
Akhirnya Dina pun juga ikut terlelap. Berada di pelukannya membuatnya merasa aman dan tenang. Dina menyembunyikan wajahnya di dada bidang Toni, ia semakin terlelap.
Toni tersenyum, ia mengecup dahi Dina kemudian mengeratkan pelukannya. Mereka berdua sama-sama terlelap tidur dengan berpelukan.
Pukul tiga sore, Toni mengerjapkan matanya melihat Dina masih tidur nyenyak dalam pelukannya. "haruskah aku mengawasimu agar kamu tidak bertemu mantanmu?" batin Toni
"aku percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada mantan-mantanmu" Toni kembali mengecup dahi Dina membuat Dina menggeliat dan kemudian terbangun.
"aku tertidur..." ucap Dina tersenyum pada Toni. Toni hanya tersenyum lembut pada Dina.
"ayo aku temani kamu ke kampus" ucap Toni
"memangnya jam berapa ini?"
"jam setengah empat, masih bisa kan?"
"masih...tapi kamu tadi berjanji akan membantuku"
"iya...akan aku bantu...aku bantu dengan doa ya..."
Dina mengerucutkan bibirnya "sama saja aku yang mengerjakan"
"sudah ayo...keburu sore...perpustakaan keburu tutup" Toni melepaskan pelukannya kemudian ia bangun dan mengganti bajunya di depan Dina
"kebiasaan..." gerutu Dina kemudian ia bangun dari tempat tidur
Toni terkekeh "aku malas kalau harus ke kamar mandi cuma buat ganti baju, lagian kamu calon istriku buat apa malu"
"huh...percaya diri sekali aku mau jadi istri kamu" Dina mengerucutkan bibirnya
Toni tergelak melihat tingkah Dina yang kesal ketika Toni menyinggung soal calon istri.
Toni mengantar Dina ke perpustakaan, tak ada yang tahu jika dia juga mahasiswa pascasarjana di kampus itu. Perpustakaan terletak di lantai basement kampus Dina, saat menuruni tangga Dina berpapasan dengan Dendy.
__ADS_1
Dina menatap Dendy dengan tatapan datar sedangkan Dendy menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dina buru-buru berjalan masuk ke perpustakaan, Toni mengetahuinya hanya diam, namun Dendy tak tahu jika Dina bersama Toni karena jarak mereka sedikit jauh.
"kenapa harus bertemu dua mantan di hari yang sama..."gumam Toni masih didengar oleh Dina
"aku juga enggak tahu...hampir dua tahun aku tidak pernah bertemu dengannya, apalagi di kampus" ucap Dina sambil meletakkan tasnya di kursi
"jadi dia kuliah di sini?" Toni duduk di sebelah Dina
"dia tak pernah memberitahu aku jika kuliah di ekonomi, aku tak sengaja mengetahuinya" ucap Dina santai sambil membuka buku-bukunya
"kenapa kamu tidak cerita Din?"
"buat apa? itu hanya masa lalu, lagipula dia yang enggak jujur ke aku...ah...sudahlah...enggak perlu dibahas...." Dina beranjak berdiri mencari buku di antara rak-rak perpustakaan
"kenapa aku harus bertemu dengannya lagi...setelah aku memutuskan untuk melupakannya, apakah ini isyarat dariMu Tuhan..." batin Dina kemudian ia mengambil beberapa buku dan membawanya ke meja tempat ia duduk tadi
Mereka berdua berada di perpustakaan sampai perpustakaan tutup. Jika sedang kesepian Dina sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Kali ini berbeda, ia ditemani oleh Toni yang sudah berstatus pacarnya. Biasanya ia akan menyendiri di sudut ruangan, kali ini ia memilih tempat yang sedikit terlihat.
"sebelum pulang kita mampir belanja dulu ya...kulkas kosong..." ucap Toni sambil menyalakan mesin mobilnya.
"enggak....enggak boleh...!" Toni ketus.
"kenapa enggak boleh? Aku kan pulang mengerjakan tugasku" Dina mengerucutkan bibirnya.
"nanti tiba-tiba mantanmu datang ke kosmu, mencari alasan untuk bisa mengajak pergi lagi...tidak...tidak!"
Dina hanya bisa pasrah, protes pun percuma, Toni pasti akan tetap melarangnya. Dalam hatinya, Dina merasa bersalah karena mau diajak pergi oleh Bimo dan berakhir bertemu dengan Andini.
Jika saja tak ada Andini, Toni tak akan melarangnya. Sebenarnya Toni tak ingin Dina terkena masalah, ia hanya ingin melindungi Dina dari orang-orang yang ingin berbuat buruk padanya.
Mereka berdua berbelanja bahan makanan untuk mengisi kulkas di rumah Toni. Dina protes ketika Toni memasukkan banyak barang ke dalam keranjang mereka. Karena Dina pikir Toni akan pergi dan rumah kosong.
Namun di luar dugaan, Toni menyuruh Dina menginap di rumahnya selama ia pergi, dan akan ditemani Raya karena Ia akan pergi bersama Ridwan.
__ADS_1
Dina merasa kesal, kenapa ia harus menginap di rumah Toni selagi sang pemilik rumah pergi. Dia akan tetap kesepian, ia tak begitu mengenal siapa Raya. Ia merasa lebih baik di kos dan menikmati saat-saat terkahir Tere tinggal di kos.
"sudah...jangan cemberut...mandilah dulu...nanti aku yang akan mengerjakan tugasmu selagi kamu memasak" ucap Toni lembut yang tahu Dina sedang marah padanya.
"tapi aku enggak bawa baju ganti Ton..." kilah Dina agar ia tetap bisa pulang
"kamu lupa...kamu meninggalkan beberapa baju di kamar tamu" Toni terkekeh
"tapi Ton..."
"sudah...ini hukuman kamu karena sudah mau diajak pergi oleh mantan pacarmu!" ucap Toni datar
Dina menuruti apa mau Toni "untung sayang...kalau nggak...udah aku tinggalin" gerutu Dina yang masih bisa didengar oleh Toni. Dina masuk ke kamar mandi yang ada di lantai bawah, sedangkan Toni mengambil tas Dina dan membuka barang-barang milik Dina.
Tak ada hal-hal yang mencurigakan yang menunjukkan Dina berselingkuh, Toni membuka ponsel Dina tak ada satupun pesan atau telepon dari orang yang tak ia tahu. Hanya pesan-pesan dari cowok yang membahas masalah tugas saja.
Toni mengambil buku catatan Dina kemudian ia mulai mengetik di ruang kerjanya di sebelah kamarnya di lantai dua. Toni menepati janjinya membantu Dina mengerjakan laporan dan tugas Dina.
Setelah selesai mandi Dina pun ke dapur memasak makanan sesuai yang Toni minta. Dina melakukannya dengan sepenuh hati, karena ia memang mencintai Toni.
Mereka berdua sepakat, menjalani hubungan mereka secara serius saling menjajaki perasaan masing-masing untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi dalam hubungan mereka. Meski dalam hati Dina masih ada tempat untuk Dendy namun ia hanya menyimpannya.
Di awal perpisahannya dengan Dendy ia berdoa meminta pada Tuhan jika memang Dendy bukanlah jodohnya jangan pertemukan dengan Dendy. Dan doanya terkabul, bertahun-tahun ia tak pernah bertemu dengan Dendy lagi sampai hari ini.
Meski masih ada rasa untuk Dendy, namun pertemuannya hari ini membuatnya sadar, Dendy sudah tak seperti dulu lagi. Dendy sama sekali tak menyapa, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Dina.
Sempat terpikir oleh Dina, itu adalah sebuah pertanda kalau dia memang tak boleh melupakan Dendy namun ia berpikir lagi, sekian lama ia tak bertemu itu sudah jawaban dari doanya. Baginya biarlah cintanya pada Dendy ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya yang paling dalam.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g