Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 187 Balas budi


__ADS_3

"hemm Den...aku boleh tanya sesuatu?" Dina ragu


"tanya saja..." ucap Deni santai


"tapi aku takut kamu tersinggung.. "


Deni mengerutkan dahinya "memangnya apa yang ingin kamu tanyakan Din?"


"hemm....itu bukannya kamu satu kampus dengan Toni, tapi kenapa kamu sekaranh bekerja sebagai sopir taksi?"


Deni meletakkan sendok garpunya meneguk minumannya kemudian ia menceritakan kisahnya setelah ia lulus kuliah. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan garmen, namun dirinya harus menjadi korban phk karena perusahaanya bangkrut.


Belum lagi ibunya yang sakit-sakitan dan juga biaya sekolah adiknya memaksanya untuk menerima pekerjaan apapun asal bisa menghasilkan uang.


"kenapa kamu tidak mencoba meminta bantuan Toni, Den...kamu bisa bekerja di tempatnya" ucap Dina merasa iba


"aku nggak enak Din, ia sudah banyak membantuku waktu aku kuliah"


Deni menceritakan perkenalannya dengan Toni, bagaimana ia bisa dekat dengan Toni. Toni selalu menolongnya saat ia telat mendapat kiriman uang untuk membayar kuliahnya. Bahkan cerita tentang Dina sedikit banyak ia tahu.


Deni tak ingin berhutang lebih banyak lagi kepada Toni. Selain itu ia juga berat jika harus meninggalkan adiknya yang masih sekolah. Dina menjadi pendengar setia, ia merasa iba dengan apa yang dialami Deni.


Dina ingin membantunya, namun ia juga tak bisa berbuat banyak karena ia juga baru di kota S.


"sewaktu dia meminta bantuan mencarikan apartemen untukmu, aku penasaran cewek seperti apa yang bisa membuat Toni sampai jadi orang yang misterius" Deni sedikit terkekeh untuk menutupi rasa sedihnya karena mengingat kejadian-kejadian di masa lalu.


"aku cewek biasa saja Den...Toni saja yang berlebihan" Dina tergelak mencairkan suasana "tapi kamu benar nggak apa-apa mengantar jemput aku, pasti target setoran kamu akan berkurang"


"Toni sudah membayar jasaku Dina...kamu tenang saja...ya...hitung-hitung aku balas budi dengan tunanganmu itu"


"tapi tetap saja Den...aku sebenarnya tidak mau merepotkan orang lain, Toni saja yang terlalu berlebihan semuanya dia yang atur"


"itu karena dia sangat mencintai kamu"

__ADS_1


"besok-besok kalau kamu memang sedang nggak bisa bilang saja ya Den...aku bukan cewek manja"


Deni hanya tersenyum, jarang ia bertemu cewek seperti Dina. "pantas saja Toni sampai hancur, Dina sebaik ini" batin Deni.


Mereka melanjutkan makan sambil mengobrol sampai mereka lupa waktu. Tak terasa sudah pukul setengah delapan malam, akhirnya Dina memutuskan untuk pulang.


.


Satu minggu berlalu, Dina sudah mulai terbiasa dengan suasana tempat kerjanya. Dina yang ramah dan pandai bergaul membuat semua orang menyukai dirinya.


Meski Dina pandai bergaul namun ia belum mengenal semua karyawan yang ada di perusahaan itu. Dina orang yang teliti, tak sulit ia mengerjakan tugas-tugasnya berbekal pengalamannya menjadi sekretaris pengganti ternyata cukup membantu.


Dina sedang fokus membuat laporan pekerjaannya tiba-tiba ada yang mendatanginya "kamu bekerja di sini?"


Deg....


"suara itu..." batin Dina perlahan mendongak menatap orang yang berdiri di depan mejanya. Orang yang sudah lama tak pernah ia dengar kabarnya tiba-tiba berada di hadapannya.


"kamu juga bekerja di sini mas?" Dina mencoba biasa saja


"oh..." Dina kembali fokus mengerjakan laporannya


"sudah waktunya jam makan siang, ayo makan siang dulu..."


"ah...tidak terima kasih...aku tadi membawa bekal" ucap Dina kembali fokus pada layar komputernya.


Orang itu pun kemudian pergi meninggalkan Dina karena merasa diabaikan oleh Dina. Akhirnya Dina bisa bernafas lega, orang itu telah meninggalkan mejanya.


"kenapa mas Bimo juga bekerja di sini?" batin Dina


Sore harinya, Dina sudah mendapat pesan jika Deni sudah berada di depan kantornya. Dina pun bergegas merapikan meja kerjanya kemudian berjalan keluar dari ruangannya.


Ia pun sengaja turun melalui tangga karena tak ingin bertemu dengan Bimo lagi. Dina sudah malas jika harus menghadapi Bimo yang terlalu posesif.

__ADS_1


Dina telah sampai di depan kantor, mencari keberadaan taksi milik Deni. Sesaat sebelum Dina meraih gagang pintu ada yang mencekal tangannya.


Dina pun langsung menghempaskan tangan orang itu dan menoleh ke arah si pemilik tangan.


"aku antar ya Din..."


"nggak usah mas...aku sudah pesan taksi...." tolak Dina halus


Deni yang bingung dengan situasi saat ini, ia pun membuka pintunya kemudian keluar. "Ada apa Din?"


Bimo langsung menoleh ke arah Deni "Dina pulang denganku, sebaiknya kamu cari penumpang yang lain"


"maaf mas, saya sudah dibayar untuk mengantar jemput Dina" ucap Deni sesopan mungkin, ia ingat pesan Toni untuk menjaga Dina.


Bimo mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkan pada Deni "ini ganti rugi untuk mu"


Dina geram melihat perlakuan Bimo, merasa Bimo lengah Dina langsung masuk ke dalam taksi. Deni pun juga kembali masuk ke dalam sisi pengemudi.


Deni pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali melirik spion tengah melihat Dina yang ternyata menyandarkan tubuhnya dan menatap ke arah luar.


Tak biasanya Deni melihat Dina seperti itu, biasanya ada saja topik pembicaraan di antar mereka, namun kali ini Dina diam, terlihat sedang memikirkan hal yang sangat berat.


"kalau kamu ingin cerita, aku akan jadi pendengar setia" ucap Deni


Namun tak ada respon dari Dina. Deni tak lagi mengajak bicara Dina, ia tak mau mengganggu Dina. Mungkin Dina sedang membutuhkan privasi.


"dia mantanku Den, aku tak menyangka....dia berkerja di perusahaan yang sama denganku" ucap Dina lirih


Deni diam tak menanggapi, ia tahu saat ini yang dibutuhkan hanyalah pendengar yang baik. Hampir dua tahun menjadi sopir taksi, ia sudah paham betul, orang yang butuh teman mengobrol atau butuh orang yang mau mendengar keluh kesahnya.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2