
Waktu berlalu begitu cepat, setelah pertemuan Dina dan Toni yang terakhir mereka tak lagi bertemu hanya sesekali Toni mengiriminya pesan singkat namun Dina tak terlalu menanggapinya.
Setelah putus dengan Dendy, Dina sempat kembali berpacaran dengan Bimo namun tak berlangsung lama. Dina yang tak ingin terlalu dikekang membuat ia dan Bimo kembali putus.
Bimo semakin posesif dan overprotektif pada Dina. Itu membuat Dina merasa tidak bisa leluasa. Nilai-nilai kuliah Dina menjadi turun. Bukan karena Dina tak bisa mengikuti melainkan karena Bimo yang sering memaksanya untuk pergi dengannya.
Sebagian besar waktu Dina tersita hanya untuk meladeni Bimo. Memang benar karena Bimo lah Dina bisa menikmati suasana kota J dan juga ia bisa mengunjungi tempat-tempat yang selama ini belum pernah ia datangi.
Karena nilai-nilainya yang turun itu membuat Dina harus mengulang banyak mata kuliah untuk memperbaiki nilainya. Dan pada akhirnya ia meminta putus dari Bimo.
Perpisahan yang paling sulit bagi Dina. Bukan karena ia mencintai Bimo, namun karena Bimo begitu sulit menerima perpisahan mereka. Pada akhirnya Bimo bisa menyadari jika Dina tak ingin dikekang olehnya.
Caranya mencintai Dina salah, ia tak pernah membiarkan Dina pergi sendirian. Bahkan kesehariaanya ia selalu berada di kos Dina. Hanya untuk kuliah dan di malam hari ia kembali ke kosnya, itu pun karena Dina yang memohon.
Dina tak bisa memiliki waktu untuk dirinya sendir fan juga untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya sendiri. Tapi semua sudah berlalu, Dina bisa sedikit lega. Ia merasa bebas melakukan apa saja meski bayang-bayang Bimo masih saja mengawasinya.
Namun Bimo tak bisa berbuat apa-apa, karena Dina mengancam jika Bimo mendekat maka ia tak akan pernah mau bertemu dengannya lagi.
Kini Dina sudah semester enam, kuliahnya sedikit lambat karena nilai-nilai dia yang turun meski tidak terlalu buruk namun Dina tak mau lulus dengan nilai yang di bawah standarnya dia.
Semester enam, semester dimana ia harus segera mengambil mata kuliah yang mengharuskannya magang di sebuah perusahaan selama dua bulan.
Dina mulai mempersiapkan semua syarat-syarat untuk menempuh mata kuliah tersebut. Ia memasukkan prolosal magang ke beberapa perusahaan yang berada di kota J.
Dari sekian banyak proposal yang ia masukkan Dina diterima magang di PT Sumber Makmur. Ia bisa masuk ke sana karena campur tangan Wilson kakak sepupunya yang berpacaran dengan anak pemilik perusahaan tersebut.
Dina merasa beruntung, karena meskipun Wilson masih belum ada tanda-tanda mau lulus masih bisa membantunya mencari perusahaan tempat magang untuknya.
Dina melaksanakan magang tersebut setelah ujian akhir semester enam. Ia tak mengambil semester pendek kerena di tempatnya magang mengharuskannya untuk datang setiap hari layaknya orang kerja sungguhan.
Di hari pertama ia magang, Dina bertemu dengan pemilik perusahaan, sebenarnya ia enggan, tapi karena anak si pemilik perusahaan yang telah membantunya mau tak mau Dina bertemu dengan si pemilik.
Dina mengetuk pintu ruangan direktur utama "masuk" ucap seseorang dari dalam ruangan. Dina membuka pintu dan berjalan memasuki ruangan.
"Selamat pagi pak...." sapa Dina sopan
"pagi....silakan duduk" ucap direktur utama perusahaan itu. Dina merasa aneh sebenarnya, ia harus menemui direktur utama perusahaan itu. Biasanya yang mengurusi anak magang hanyalah bagian personalia tapi kali ini ia diminta menghadap pemilik perusahaan.
__ADS_1
"jadi kamu yang akan magang di sini?" tanya pemilik perusahaan
"iya pak..." Dina tak berani menatap si pemilik perusahaan ia hanya menatap papan nama yang terletak di mejanya. Di situ tertulis Ferdi Halim
"nama kamu siapa?"
"Dina pak" jawab Dina sopan
"kamu kuliah di universitas A?"
"benar pak..."
"semester berapa?"
"semester enam pak" jawab Dina sopan
"sudah tahu kan kamu magang di bagian mana?"
"di dalam surat saya ditempatkan di bagian produksi pak" Dina masih tak berani menatap wajah direkturnya lama-lama
"baik pak..." Dina beranjak dari duduknya kemudian keluar dari ruangan pak Ferdi
Pagi ini Toni ada janji bertemu dengan Pak Ferdi, klien yang sudah dua tahun terakhir ini menjadi rekan bisnisnya. Toni memarkirkan mobilnya di depan kantor perusahaan milik pak Ferdi.
Seperti biasa ia berjalan santai memasuki kantor perusahaan tersebut dengan tatapan datar. Semua karyawan terutama perempuan mengidolakan Toni.
Mahasiswa masih muda namun sudah bisa mengurus perusahaannya sendiri. Toni hanya menanggapi sapaan para karyawan dengan anggukan dan sedikit tersenyum.
Toni berjalan menuju kantor Direktur utama perusahaan tersebut. Dari kejauhan ia memperhatikan ada seseorang yang mirip dengan orang yang sudah lama tak ia jumpai.
Ketika sudah dekat, Toni yakin itu Dina namun Dina tak menatapnya. Saat sudah dekat Dina berbelok ke arah pintu samping kantor itu menuju ke bagian produksi.
Ingin sekali Toni mengejaar Dina, namun itu bukan kantornya ia tak mungkin berkeliaran di perusahaan itu tanpa didampingi oleh karyawan perusahaan tersebut.
Toni menatap punggung Dina yang perlahan menjauh dari dirinya. "kenapa tidak masuk Ton...?" sebuah suara membuyarkan lamunan Toni.
"ah...om..." Toni tersentak
__ADS_1
"melihat apa? Dari tadi kamu terpaku di sini" Pak Ferdi menatap ke arah Toni memandang
"ah...itu...tadi seperti melihat teman lama...tapi tak mungkin" Toni menoleh lagi ke arah lorong yang Dina lalui
"kenapa?" pak Ferdi menatap Toni penuh tanda tanya
"tak mungkin ia di sini, dia belum lulus kuliah"
"ayo lanjutkan ngobrolnya di dalam saja...." ucap pak Ferdi yang sebenarnya tadi memergoki Toni sedang memperhatikan Dina.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan direktur utama dan duduk di sofa yang terletak di dekat meja kerja pak Ferdi.
"tadi itu anak magang di sini....baru hari ini masuk" Pak Ferdi membuka obrolan mereka. Pak Ferdi menganggap Toni seperti anaknya sendiri, pernah ia berpikiran untuk menjodohkan anaknya dengan Toni, tapi ia mengurungkan niatnya karena anaknya tak mau berpacaran dengan yang seumuran dengannya.
"anak magang?" Toni terkejut
"iya....dia di sini hanya dua bulan, kenapa?" Pak Ferdi bisa membaca raut wajah Toni yang terlihat bingung
"enggak ada apa-apa om, sekilas mirip dengan teman sekolah saya dulu" Toni berusaha menutupi rasa penasarannya
"memangnya teman kamu namanya siapa?"
"Dina om...dia kuliah di universitas A satu angkatan dengan saya" terang Toni
"nama anak itu juga Dina, kuliah di kampus yang sama, sekarang semester enam" Pak Ferdi menyunggingkan senyumnya, sebagai orang dewasa ia tahu Toni tertarik pada anak magangnya.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Tolong like, komen dan votenya ya bestie, kirim-kirim bunga atau kopi juga boleh
__ADS_1