu menghiasi hari-harinya. Wajah berbentuk oval dengan hidung mancuny mata sipit terlihat begitu sempurna. Tubuh tegap, tinggi berkulit putih bersih wanita mana yang tak tertarik dengan pesonanya.


Dina merasa begitu beruntung dicintai oleh laki-laki yang begitu sempurna itu. Bukan ketampanan dan harta Toni yang Dina jadikan pertimbangan untuk menyerahkan dirinya kepada Toni, namun cinta Toni yang begitu besar, perhatian serta kelembutannya membuatnya menjadi perempuan yang begitu spesial.


Lama Dina mengagumi wajah Toni, ia tak tahu jika sedari tadi Toni juga sudah bangun. Toni sengaja tidak membuka matanya, ia tak ingin mengganggu Dina yang sedang menatapnya penuh cinta.


"kenapa memandangiku dari tadi?" mata Toni masih terpejam


"siapa yang memandangimu...terlalu percaya diri" Dina merubah posisi tidurnya


"sudah mengaku saja...aku memang tampan, dan wajah yang tampan ini hanya milikmu" Toni mengecup pipi Dina


"aku masih penasaran dengan cerita Deni tentangmu" Dina mengalihkan pembicaraan


"yang mana?" Toni mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di leher Dina


"tentang kamu sewaktu di kampus dan cewek-cewek yang mengejarmu"

__ADS_1


"itu...tak perlu dibahas" Toni terkekeh


"aku ingin tahu bagaimana masa lalu kamu, aku nggak ingin setelah kita menikah lagi tiba-tiba ada yang datang dan mengaku punya anak denganmu" cibir Dina


"sayang...percayalah, nggak akan ada yang mendatangi dan mengaku seperti itu" Toni mengubah posisi tidurnya menghadap Dina


"kalau begitu ceritakanlah..." Dina membalik badannya menghadap Toni


"baiklah...setelah aku cerita kamu berjanji tak akan marah dan meninggalkan aku?" Toni kawatir


"iya...aku janji asal kamu jujur, meskipun itu menyakitkan aku tidak akan marah" Dina menatap mata Toni lekat-lekat


"sejujurnya kamu bukan yang pertama untukku" Toni menjeda ucapannya melihat wajah Dina yang berubah menjadi sendu "tuh... kan....kamu marah"


"enggak...aku nggak marah...lanjutkan" Dina menutupi rasa kecewanya


"sayang....lebih baik aku mendengarnya dari kamu sendiri daripada aku tahu dari orang lain, itu akan lebih menyakitkan"


Toni berpikir memang benar apa yang diucapkan oleh Dina. Lebih baik ia membuka sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun ia simpan hanya dirinya dan Roy yang tahu masalah itu. Namun ia juga takut Dina akan berubah pikiran ketika mengetahui cerita yang sebenarnya.


"baiklah...memang sudah saatnya kamu tahu tentang diriku, sisi gelap dari diriku" Toni menghela nafas, ia merebahkan tubuhnya ia menatap langit-langit kamar yanh ia tempati saat ini.


"aku pernah melakukannya dua kali sebelum dengan dirimu" Toni menjeda ucapannya ia menoleh ke arah Dina yang menatapnya dengan tatapan kecewa


"kamu ingat Fara?"


"hemm...aku lupa..." jawab Dina

__ADS_1


"Fara adik Bian yang dulu sempat menerormu...kamu pasti ingat" ia masih menatap Dina dan dijawab anggukan oleh Dina


"dia yang pertama bagiku" Toni kembali menatap langit-langit "waktu itu aku masih kelas tiga, dia selalu menggodaku....sebenarnya aku tidak tergoda karena di hatiku masih ada kamu namun...setelah aku tahu jika Bian dan Fara yang telah sengaja menghancurkan hubungan kita, aku sudah tak kuat menahan emosi"


"kamu tentunya masih ingat aku yang dulu, yang mudah sekali tersulut emosi, saat itu aku gelap mata, aku ingin membalas dendam pada mereka berdua, setiap aku mengingat kamu yang menangis yang selalu menghindariku, aku semakin membenci mereka"


"berarti kamu telah mengambil keperawanan Fara? Kamu jahat Ton..." sela Dina


"dengarkan aku dulu....jangan kamu menyela ceritaku, aku akan menceritakan semuanya padamu, setelah itu terserah bagaimana penilaianmu"


"terus..." Dina masih menatap Toni


"aku tahu Fara itu bukan cewek baik-baik, ia cewek liar, di umurnya yang masih lima belas tahun ia sudah mengenal minuman keras, dan juga berganti-ganti pacar"


"aku bukan membela diriku, bukan juga menjelek-jelekkan dirinya namum aku tahu betul, dan aku beberapa kali menyaksikan mereka berpesta minuman keras dan Bian yang selalu mengundang cewek-cewek ke rumahnya untuk berpesta dan selalu diakhiri kamu tahulah Bian itu cowok normal"


"aku ingin membalas dendam pada Bian dengan cara mempermainkan adiknya sebelumnya tak terpikirkan olehku untuk melakukannya, aku ingat betul saat itu aku habis latihan basket, ia menggodaku, sekuat tenaga aku menahannya, aku mengantarkannya pulang ke rumahnya"


"namun aku seperti dijebak saat itu, rumahnya sepi tak ada seorangpun di sana, aku berusaha menahan diriku agar tak tergoda, ia sudah seperti cewek yang menjajakan tubuhnya yang menari-nari dengan tubuh telanjang di depanku, aku sudah berusaha membuat ia sadar dan menyudahi aksi gilanyanya itu, namun ia semakin liar, bahkan ia sambil meminum minuman keras"


Dina masih memperhatikan raut wajah Toni yang terlihat marah dan ada guratan kesedihan di wajahnya. Ia terkejut mendengar cerita Toni. Ia tak pernah berpikir akan membalas perbuatan orang-orang yang telah menyakitinya.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2