
Keesokan harinynya, pukul dua siang mereka berangkat ke bandara. Tadi pagi tiba-tiba saja koper Dina sudah berada di kamar yang mereka tempati. Dina memang sengaja hanya membawa pakaian sedikit karena ia tak tahu jika akan pergi berbulan madu.
Di sebelah koper miliknya ada sebuah koper lagi. Dina belum sempat membukanya katanya itu dari Vanya. Dina percaya saja jika kakak iparnya itu telah menyiapkan baju-bajunya.
Dina memang ingin membukanya, namun dilarang oleh Toni. Dina hanya ingin meneriksa berapa banyak baju yang telah Vanya siapkan untuknya. Namun Toni malah menyuruh Dina untuk mandi dan ia berjanji akan memasukkan pakaian yang Dina bawa dari rumah ke dalam koper yang disediakan Vanya.
Dan sekarang di sinilah Dina dan Toni di bandara keberangkatan internasional. Mereka menunggu pesawat yang akan membawa mereka ke Maldives berangkat.
Ya, tuan Yanuar telah mengatur bulan madu anak-anak mereka ke negara kepulauan yang terkenal dengan keindahan pantainya. Tuan Yanuar telah berpesan pada Toni agar segera memberikannya cucu, Toni hanya menjawab akan ia usahakan karena sampai saat ini Dina masih meminum pil itu.
Meski ia sempat yakin jika Dina mungkin kini sedang hamil, namun ia masih berusaha untuk tak terlalu berharap, ia takut kecewa. Toni sudah merasa yakin karena pernah melakukannya dengan Dina saat sedang masa subur dan saat itu pun ia lupa meminum pilnya.
Ia semakin yakin sewaktu hari pernikahan mereka, seharusnya hari itu Dina sedang datang bulan, namun Dina masih bisa bercinta dengannya. Tapi Toni masih berusaha untuk tak terlalu berharap meskipun ia sudah menghitung semuanya.
Pesawat yang akan mereka tumpangi pun sudah menunggu di landasan pacu. Semua penumpang dimohon untuk segera naik ke atas pesawat. Toni menggenggam tangan Dina erat-erat, ini perjalanan pertama mereka pergi ke luar negeri, sekaligus pengalaman pertama naik pesawat bagi Dina.
"kalau kamu takut, pejamkan matamu" Toni menggenggam tangan Dina erat-erat saat pesawat sedang lepas landas. Dina memejamkan matanya, ia sedikit takut ketika pesawat mengalami sedikit goncangan.
"bukalah matamu" ucap Toni lembut perlahan mengendurkan genggaman tangannya "lihatlah keluar"
Dina menoleh ke arah jendela, benar pemandangan yang begitu menenangkan, berada di atas awan yang terlihat lembut seperti kapas. Dina takjub, namun masih ada sedikit rasa takut.
"tidurlah....perjalanan kita akan lama" ucap Toni kemudian menarik kepala Dina dan menyandarkannya di bahunya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga belas jam, mereka pun sampai di Maldives dan di sana masih gelap. Toni mengajak Dina untuk segera pergi ke resort yang akan mereka tempati selama di sana.
__ADS_1
Mereka sampai di resort ketika matahari hampir terbit. Seorang bellboy mengantar mereka ke sebuah bungalow yang berada di atas perairan.
Dina segera merebahkan tubuhnya, ia begitu lelah setelah perjalanan panjang ke tempat itu. "sayang sebentar lagi matahari akan terbit, apa kamu tidak ingin melihatnya?" ucap Toni sambil meletakkan koper-koper mereka di dalam lemari.
Dina beranjak dari tempat tidur kemudian ia keluar dan menikmati cahaya kuning yang mulai terlihat di ufuk timur. Toni pun memeluk Dina dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Dina.
"indah sekali..." ucap Dina dengan mata berbinar
"kamu menyukainya?" tanya Toni lembut
"tentu saja...kamu tahu betul aku menyukai alam"
Setelah matahari terbit, mereka berdua pun masuk kembali ke kamar mereka. Dina membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, sedangkan Toni memesan sarapan untuk mereka berdua.
Dina keluar dari kamar mandi, wajahnya tampak lebih segar, kemudian ia berjalan ke arah lemari dan mulai mengeluarkan kopernya. Dina membukanya dan betapa terkejutnya dia dengan apa yang ada di dalam koper.
"kenapa bajunya begini semua?" Dina menunjuk kopernya
Toni terkekeh "entahlah Vanya, sudah pakai yang ada saja, lagipula kita di sini untuk berbulan madu jadi tidak masalah jika kamu memakainya"
Dina mengerucutkan bibirnya, mau tidak mau ia memakai pakaian kurang bahan pemberian kakak iparnya itu. Untung saja Toni sudah memasukkan beberapa baju juga yang sempat ia bawa dari rumah.
Mereka berdua menikmati sarapaj yang telah Toni pesan. Dina sedikit tidak nyaman karena ia harus memakai pakaian yang tipis, padahal ia ingin berkeliling menikmati pemandangan.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Toni pun membersihkan diri. "Aku ingin tidur badanku lelah sekali" ucap Dina naik ke ataas tempat tidurnya
__ADS_1
"baiklah...." Toni masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit kemudian ia telah selesai, ia keluar dari kamar mandi hanya memakai segitiga pengaman saja, ia tampak tersenyum melihat Dina yang sudah terlelap padahal matahari sudah meninggi.
Toni pun naik ke atas tempat tidur, ia memeluk Dina dan ikut memejamkan matanya. Ia juga merasa lelah, setelah acara pernikahan dan juga begadang karena meluapkan kebahagiaan, ia harus melakukan perjalanan jauh. Kini ia ingin beristirahat sebelum nantinya ia menikmati bulan madunya bersama Dina.
Dina mulai mengerjapkan matanya, ia menoleh ke arah samping, menatap Toni yang tertidur hany memakai segitiga pengaman saja. Tiba-tiba pikirannya dipenuhi hal-hal mesum ketika meihat tonjolan di pangkal paha Toni.
Wajah Dina memerah, ketika ia membayangkan pergulatan panas yangs sering mereka lakukan. "kenapa memandangiky hem?" ucap Toni masih belum membuka matanya
"aku hanya memastikan kamu sedang tidur nyenyak"
"oh...aku kira kamu sedang ingin ......"
"dasae mesum...." Dina membalik tubuhnya memunggungi Toni. Ia sekuat tenaga menahan malunya karena terpergok menatap milik Toni.
"kenapa hemmmm.....?" Toni menciumi punggung Dina dan mulai meraba benda kenyal yang menjadi favoritnya dan memainkan puncaknya.
Dina pun menikmati setiap sentuhan suaminya itu. Dan mereka pun mulai mekakukan penyatuan diiringi suara deburan ombak di sekeliling mereka. Jeritan, desa han dan juga era ngan mereka tertutup suara deru angin laut serta suara ombak yang berkejaran.
Toni pun menumpahkan benih bibir unggulnya ke dalam rahim Dina, sambil berharap semoga salah satu dari bibitnya itu berhasil tumbuh dalam rahim Dina. Dian yang kelelahan pun mulai tertidur kembali. Toni mengusap pelan perut rata Dina
"apa kamu sudah tumbuh di sini boy?" Toni membelai lembut perut Dina, ia sangat menginginkan anak pertamanya adalah laki-laki. Ia akan terus berusaha hingga berhasil.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g