
Fara telah menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya. Ia berdiri kemudian mengalungkan tangannya di leher Toni. Toni hanya terdiam, bohong kalau ia tidak tergoda. Tapi sekuat mungkin ia menahan gejolak rasa dalam tubuhnya.
Fara mencium lembut bibir Toni sambil tangannya menari-nari di dada bidang Toni. Fara merasakan sesuatu yang mulai mengganjal di bagian bawah tubuh Toni.
Fara tersenyum miring, ia merasa menang bisa menaklukkan Toni. Cowok yang jadi incarannya selama ini, yang selalu mengabaikannya selama ini.
"malam ini aku milikmu Ton" Fara berbisik lembut di telinga Toni membuat Toni semakin tak kuasa menahan gejolak dalam tubuhnya. Fara membelai-belai tubuh Toni, perlahan tangannya turun ke bawah meraih handuk yang melilit di pinggang Toni.
"hentikan Far....!" ucap Toni dengan suara beratnya menahan sesuatu yang sudah sampai ubun-ubun
"kenapa Ton? Jangan munafik! Kamu pasti pernah melakukannya kan?" goda Fara
Toni diam tak menyahuti ucapan Fara, ia masih memejamkan matanya. Perlahan Fara memutar tubuh Toni dan mendorong tubuh Toni kasar ke atas tempat tidur.
Toni kaget kemudian ia membuka matanya, mendapati Fara mulai bergerak menaiki tubuhnya dengan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
"hentikan Far....!" ucap Toni yang mulai kehilangan akalnya
Fara hanya tersenyum menggoda kemudian ia menarik handuk Toni hingga terlepas. Perlahan Fara memegang tongkat ajaib milik Toni dan *******-***** lembut milik Toni.
Mendapat sentuhan seperti itu tongkat ajaib Toni semakin tegak berdiri. Toni mendesis menahan gejolak tubuhnya, ia tak ingin melakukannya dengan orang yang ia benci.
Fara turun dari atas tubuh Toni kemudian berjalan ke arah nakas yang terletak di sebelah tempat tidur. Toni memperhatikan apa yang akan dilakukan Fara selanjutnya.
Dengan gerakan cepat Fara mengambil sesuatu dari laci kemudian kembali menaiki tubuh Toni. Dengan cekatan ia merobek bungkus berwarna merah kemudian mengeluarkan isinya.
Toni terbelalak, mengetahui apa yang dipegang Fara. Dengan gerakan lembut Fara memakaikan pengaman pada tongkat milik Toni.
"Fara jangan...! Atau kamu akan menyesal! Aku tak mau menodaimu!" ucap Toni dengan mata sayu dengan suara berat menahan sesuatu yang ingin ia keluarkan
"aku tidak akan menyesalinya Ton...kamu yang aku inginkan selama ini" ucap Fara dan dengan gerakan cepat Fara memasukkan tongkat milik Toni ke dalam intinya.
Fara dan Toni sama-sama menggeram, merasakan sesuatu yang belum pernah Toni rasakan. Fara mulai menggerakkan tubuhnya naik turun di atas tubuh Toni dengan gerakan pelan tapi pasti dan ******* yang keluar dari mulut Fara.
Toni terkejut, Fara begitu menikmatinya dan tak terlihat merasakan kesakitan. Toni curiga terhadap Fara "Fara kamu sudah tidak...?"
"ssttt..." Fara berhenti dari gerakannya dan menaruh telunjuknya di bibir Toni "iya...malam ini kamu nikmati saja ya..." Fara menggerakkan lagi tubuhnya naik turun.
"aku kira kamu masih suci, aku tak ingin menodaimu, baiklah kalau itu yang kamu mau, jangan mengeluh atau memintaku berhenti" Toni membalik posisi mereka sehingga Toni yang berada di atas.
__ADS_1
Fara tersenyum penuh kemenangan "lakukanlah....malam ini aku milikmu" Fara mengalungkan tangannya pada leher Toni.
"jangan menyesalinya!" Toni mulai memajumundurkan tubuhnya dengan ritme pelan. *******-******* bersahut-sahutan keluar dari mulut mereka berdua.
Toni tersenyum miring "ternyata balas dendamku lebih cepat dari yang aku perkirakan, rasakan kamu Fara" batin Toni sambil mempercepat gerakannya yang tadinya lembut berubah menjadi kasar.
Awalnya Fara menikmati, bahkan Fara berhasil mencapai puncaknya sebanyak dua kali. Tapi Toni tampak masih belum ada tanda-tanda akan selesai. Gerakan Toni semakin cepat dan semakin tak beraturan ia ingin membuat Fara kesakitan dan menyesali perbuatannya.
Toni mengambil kaos yang tadi ia pakai, ia mengikat tangan Fara memakai kaosnya. Gerakan Toni semakin kasar, yang ada dipikirannya hanyalah kebencian pada Fara dan kakaknya.
Fara berteriak "Toni hentikan...! Sakit Ton!"
Toni menulikan pendengarannya ia membekap mulut Fara dengan bantal agar teriakannya tak terdengar. Ia melampiaskan kekesalan, emosi dan dendamnya pada Fara.
Yang ia ingat mata Dina yang berkaca-kaca ketika Toni menyebutnya selingkuh. Semakin mengingatnya ia semakin kasar gerakannga. Suara Fara mulai tak terdengar, Toni menyingkirkan bantal yang ia gunakan untuk membekap mulut Fara.
Fara tampak sudah kehabisan tenaga, wajahnya nampak kelelahan dan menahan sakit yang luar biasa. Toni tersenyum miring menatap Fara yang sudah tergolek tak berdaya.
"kamu harus merasakan apa yang Dina rasakan" Toni semakin kasar, hampir satu jam Toni menggempur tubuh Fara. Toni merasakan ia hampir mencapai puncaknya. Tiba-tiba Toni mengejang mendorong, menekan tongkat miliknya semakin dalam ke tubuh Fara.
Tubuh Toni ambruk di atas tubuh Fara yang sudah terkulai tak berdaya. Toni mengatur nafasnya, setelah merasa nafasnya sudah teratur ia turun dari tubuh Fara. Merebahkan tubuhnya di samping Fara.
Ia melihat ke samping, menatap Fara yang tadi dengan gaya angkuh dan sombongnya meremehkan Roy sekarang terlihat sudah terlelap. Toni puas sudah membuat Fara terlihat hancur.
Toni bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sepuluh menit kemudian ia sudah keluar dari kamar mandi. Ia melihat Fara masih belum berubah posisinya.
Ia memakai baju yang sudah disiapkan oleh Fara tadi. Kemudian ia berjalan keluar ke ruang keluarga. Toni meraih gagang telepon dan menelepon seseorang.
"jemput aku di rumah Bian, jangan lupa bawa kameramu" Toni meletakkan gagang teleponnya. Ia berjalan keluar ke depan ke pos satpam.
"malam pak..." sapa Toni sopan
"malam den..." ucap satpam itu sopan
"nanti kalau Roy datang, suruh langsung masuk ya pak...soalnya saya dijemput Roy" ucap Toni sopan
"baik den...memangnya neng Fara kemana?"
"ada di dalam katanya sudah mengantuk" ucap Toni kemudian masuk lagi ke dalam rumah Bian.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Roy telah sampai di rumah Bian, ia berjalan menghampiri Toni yang duduk menunggunya di ruang keuarga.
"kenapa sepi?" Roy mengedarkan pandangannya
"mana kameranya?" ucap Toni datar
"buat apa Ton?" Roy heran dengan sikap Toni, kemudian mengulurkan kamera yang ia bawa
Toni mengambil kamera yang diulurkan oleh Roy, kemudian ia berjalan ke kamar tamu dimana Fara berada. Roy penasaran, ia mengikuti Toni dari belakang.
"astaga Ton....kamu yang melakukannya?!" Roy terhenyak melihat pemandangan Fara yang tampak mengenaskan. Toni mulai mengambil foto-foto Fara yang masih seperti semula ia meninggalkannya.
Setelah selesai mengambil foto-foto Fara, Toni menyelimuti tubuh Fara yang masih tak mengenakan sehelai benang pun. Kemudian Toni mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu kemudian meletakkannya di atas nakas sebelah tempat tidurnya.
"jangan bilang kamu melakukan perbuatan yang tidak-tidak kepadanya Ton!" Roy berang
"dia sudah tidak perawan saat bermain denganku, aku hanya menuruti keinginannyaa" ucap Toni datar mengambil barang-barang miliknya kemudian meninggalkan kamar Fara
"tapi Ton...!"
"simpan kejadian ini rapat-rapat, atau...."
"iya...iya Ton...aku akan merahasiakannya! Andai saja kamu mengajakku..."
Toni menatapa tajam pada Roy. Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal "aku juga ingin menikmati tubuhnya Ton..." ucap Roy lirih
"kalau kamu mau, aku tunggu tapi jangan lama-lama" Toni duduk di kursi ruang keluarga.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Hari ini meluncur 3 bab ya bestie...ditunggu like, komen dan votenya ya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1