
Setelah mendapatkan maaf dari Dina, Toni mengembalikan mic pada pembawa acara dan kemudian turun dari atas panggung.
"Ternyata CEO kita selain tampan juga romantis ya... Kira-kira Masih ada kah stok pria seperti Tuan Antoni" ucap pembawa acara itu dan mendapat sambutan gelak tawa dari tamu undangan. Acara pun dilanjutkan oleh penyanyi terkenal yang telah disewa oleh Dina.
Toni menggandeng tanga Dina berjalan menemui kolega-kolega bisnisnya, senyumnya mengembang ia terus memeluk pinggang Dina sambil berbincang dengan para tamu undangan, memperkenalkan Dina sebagai tunangannya bukan sebagai asistennya. Ia ingin semua pria yang pernah berusaha mendekati Dina mundur.
Mereka mengucapkan selamat pada Toni dan Dina. Mereka juga ikut bahagia melihat pasangan yang terlihat begitu serasi. Hari ulang tahun perusahaan juga menjadi hari patah hati bagi karyawan wanita yang belum mengetahui status Toni. Mereka tak pernah curiga, karena sejak Toni menggantikan Vanya hubungan Toni dan Dina tampak biasa-biasa saja. Mereka tetap terlihat seperti atasan dan bawahan.
Kini saatnya pesta dansa, Toni mengajak Dina berdansa tepat di tengah-tengah ballroom itu. Tangan Toni melingkar di pinggang Dina, menatap tunangannya yang telah lama mengabaikannya. Dina pun melingkarkan kedua tangannya di leher Toni.
"aku merindukanmu sayang...." ucap Toni berbisik di telinga Dina. Hembusan nafas Toni membuat ia meremang.
"setiap hari kita bertemu" ucap Dina yang pura-pura tak mengerti ucapan Toni
"hem...iya setiap hari bersama, tapi aku selalu diabaikan" ucap Toni mengerucutkan bibirnya.
Dina hanya tersenyum, ia pun juga merindukan Toni. Sebenarnya ia sudah memaafkan Toni dari lama, namun ia sengaja memberi pelajaran pada Toni agar lebih menghargainya.
Acara dansa telah selesai, kini berganti dengan acara pesta yang sebenarnya. Seorang DJ memainkan musiknya, membuat semua bergoyang. Para tamu yang merasa itu acara untuk anak muda pun segera pamit tak terkecuali Tuan Yanuar.
Dina memang sengaja merancang acara after party ini untuk memberika hiburan untuk semua karyawan. Ia juga menyediakan minuman beralkohol bagi yang ingin meminumnya.
Dina pun menarik pengait roknya hingga terlepas, kini ia hanya mengenakan dress pendek sepaha tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu sempurna.
Ia membawa dua gelas wine kemudian menghampiri Toni dan memberikan satu gelas untuknya. Toni meminumnya sekali teguk, kemudian meletakkan gelas itu di meja. Dina juga mengikuti apa yang Toni lakukan.
__ADS_1
Kemudian ia melepaskan jas milik Toni serta dasinya kemudian melemparkannya pada Rama yang berdiri tak jauh dari mereka. Dina menarik Toni ke depan DJ. Ia pun mulai bergoyang meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama musik
Toni tidak menyangka Dina memiliki sisi liar seperti ini. "kamu sengaja membuat pesta ini ya?" ucap Toni dengan tatapan yang sulit diartikan
"sudah lama aku ingin berpesta seperti ini, dan aku ingin membuat after party di acara pernikahan kita besok" Dina masih menari meliuk-liukkan tubuhnya menempel di tubuh Toni. Gairah Toni pun bangkit, ia pun mengikuti gerakan Dina sambil memegangi pinggang Dina.
Seorang pelayan membawa nampan yang berisi wine, Dina mengambilnya dan meminumnya sekali teguk. Banyak yang ingin mengajak Dina berjoget namun Toni mengusir semuanya, ia tak mau Dina disentuh oleh orang lain.
Semua karyawan yang masih berada di sana tampak sangat menikmati pesta itu. Toni melihat sekitarnya, semua tampak aman terkendali tidak ada keributan karena tinggal sedikit yang berada di ballroom itu.
Dina kembali meminum wine, dan ini sudah gelas kelimanya. Dina sudah tampak mabuk, Toni segera memberi kode untuk menyudahi pesta tersebut.
"Rama...kamu urus semuanya, aku akan mengantar Dina" ucap Toni sambil menggendong Dina ala bridal style.
Toni tak mengantar Dina pulang, ini sudah dinihari dan Dina dalam keadaan mabuk, ia tak mau mendapat masalah dengan orang tua Dina. Toni membawa Dina ke sebuah kamar yang ada di hotelnya, ia pun menurunkan Dina di tepi tempat tidur.
Dina sebenarnya tidak terlalu mabuk, ia hanya sedikit pusing saja. Ia masih sepenuhnya sadar, dan masih bisa berpikir meskipun kepalanya terasa pusing.
"kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Dina beranjak dari duduknya mengikis jarak dengan Toni
"ini sudah dinihari sayang, tak mungkin aku mengantarmu pulang, pasti orang tuamu akan marah besar"
Dina semakin mendekat "hanya itu alasannya?" Dina sengaja menggoda Toni.
"tidak...!" Toni mulai mencium bibir Dina dan sesekali ********** "aku ingin kamu melakukan seperti tadi di ballroom sekali lagi di sini bersamaku"
__ADS_1
Dina pun menyalakan ponselnya mencari lagu yang pas kemudian ia mulai menari menggerakkan tubuhnya mengikuti irama dari musik di ponselnya. Dina sengaja mendekati Toni dengan gerakan menggoda, Toni yang sudah tak bisa menahan gejolak dalam tubuhnya pun langsung menyambar dan ******* bibir Dina dengan rakus, Dina pun membalasnya tak kalah liarnya.
Tangan keduanya saling meloloskan apa yang menempel di tubuh mereka masing-masing hingga mereka tak ada satu helai benang pun. Tangan Toni bergerilya ke bagian- bagian yang menjadi favoritnya "kamu sudah basah ternyata"
"iya aku sangat merindukannya..." ucap Dina dengan nada menggoda
Dan akhirnya penyatuan itu terjadi dengan Dina yang berada di atas tubuh Toni. "hemm....sekarang kamu pintar ya...." ucap Toni di sela-sela erangannya. "kamu yang mengajariku sayang...." dan setelahnya mereka pun sama-sama mencari kepuasan, mendaki puncak kenikmatan.
Penyatuan yang sudah lama tak mereka lakukan, membuat mereka semakin liar melampiaskan segala kerinduan mereka. Toni dan Dina sama-sama tak mengenal lelah meskipun Dina telah berulang kali mendapatkan pelepasannya.
Suara de sahan dan juga erangan menggema di kamar hotel itu. Kamar yang menjadi saksi bisu pelampiasan kerinduan dan juga emosi keduanya. Toni merasa sangat bahagia, pernikahan mereka benar-benar sudah di depan mata, tak ada lagi yang perlu ia kawatirkan.
Malam ini adalah pembuktian jika Dina tak lagi marah padanya, Dina benar-benar telah menyerahkan jiwa dan raganya pada Toni. Hingga hampir tiga jam lamanya mereka melampiaskan kerinduan mereka, akhirnya Toni mendapatkan pelepasannya yang ketiga kalinya.
Ia pun menarik selimut dan menyelimuti tubuh polos mereka berdua. Ia mengecup dahi Dina begitu dalam. "Terima kasih sayangku, kamu memang yang terbaik.... semua yang ada di dirimu menjadi candu bagiku" ucap Toni memeluk Dina erat.
"jangan pernah sakiti aku lagi, jika kamu sakiti aku lagi aku akan mati" ucap Dina kemudian ia memejamkan matanya. Mereka berdua tidur berpelukan masih dalam keadaan polos. Mereka masuk ke alam mimpi berharap dalam mimpi mereka juga menghabiskan waktu bersama.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1