Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 233 The day


__ADS_3

Dina telah selesai di make up dan juga telah memakai gaun berwarna putih panjang desain simpel namun elegan, dihiasi kristal swarowski dan juga mutiara di bagian dadanya menambah kesan mewah.


Dina terlihat sangat cantik dengan tiara di kepalanya dan juga veil yabg menjuntai panjang menutupi kepalanya. Dina benar-benar menjelma bak puteri kerajaan. Dina menatap pada cermin, ia begitu puas dengan desain kakak iparnya itu.


Dina menaiki mobil pengantin yang telah disiapkan oleh tuan Yanuar menuju ke kapel di atas bukit yang terletak di pinggir kota K. Perjalanan ditempuh sekitar empat puluh lima menit.


Di tempat lain, tepatnya di kapel tempat Dina dan Toni akan mengikrarkan janji suci mereka, Toni menunggu dengan perasaan cemas dan gugup. Jantungnya seolah berlari-larian di dalam dadanya.


"rileks saja...." ucap Tuan Yanuar menghampiri putra kesayangannya yang tampak gagah dan mempesona memakai setelan tuxedo berwarna putih senada dengan gaun yang Dina pakai.


"aku gugup pa....apakah papa dulu juga merasakan apa yang aku rasa?"


"hemmm....kurang lebih begitu...tapi tidak seperti kamu" ejek papanya


"aku takut membuat kesalahan saat mengucapkan janji nanti pa..."


"bukankah kamu sudah berlatih setiap hari? Jika kamu benar-benar tulus maka kata-kata itu akan keluar dengan sendirinya" ucap papanya


"tapi tetap saja aku gugup pa..." ucap Toni


Mereka masih berada di dalam sebuah ruang tunggu. Mereka menunggu kedatangan rombongan Dina dengan perasaan cemas dan was-was. Toni hanya bisa berjalan mondar-mandir, dia benar-benar merasa gugup dan gelisah.


"Rombongan mempelai wanita sudah datang" ucap salah satu EO

__ADS_1


"Ayo kita masuk ke kapel..." ucap Tuan Yanuar


Toni, Tuan Yanuar beserta Vanya berjalan memasuki kapel. Kapel yang telah disulap dengan dekorasi bunga bernuansa putih dan peach, sungguh indah. Di dalam kapel semua kerabat beserta teman dekat kedua keluarga mempelai telah menunggu ikrar janji suci Toni dan Dina.


Hanya mamanya Toni tidak datang. Tuan Yanuar sengaja tidak memberi tahu Diana karena ia takut akan mengacaukan hari bahagia putranya itu.


Biarlah semua orang bertanya-tanya, karena bagi Tuan Yanuar kebahagiaan anak-anaknya adalah yang utama. Sejak kecil anak-anaknya sudah terbiasa dengan perlakuan acuh mamanya itu.


Dan terkadang mamanya memaksakan apa yang menjadi keinginannya pada anak-anaknya. Dulu Tuan Yanuar dan Diana sama-sama egois mereka lebih mementingkan pekerjaan mereka. Namun sejak Vanya lebih memilih sekolah dan tinggal di luar kota Tuan Yanuar mulai sadar, ia mulai mengambil hati anak-anaknya.


Toni berdiri di depan altar memakai setelan tuksedo berwarna putih, memakai korsace bunga mawar berwarna peach rambutnya ditata rapi, ia benar-benar menjelma menjadi seorang pangeran tampan untuk princess tercintanya. Ia ditemani papanya yang juga berdiri dengan perasaan bangga karena hari ini ia akan mendapat seorang menantu yang telah ia harapkan sejak lama.


Ia menunggu pujaan hatinya memasuki kapel dengan perasaan gugup luar biasa, namun ia berusaha tampak tenang.


Semua yang hadir berdiri menatap ke arah pintu utama. Alunan musik dari biola dan saxophone mulai mengalun indah. Toni pun berdiri di altar menatap seseorang yang selama ini telah ia perjuangkan.


Dengan langkah perlahan Dina memasuki kapel mengapit lengan papanya. Ia juga merasakan gugup yang luar biasa.


Toni menatap dengan tatapan takjub, seorang wanita bargaun putih, samar-samar ia melihat wajah cantik Dina yang tertutup veil yang juga sedang tersenyum. Tangan kanannya mengapit lengan papanya dan tangan kirinya memegang buket bunga perpaduan antara bunga lili dan mawar peach.


Dada Toni semakin berdegup kencang ketika langkah Dina mulai mendekat. Ia benar-benar tak menyangka akan sampai pada hari ini. Hari dimana ia akan mengikrarkan janji sucinya bersama sang pujaan hati.


Dina dan papanya sudah berada di depan altar, seorang pendeta sudah berdiri di altar untuk melakukan pemberkatan pernikahan mereka.

__ADS_1


"aku percayakan putriku padamu, sayangi dan cintai dia seperti aku menyayanginya selama ini, jika kelak kamu tidak lagi mencintainya kembalikan putriku padaku baik-baik" ucap Papanya Dina menahan rasa sesak di dadanya karena putri yang sangat ia sayangi akan menikahi pria yang dicintainya.


"pasti om...saya akan menyayangi dan mencintai serta menjaga Dina sepenuh hatiku, aku berjanji tak akan mengecewakannya" ucap Toni mantap


Papanya Dina mengulurkan tangan Dina pada Toni "tugas papa untuk mengantarmu ke altar pernikahan sudah papa lakukan, sekarang berbahagialan dengan pria pilihanmu" ucap papa Dina


"terima kasih pa...." Dina menerima uluran tangan Toni. Papanya Toni dan juga papanya Dina berjalan meninggalkan altar, dan kemudian duduk di kursi barisan paling depan bersama mamanya Dina.


Sejak tadi papanya Dina menahan air matanya yang selalu saja ingin keluar dari matanya. Ia terharu putri kecilnya yang selama ini ia sayangi kini sedang berdiri di depan altar untuk mengikrarkan janji suci mereka.


Papanya Dina memang orang yang selalu terlihat kerasa namun ia memiliki sisi lembut. Ia lebih melankolis jika dibandingkan mamanya Dina.


Dina dan Toni duduk di depan altar, menghadap pendeta yang sedang memberikan ceramah serta nasehat-nasehat pada kedua mempelai. Sejak tadi Toni tak melepaskan genggaman tangannya pada Dina.


Ia benar-benar merasakan bahagia, bisa duduk berdampingan di depan altar suci pernikahan bersama Dina. Sesekali ia menoleh menatap wajah Dina yang tertutup veil. Ia tersenyum, membayangkan wajah cantik Dina yang juga sedang menatap mesra padanya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2