
Toni masih menggendong Dina menanti lift terbuka. Dina mengalungkan tangannya pada leher Toni. Toni mendengar suara dari arah belakang, melihat Vanya yang mengandeng Bimo, Toni mendengus kesal.
Dina yang tahu Toni kesal kemudian tangannya menyentuh pipi Toni dan membelai lembut "ini malam kita" Toni tersenyum, akhir-akhir ini Dina lebih agresif dari biasanya, bahkan terkadang Dina dulu yang menggoda dan meminta bercinta lebih dulu.
Tingg....
Pintu lift terbuka, Toni segera membawa Dina masuk kemudian ia segera menekan tombol menutup pintu lift agar tak ada yang ikut bersama mereka. Ia tak mau diganggu orang lain.
"sayang...turunkan aku..." ucap Dina lembut
"tidak..." tolak Toni kemudian mencium lembut bibir Dina.
"ayolah....turunkan aku sekarang" rengek Dina, Toni pun menuruti permintaan istrinya itu. Dina berdiri di hadapan Toni dan mengalungkan tangannya pada leher Toni.
Dina mulai mencium bibir Toni dengan lembut "terima kasih sayang....aku mencintaimu...." ucap Dina tersenyum
"love you more baby..." Toni kemudian mencium bibir Dina lembut dan sedikit **********, namun tangannya meremas bokong Dina. Dina pun terpancing ia semakin memperdalam ciuman itu kemudian melepaskannya
"sial....kenapa liftnya lama sekali" umpat Toni "aku sudah tak bisa menahannya sayang...."
"sabar...kamar kita berada di lantai paling atas..." Dina mengerling nakal pada suaminya itu
"kamu semakin nakal ya...." Toni meremas kedua gundukan yang terlihat menantang di depannya, membuat Dina melenguh.
Ting....
Pintu lift terbuka, Toni mendorong Dina keluar dari lift, sepanjang lorong Toni menciumi Dina dengan rakus. Mereka tak kawatir akan ada yang mengganggu mereka karena di lantai itu hanya mereka yang menempati. Toni membuka pintu kamar dengan bibirnya tak lepas dari bibir Dina.
Brakkk....
Toni menutup pintu dengan kakinya, kemudian mendorong Dina masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan yang tadi siang berantakan banyak perlatan make up kini telah rapi.
Toni mendorong Dina dengan tak melepas ciumannya ke depan pintu kamar yang berada dalam ruangan itu. Di depan pintu kamar, Toni berhenti dan melepas ciumannya. Ia menarik selembar kertas yang ditempel di pintu.
'Selamat menikmati kado dari aku
Vanya'
Dina menoleh, dan meraih kertas itu, ia binguny kado apa yang dimaksud oleh Vanya. Kemudian ia menarik gagang pintu dan membukanya.
Kamar pengantin mereka telah dihias dengan banyak bunga mawar merah, dan di atas tempat tidur banyak kelopak bunga warna merah bertebaran dimana-mana, dan ada rangkaian bunga membentuk inisial mereka berdua.
Lampu-lampu kecil berbentuk lilin berada di sekeliling kamar itu. Membuat suasana semakin romantis, bahkan tirainya pun dihias dengan rangkaian bunga mawar merah.
__ADS_1
Dina masih takjub dengan dekorasi kamar pengantin mereka. Namun fokus Toni bukan pada bunga-bunga itu, matanya melihat sebuah lilin berwarna merah berada di nakas sebelah tempat tidur yang sudah menyala setengahnya.
Toni tersenyum, ia tahu apa arti kado yang Vanya maksud. Ia tahu itu lilin apa dari aromanya yang menguar di kamar itu berbeda dengan aroma bunga-bunga yang bertebaran di sana.
Toni menatap Dina yang masih mengamati kamar itu. Kemudian ia mendekati Dina dan memeluknya dari belakang. "kamu harus aku hukum malam ini, kamu sudah berani berpakaian seksi seperti ini" ucap Toni dengan suara beratnya
Dina membalik badannya "siapa takut...." ucap Dina dibuat seseksi mungkin.
Toni langsung mendorong tubuh Dina hingga jatuh ke atas tempat tidur, dan kemudian menciumi Dina dengan penuh gairah. Dina pun membalasnya tangannya membuka kancing baju, kemudian menarik resleting celana milik Toni dan menurunkannya.
"kamu nakal ya...." Toni melepaskan semua yang mempel di badannya. Kemudian ia merangkak naik ke atas tubuh Dina dan mulai bergerilya di tubuh Dina. Din melenguh, ia tak tahan dengan sentuhan Toni.
Toni menarik dress Dina hingga terlepas, kemudian ia melepas semua penghalang di tubuh Dina. Ia mulai menjelajahi setiap inci tubuh istrinya itu.
Dan tangannya berakhir di bawah sana. Satu tanggannya bermain-main di bawah sana sedangkan bibirnya terus menyesap puncak benda kenyal itu.
Toni memasukkan dua jarinya, mengobrak-abrik pertahanan Dina. Dina menjerit ia benar-benar gila dengan sentuhan suaminya itu. Dan akhirnya tubuhnya mengejang disertai teriakan dari bibirnya "ahhh....." Dina merasakan pelepasannya
Toni tersenyum, ia tak akan memberikan jeda sedikitpun pada Dina, ia kemudian membuka lebar-lebar kedua tungkai Dina, dan mulai memainkan milik Dina dengn lidahnya.
"ah...ah...ah..." hanya itu yang keluar dari bibir Dina. Belum juga usai dengan pelepasannya, ia telah dihujani kenikmatan yang lainnya.
"Oh....hentikan...sayang....aku...." Dina bergerak tak karuan menikmati sapuan lidah Toni "i want you...now....please...."
"aku mau itu sayang...." ucap Dina menunjuk benda tak bertulang milik Toni dengan mata sayunya
"baiklah...." ucap Toni dengn seringainya "tapi nanti...aku mau memghukummu sayang..." Toni melanjutkan sapuan lidahnya hingga Dina merasakan pelepasannya yang kedua.
Toni kembali akan mempermainkan Dina lagi, namun Dina yang sudah tak bisa menahannya, akhirnya membalik posisi mereka dan tanpa aba-aba Dina langsung memasukkan benda tak bertulang milik Toni itu pada miliknya.
"ahh...kamu nakal sayang... " Toni menggeram
"kamu terlalu lamban" Dina kemudian mulai bergerak liar dia atas Toni. Entah sampai berapa kali Dina mendapat pelepasannya.
Toni pun membalik posisi mereka, dan menghujani Dina dengan segala kenikmatan, hentakan demi hentakan ia berikan, ia senang Dina bisa mengimbangi permainnya.
"aku akan menghukummu sayang" ucap Toni di sela-sela hujamannya "aku akan membuatmu tak bisa berjalan besok pagi, aku akan mengurungmu seharian"
"siapa ta..kuutt..." ucap Dina di sela-sela kenikmatan mereka.
Entah berapa kali mereka meraih puncaknya, hingga pagi menjelang mereka baru mengakiri percintaan mereka. Nafas Dina terengah-engah, keringat membanjiri tubuh mereka.
Toni ambruk di ataas tubuh Dina "i love you my wife" Toni mengecup lembut dahi Dina "kamu memang luar biasa" Toni menggulingkan badannya ke samping tanpa melepas penyatuan mereka
__ADS_1
"i love you too my husband" ucap Dina lirih yang mulai kehilangan tenaganya
"kado dari Vanya benar-benar hebat" gumam Toni yang masih di dengar oleh Dina
"memangnya apa?" Dina sudah setengah sadar
"besok kamu juga tahu" Toni menari Dina ke dalam pelukannya kemudian mereka tertidur ketika ayam mulai berkokok, padahal mereka masuk ke kamar sekitar pukul setengah dua dinihari.
Tak berbeda keadaannya di kamar yang Vanya tempati, ia dan Bimo melewati malam panas mereka berdua. Ia tak menyangka orang yang baru ia kenal bisa memberikan kepuasan melebihi pacar-pacarnya terdahulu.
"kamu hebat..." puji Vanya
"hemm..." ucap Bimo yang memang sedikt irit bicara tidak seperti jika bersama Dina ia akan banyak berbicara
"aku penasaran, kamu sebenarnya siapa?" tanya Vanya
"kamu baru bertanya setelah melewati malam panas kita ,kamu aneh" Bimo beranjak dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya
"apa kita bisa sering bertemu nanti?" tanya Vanya
"entahlah...sepertinya tidak" ucap Bimo berdiri hanya memakai boxernya saja menatap jendela yang mulai terlihat warna kekuningan di ufuk timur
"kenapa?" Vanya beranjak dari tidurnya ia kemudian duduk di tepi ranjang masih dalam keadaan polos
"adikmu pasti tidak akan membiarkan aku berada di sekitarnya" ucap Bimo datar
"ada apa dengan kalian?" Vanya tertarik, kemudian ia berjalan mendekat pada Bimo dan menggodanya
"aku mencintai Dina" ucap Bimo menghentikan tangan Vanya dan menatapnya
Vanya tersenyum "oh...begitu...aku kira kita masih memiliki kesempatan untuk menikmati malam-malam panas berikutnya"
"entahlah..." Bimo mengedikkan bahunya "aku harus kembali ke kota S" Bimo mulai memakai pakaiannya dan kemudian meninggalkan kamar yang Vanya tempati
Bagi Bimo dan Vanya ini hanyalah cinta satu malam. Namun tak dipungkiri jika Vanya mengharapkan lebih pada Bimo karena ia merasa baru pertama kali bisa terpuaskan.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1