Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 227 Aku lemas sayang....


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Toni dan Dina keluar dari kamar mereka berjalan menuju ke ruang rapat. Dina kembali lagi manampakkan wajah seriusnya.


Saat mereka berdua masuk ke ruang rapat, semua menejer dan GM sudah menunggu mereka di ruang rapat. Tadi sewaktu Dina dan Toni sedang sarapan, mereka sempat membahas beberapa temuan kejanggalan dalam setiap laporan yang diberikan oleh GM di hotel Jaya. .


Toni membantu Dina menemukan aliran uang yang hilang pada Dina. Dina merasa dirinya masih kurang teliti jika dibanding Toni. Ia pun menyerahkan pada Toni untuk memimpin jalannya rapat kali ini. Namun Toni menolaknya, karena dari awal Dina yang menangani permasalahan di hotel tersebut. Dina sedikit memaksa namun Toni tetap pada pendiriannya, ia tidak mau Dina kehilangan muka di hadapan para karyawan karena kemarin sempat menunjukkan kemarahannya.


"Rapat hari ini saya mulai sekarang" ucap Dina dengan sorot mata tegas "di sini saya diberi wewenang penuh oleh CEO kita untuk memyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh hotel ini"


Kasak-kasuk pun terdengar, mereka masih bingung, permasalahan apa yang dimaksud oleh asisten CEO mereka itu.


"mungkin sebagian masih belum mengetahui jika hotel ini di ambang kebangkrutan" ucap Dina kemudian memperhatikan semua karyawan yang sedang berbisik-bisik


"kenapa kemarin saya meminta anda semua berada di ruangan ini? Itu semua untuk memastikan laporan yang saya terima tentang hotel ini" Dina menatap Toni yang sedang duduk santai mendengarkan Dina.


"dalam laporan yang saya terima, hotel ini selama enam bulan ini mengalami kerugian yang cukup besar, padahal kamar selalu terisi penuh, dan ditambah lagi pembelian peralatan yang tidak masuk akal" Dina menatap tajam pada Johan dan juga menejer keuangan.


"setelah saya selidiki, laporan tiap departemen berbeda dengan laporan yang saya pegang ini" ucap Dina mengangkat map yang berisi laporan yang diberikan oleh GM.


Semua menejer berwajah pucat, mereka takut jika mereka yang melakukan kesalahan. Sedangkan Johan terlihat tenang. Semua itu tak lepas dari mata tajam Toni.


"bagaimana anda menjelaskan semua ini Pak Johan?" ucap Dina langsung menatap tajam Johan


"saya hanya menerima laporan yang diberikan kepada saya, jadi saya tidak tahu menahu soal perbedaan itu" ucap Johan


"hemmm....begitukah?" Dina tersenyum tipis


"tapi saya menemukan data di komputer milik anda, jika anda telah merubah angka-angka pada laporan ini"

__ADS_1


"itu pasti sekretaris saya..." kilah Johan


"hemm...begitu rupanya" Dina mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama masuk seseorang ke dalam ruang rapat itu dan menyodorkan laporan pada Dina. Dina membukanya, kemudian ia tersenyum dan menyerahkan pada Toni. Rahang Toni mengeras, melihat laporan itu.


"rapat saya bubarkan, silahkan semua keluar dari ruangan ini kecuali menejer keuangan dan juga pak Johan" ucap Dina dengan senyum menakutkan


Semua karyawan satu per satu keluar dari ruang rapat, tinggalah menejer keuangan serta GM di hadapan Toni dan Dina.


"anda bisa jelaskan ini semua?" Dina menyodorkan map yang tadi diberikan padanya


Johan membuak map itu, seketika wajahnya terlihat pucat. Di sana terdapat beberapa bukti transfer dan juga bukti pembelian barang-barang lainnya, jika ditotal jumlahnya hampir mendekati uang yang hilang dalam laporan yang ia serahkan.


Menejer keungan juga sama, ia menelan ludahnya kasar. Di sana ia juga bermain, namun dengan jumlah yang kecil. Ia cemas, jika sampai dipecat dari hotel itu.


"kerugian perusahaan sangtlah besar, dan menyebabkan hotel ini di ambang kebangkrutan, tolong jelaskan semua ini..." ucap Dina dingin.


"maafkan saya Tuan Toni, maafkan saya Bu Dina saya akan mengembalikan yang saya ambil" ucap menejer keuangan memberanikan diri


"untuk Pak Johan beberapa bulan yang lalu saya sudah ke sini, waktu itu saya sudah memperingatkan bapak, namun ternyata waktu itu anda memberikan laporan palsu pada saya" Dina duduk menyandarkan tubuhnya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja


"mengingat ini jumlah yang sangat besar, saya akan memberikan pilihan pada anda, pertama saya memecat secara tidak hormat dan memblacklist anda dan anda harus mengembalikan semua yang anda ambil, atau yang kedua saya melaporkan anda pada polisi dan membuat anda mendekam di penjara dalam waktu yang lama, tentunya juga mengembalikan yang telah anda ambil" ucap Dina dengan sorot mata tajam.


Toni yang duduk di sampingny bergidik ngeri mendengar ucapan Dina, pelan, namun penuh penekanan dan membuat siapa saja yang mendengarnya merasa takut.


Johan kebingungan, sungguh pilihan yang sulit. Namun semua itu sama, ia harus mengembalikan semuanya pada perusahaan. "baiklah....saya memilih pilihan yang pertama" ucap Johan lesu


"anda yakin?" dan dijawab dengan anggukan oleh Johan

__ADS_1


"baiklah....besok anda ke gedung utama Wijaya Group, silahkan anda menemui Direktur SDM untuk mengurus semuanya" ucap Dina dingin "dan untuk anda" Dina menatap menejer keuangan "anda akan dimutasi ke bagian marketing, saya rasa cukup sekian, anda boleh meninggalkan ruangan ini" ucap Dina sambil merapikan dokumen-dokumennya.


"tak kusangka calon istriku ini begitu pandai....aku jadi makin cinta" ucap Toni menggoda Dina


Dina menyandarkan tubuhnya di kursi "ya ampun....kamu itu memuji atau meledekku?" ucap Dina kesal


"jelas memuji" Toni terkekeh


"ternyata berpura-pura menjadi orang lain itu melelahkan ya..... jika saja aku sendirina di sini pasti nyaliku menciut" keluh Dina


"oh...jadi kamu pura-pura aku kira sungguhan" Toni tergelak


"kamu sudah mengenalku sejak lama, mana mungkin aku tega memecat orang" Dina mengerucutkan bibirnya


"ya sudah....mumpun berada di sini bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sebelum pulang?"


"aku lemas sayang....badanku masih pegal-pegal karena semalam, ditambah lagi sedang datang bulan lengkap sudah rasanya" ucap Dina lesu


"baiklah....kita pulang saja kalau begitu"


Dina dan Toni berjalan keluar ruangan rapat dengan senyum mengembang, semua merasa heran, dua hari ini tatapan Dina begitu menyeramkan namun tiba-tiba hari ini para karyawan melihat Dina yang mereka tahu telah kembali.


Dan itu semua membuat mereka lebih berhati-hati dalam bertindak. Dina lebih menyeramkan daripad CEO mereka, bahkan CEO yang mereka idolakan hanya diam duduk di sebelah Dina ,seolah-olah Toni tunduk pada perintah Dina.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2