
Toni mendekap erat tubuh Dina, ia menyadari jika dirinya memang salah. Dia tak mempercayai Dina. Rasa rindu membuatnya hilang akal, membuatnya cemburu buta. Itu semua karena ia begitu mencintai Dina.
Tak ada lagi marah di antara mereka, namun cemburu itu masih ada di hatinya. Sekian lama ia mengejar Dina, meluluhkan hatinya kembali membuat Toni selalu kawatir jika Dina akan meninggalkannya kembali.
Tak ada sentuhan hanya berpelukan saling melepas rindu. Rindu itu memang berat, tak mudah dihilangkan begitu saja. Berpelukan selama apapun itu tak bisa menghapus rasa rindu mereka.
Dina pun juga merasakan rindu yang sama seperti Toni. Selama ini ia juga mengharapkan Toni mendatanginya dengan senyuman namun yang terjadi Toni cemburu buta.
.
Dina disibukkan dengan tugasnya, ia bahkan sampai tak ingat waktu. Toni datang menjemputnya pukul 9 malam namun ia masih belum selesai mengerjakan tugasnya.
Toni kesal, ia pun naik ke kamar Dina "ayo sekarang ke rumahku" ucap Toni memasuki kamar Dina. Toni pun terkejut melihat Dina masih terlihat kusut duduk di depan komputernya, dengan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
"kamu belum mandi?" Toni mendekati Dina. Dina menggeleng, matanya masih menatap layar komputernya, sambil mengotak-atik angka-angka yang harus ia hitung.
Toni menghela nafas "simpan tugasmu, ayo istirahat" Toni menggeser Dina kemudian menyimpan pekerjaan Dina dan mematikannya.
"kenapa dimatikan? Aku belum selesai" ucap Dina kesal
"istirahat...aku tidak mau kamu sakit" Toni menarik tubuh Dina "ayo cepat, aku tadi menyelinap masuk, keburu malam keburu ibu kos kamu tahu aku di sini, ayo cepat kamu mandi di rumah saja"
Toni membantu merapikan kertas-kertas Dina, Dina mengerucutkan bibirnya sambil mengambil jaket dan ponselnya. Sambil tetap mengerucutkan bibirnya Dina mengunci pintu kosnya kemudian naik ke mobil Toni.
Toni tak peduli, ia sebenarnya tidak ingin memgganggu Dina mengerjakan tugasnya namun melihat Dina yang tampak acak-acakan sudah malam namun belum mandi ia takut Dina sakit.
"aku sudah membelikanmu makanan kesukaan kamu, kamu pasti belum makan kan?" ucap Toni lembut. Dina hanya menggelengkan kepalanya.
Toni memarkirkan mobilnya di garasi, ia membantu Dina turun dari mobil. Toni tahu Dina marah padanya, tapi ia melakukan semua demi Dina.
"kamu duduklah, aku yang akan menyuapimu makan" Toni mendudukkan Dina di kursi makan. Toni membuka bungkusan yang ia beli, kemudian menuangkannya di piring.
Dina memang merasa lapar, tapi ia merasa tak ada waktu untuk keluar untuk membeli makanan. Ia terlalu fokus mengerjakan tugas-tugasnya.
"aku bisa makan sendiri" ucap Dina
"aku suapin...sepertinya kamu sangat lelah" ucap Toni
__ADS_1
Dina menyerah, ia malas berdebat dengan Toni, lebih baik ia menurut. Ia juga lelah, dari siang ia sudah berada di depan komputer. "setelah ini kamu mandi, aku siapkan air hangat di atas" ucap Toni
"kamu tidak makan?" tanya Dina menatap Toni heran
"aku sudah makan tadi di kantor" Toni menyunggingkan senyumnya
"lantas kenapa aku dipaksa makan?"
"aku nggak ingin kamu sakit sayang"
Toni merapikan piring yang dipakai Dina, kemudian ia naik ke atas, menyiapkan air hangat di bathtub. Ia turun lagi ke bawah Dina ternyata sedang mencuci piring yang ia pakai tadi.
"sudah tinggalkan saja..." ucap Toni lembut
"sudah selesai" ucap Dina kemudian ia mengikuti Toni naik ke atas. Dina masuk ke kamar mandi, ia tersenyum bathtub yang sudah diisi air hangat dan juga Toni menyalakan lilin aromaterapi di kamar mandi.
Tiba-tiba Dina dikejutkan Toni yang membuka pintu kamar mandi.
"Kamu mau apa?!"
"mau mandi" dengan santai Toni membuka bajunya di depan Dina "kenapa diam? Kamu tidak jadi mandi?" Toni tinggal menaanggalkan satu penutup terakhir di tubuhnya
"tapi Ton...!" Dina tampak panik
"aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak, aku juga lelah Din.." ucap Toni
Dina menatap Toni, wajahnya terlihat lelah "tapi aku...."
"malu? Aku sudah pernah melihat semuanya Din, kamu pun juga begitu buat apa malu" Toni mulai membantu Dina melepaskan pakaiannya.
Kemudian ia membantu Dina memebersihkan tubuh Dina, menyabuninya. "balik badan kamu" Dina menurutinya
Kemudian Toni mulai memijat lembut tubuh Dina. Dina merasa nyaman, dan menikmati pijatan Toni. Toni merasa lelah namun ia melakukannya untuk mengganti waktu yang ia lewatkan. Ia berusaha menebus semua yang hilang beberapa waktu lalu.
Karena terlalu lelah, Dina pun tertidur. Toni dengan pelan-pelan meraih handuk yang tadi ia siapkan. Ia menutup tubuh Dina dengan handuk kemudian menepuk pelan pipi Dina. "sayang....bangun....keringkan dulu badanmu"
Dina pun membuka matanya, dan berdiri kemudian mengeringkan tubuhnya. "bajumu ada di kamar bawah aku belum mengambilnya kamu pakai saja punyaku" ucap Toni lembut
__ADS_1
Dina keluar dari kamar mandi, mengambil baju yang ada di lemari, kemudian memakainya. Tak lama Toni keluar hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawah.
Setelah berpakaian Toni merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur "kenapa kamu tidak jadi tidur?" Toni menatap Dina yang masih berdiri di depan kaca jendela kamarnya.
"aku nggak jadi mengantuk" ucap Dina
"sini...." Toni menepuk tempat kosont di tempat tidurnya.
Dina menyusul Toni, kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Toni.
"sayang..." ucap Dina lembut
"apa hmmm?" Toni membelai lembut rambut Dina
"kamu benar-benar serius denganku?"
"kenapa tanya begitu?" Toni masih membelai Dina
"aku hanya ingin kepastian saja, aku tidak ingin salah mengambil langkah, semester depan aku skripsi, aku harus sudah mulai merencanakan apa yang akan aku lakukan setelah lulus"
"aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan Din, aku sayang kamu, aku cinta kamu, kamu salah satu tujuan masa depanku, aku ingin memilikimu seutuhnya" ucap Toni lembut
"aku terkadang ragu, ketika kamu marah tanpa sebab, dan berujung membentakku, rasanya kamu hanya menganggapku sebagai mainanmu saja" ucap Dina
"maaf....maaf....jujur saat aku tak bisa setiap saat bersamamu, aku selalu ketakutan, kamu akan pergi dariku lagi seperti dulu, secara tidak sadar aku marah, namun bukan maksudku menyakitimu"
"aku ingin kamu merubah tabiat burukmu itu, jangan mudah emosi, segala sesuatu bisa dibicarakan" Dina mengeratkan pelukannya
"iya sayang maafkan aku, aku akan mengingat apa yang kamu ucapkan" Toni mencium puncak kepala Dina "sekarang ayo tidur, besok aku harus keluar kota"
Toni memeluk Dina, merekapun akhirnya tertidur. Berada di pelukan orang tersayang memang terasa nyaman. Masih ada sedikit keraguan dalam hati Dina. Ia masih belum mengenal mamanya Toni, ia takut mamanya Toni tak akan menyetujui mereka.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g