Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 178 Panggil aku papa...


__ADS_3

Mama Tari pun meminta tamu-tamunya untuk makan siang karena waktu memang sudah menunjukkan jam makan siang.


"ini Dina yang masak?" tanya papanya Toni ketika memasuki ruang makan


"bukan om..." jawab Dina malu-malu


"ck....panggil aku papa...jangan om...kamu calon menantuku..." ucap papanya Dina penuh penekanan


"ba..baik...om..eh...pa..." Dina tertunduk malu, ia masih merasa tidak enak hati memanggil papa pada om Yanuar


"padahal aku kangen masakan kamu" ucap papanya Toni sambil mengambil nasi


"sop ayam itu Dina yang masak Yan...maaf kalau nggak sesuai selera" ucap mamanya Dina


"masakan Non Dina enak kok bu...dulu pernah beberapa kali membantu saya memasak" celetuk mbok Nah. Papanya Dina menatap tajam pada Dina.


Mbok Nah yang paham dengan tatapan itu pun menjelaskan "dulu kalau ada jam kosong atau pas istirahat siang kadang Non Dina main ke rumah, ya tidak terlalu sering..." timpal mbok Nah


"Din...itu Toni ambilkan makan" ucap mamanya Dina


"ya ma..." Dina pun mengambil piring dan mengisi dengan nasi "mau makan lauk apa?" tanya Dina pada Toni


"apa saja yang kamu ambil aku makan, porsi dobel ya..." ucap Toni mengembangkan senyumnya


"dobel?" Dina kebingungan tumben Toni makannya banyak


"iya itu Din... sepertinya Toni kelaparan, menjawab pertanyaan papamu seperti cukup menguras tenaganya" bisik Vanya ditelinga Dina. Dina hanya tersenyum menanggapi ucapan calon kakak iparnya itu.


Dina membawa sepiring nasi jumbo beserta lauknya dan juga semangkuk sop ayam ke teras depan. "ini makanlah dulu" Dina melatakkan di atas meja terasnya kemudian ia berbalik mau masuk ke dalam namun tangannya dicekal oleh Toni.


"mau kemana?"


"ke dalam dulu sebentar" jawab Dina


"di sini saja" Toni menarik tangan Dina lembut dan menyuruhnya duduk di pangkuannya


"malu ah..." Dina memilih duduk di kursi sebelah Toni

__ADS_1


"hari ini kamu cantik sekali, jika saja ini di rumahku aku akan mengurungmu di kamar seharian" Toni mengedipkan matanya, sedangkan Dina membelalakkan matanya.


"ayo makan, aku yakin kamu tadi pagi pasti belum makan" ucap Toni lembut menyuapi Dina


"kamu makan saja, aku nanti saja di dalam"


"aku sengaja meminta kamu mengambil porsi dobel agar kita bisa makan sepiring berdua" ucap Toni menyendokkan nasi


"malu ah...Ton..."


"kenapa malu? Kita sekarang sudah resmi bertunangan, aku calon suami kamu buat apa malu" Toni menyuapkan makanan ke mulut Dina.


Papa dan mamanya Dina melihat interaksi mereka berdua dari dalam rumah sambil tersenyum. Toni terlihat begitu memanjakan Dina "kini aku bisa lega putriku satu-satunya menemukan jodoh yang begitu menyayanginya" ucap papanya Dina


"dari awal pertemuanku dengan Dina, aku sudah yakin jika dialah jodoh untuk anakku" ucap papanya Toni yang yernyata berada di sebelah mereka "keberadaan Dina membawa pengaruh baik buat anakku yang dulunya sangat susah diatur, kini ia menjadi sosok yang begitu bertanggung jawab"


"semoga tak ada halangan sampai hari pernikahan mereka" ucap mamanya Dina.


"ngomong-ngomong soal hari pernikahan, aku ingin secepatnya mereka menikah" ucap papanya Toni


"hah...?!" papanya Dina terkejut


.


Toni masih menyuapi Dina bergantian dengan dirinya. Cinta di hati Toni semakin bertambah besar. Restu dari kedua orang tua Dina sudah ia dapat sudah tak ada lagi rintangan di hadapan mereka.


Setelah selesai makan, Dina pun membawa piring yang tadi ia pakai ke dalam. Semua orang telah menunggu pasangan tunangan baru itu untuk duduk kembali bersama mereka.


Toni pun masuk kembali ke dalam, sedangkan Dina telah kembali dari dapur dan duduk di sebelah Toni.


"sekarang kita bahas masalah tanggal pernikahan Toni dan Dina" paman Dina berbicara sambil menatap Dina dan Toni "bagaimana? Kapan akan segera dilangsungkan?"


"aku ingin secepatnya..." jawab Toni dan mendapat cubitan dari Dina "awhh...apa sih sayang...." semua menatap ke arah Toni dengaj senyum penuh arti


"aku setuju....mereka sudah dewasa lebih baik segera menikah" ucap papanya Dina. Dina tak percaya dengan ucapan papanya yang baru saja terucap, kemarin papanya menyuruhnya untuk bekerja dulu tapi kenapa sekarang berubah pikiran


"aku juga setuju....bagaimana kalau bulan depan?" ucap papanya Toni

__ADS_1


"jangan....jangan....jangan bulan depan" protes Dina. Papanya Dina tersenyum penuh arti, ia memang sengaja membuat suasana kembali tegang, karena ia tahu Dina telah diterima bekerja di kota S


"kenapa sayang...? Bukankah itu lebih baik daripada minggu depan...aauwhh....." ucap Toni dan kembali mendapat cubitan dari Dina


"aku sudah pernah bilang kepadamu kan? kalau aku ingin bekerja dulu, menikmati masa mudaku setidaknya 1 atau 2 tahun lagi"


"tapi itu terlalu lama sayang...." ucap Toni dengan tatapan sendu. Papanya Dina sengaja diam tak akan menengahi, ia hanya ingin menjadi penonton toh yang akan menikah bukan dirinya tapi anaknya jadi ia serahkan semua pada Dina.


"kalau masalah kerja, kamu bisa kerja di perusahaan papa Din..." ucap papanya Toni


"iya...aku kemarin sudah meminta pada papa dan Toni agar kamu jadi asistenku Din..." ucap Vanya


"tapi aku sudah diterima kerja kak..." ucap Dina lirih


"apa...? dimana? Kenapa kamu enggak cerita Din?" Toni terkejut


"maaf..." ucap Dina lirih "aku diterima kerja di sebuah pabrik elektronik di kota S, waktu kamu mencariku kemarin sebenarnya aku pergi ke sana untuk wawancara dan akhirnya aku diterima" Dinw tertunduk ia tak berani menatap Toni ataupun om Yanuar.


"aduh Din...bukankah aku sudah berjanji membantumu mencari pekerjaan, kenapa masalah sepenting ini kamu enggak cerita?" Toni terlihat frustasi ingin sekali marah namun ia tak bisa.


"sudah...sudah...jangan berdebat, kamu sudah tanda tangan kontrak kerja?" tanya papanya Toni dan dijawab anggukan oleh Dina


"baiklah...ada syarat apa jika kamu membatalkan kontrak itu?" tanya papanya Toni santai ia tahu Dina tak ingin merepotkan orang lain


"aku harus membayar pinalti sebesar xx juta pa..." ucap Dina lirih


"aku akan membayarnya..." sela Toni


"jangan begitu Ton....aku menandatangi kontrak untuk training selama 3 bulan dan jika aku lolos aku diterima sebagai staff di sana" Dina mencoba menjelaskan ia tahu semua resikonya


Dina sangat ingin bekerja dan hidup mandiri. Selama lima tahun ia kuliah, ia tak mau ilmu yang ia dapat ia simpan begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2