Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 186 Aura Dina


__ADS_3

Toni mengantarkan Dina sampai di lobi perusahaan tempat Dina akan bekerja. Dina merasa tidak enak mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang lalu lalang di sana.


"sudah pergilah...nanti terlambat" ucap Dina lembut


"kamu mengusir aku?"


"bukan begitu, kamu harus segera kembali ke kantormu, jangan tinggalkan kantor terlalu lama, ingat ada karyawan dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya di perusahaanmu"


"ckk...kamu itu...mana bisa aku berpaling dari perempuan sebaik kamu" Toni mengecup kepala Dina kemudian ia meninggalkan Dina.


Meskipun berat, namun harus ia lakukan. Benar kata Dina, banyak karyawan yang menggantungkan nasib mereka di perusahaan milik Toni.


Dina berjalan masuk ke dalam ruangan personalia. Kebetulan kepala personalia sudah datang.


"kamu karyawan baru ya..."


"iya pak..."


"kamu ditempatkan di bagian quality control, ruanganmu ada di sebelah lift tadi" ucap kepala personalia


"baik pak, saya permisi" ucap Dina sopan


"semoga lancar ya...dan diterima sebagai karyawan tetap" ucap kepala personalia itu. Dina hanya mengangguk penuh hormat dan berjalan ke arah ruangan yang tadi ditunjukkan oleh kepala personalia.


Dina masuk, dan ia berkenalan dengan teman-teman satu bagiannya. Mereka semua ramah-ramah namun sebagian besar adalah karyawan laki-laki. Dina tidak terlalu mempedulikannya, ia sudah terbiasa satu tim dengan laki-laki.


Hari pertama Dina lalui dengan lancar tak ada kendala apapun. Semua membantunya untuk mempelajari tugas-tugasnya.


Jam pulang kantor pun tiba, Dina keluar dari gedung kantornya dan berjalan ke depan karena ia sudah ditunggu oleh Deni.


"sudah lama menunggu ya..." Dina masuk ke dalam taksi Deni


"nggak juga...mungkin sekitar sepuluh menit" ucap Deni santai "mau kemana dulu?" tanya Deni smabil menyalakan radio mobilnya


"langsung pulang saja Den....kasihan kamu nanti setorannya kurang lagi..."


"tenang saja...tunanganmu itu sudah membayar argo taksiku" Deni terkekeh


Dina tak melanjutkan pembicaraan lagi, akhir-akhir ini ia merasa jenuh, semua diatur oleh Toni, makan, minum, apartemen transportasi semua diatur oleh Toni.

__ADS_1


"hemmm Den...mampir di cafe dulu ya...kamu tahu tempat enak buat nongkrong nggak?"


"oke...aku tahu tempat yang cocok buat kamu" Deni mengenderai taksinya dengan kecepatan sedang menuju cafe yang tak jauh dari kantor Dina.


"sudah sampai..."


"Den...temani aku yuk..." ucap Dina santai


"tapi Din...tugasku hanya sebagai sopir kamu" tolak Deni


"ck...aku tidak punya teman di sini, ayolah...aku yang traktir..."


Karena kasihan melihat Dina akhirnya Deni pun ikut masuk ke dalam cafe itu. Ternyata sangat ramai, padahal biasanya sepi di hari senin.


Dina sengaja memilih tempat duduk di pojok yanh jauh dari pintu karena ia ingin mencari ketenangan.


"hemm...Din...kamu tidak malu di sini bersama aku...." Deni melihat ke baju yang dipakainya. Dina mengerti maksud Deni dan tersenyum "kenapa malu? Kamu bukan suami orang kan?" Dina terkekeh


Deni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kagum dengan Dina, yang ternyata tidak memandang orang dari status sosialnya padahal Dina adalah calon menantu keluraga kaya raya di kota K.


Namun Dina telihat ramah dan baik pada dirinya yang baru saja ia kenal, dan juga tidak malu duduk di cafe bersama sopir taksi padahal kalau dilihat-lihat aura yang Dina pancarkan, terlihat anak orang kaya, cantik, anggun, perempuan yang memilik sejuta pesona.


"kamu pesan saja...jangan sungkan..." Dina membolak-balik menu yang ada di tangannya, kemudian ia melambaikan tangannya pada pelayan. Pelayan itu pun datang dan bersiap mencatat pesanan Dina.


"saya pesan green tea latte satu dan juga chicken cordon bleu pakai mashed potato ya mbak" ucap Dina sopan "kamu pesan apa Den?"


Deni tampak bingung, ia melihat harga yang tertera membuatnya tak enak hati jika memesan makanan. "ayolah Den...sekalian makan malam ini sudah hampir jam enam"


"saya pesan nasi goreng dan teh manis panas saja ya mbak" ucap Deni ragu


Dina hanya menatap heran pada Deni, tapi ia menghargai Deni tak mau menyinggungnya. "Ada lagi pesanannya?" tanya pelayan itu sopan


"itu saja dulu mbak...terima kasih" ucap Dina tersenyum ramah


"baik, akan segera kami siapkan" ucap pelayan itu sopan kemudian meninggalkan Deni dan Dina.


Deni semakin terpesona dengan senyuman Dina. Menurutnya Dina ini tidak terlalu cantik tapi auranya benar-benar bisa membuat orang lain tertarik. Caranya membawa diri, tingkah lakunya semuanya begitu menarik.


"hemm Den...kamu kenal dekat dengan Toni?"

__ADS_1


"dekat sih nggak terlalu ya...ya cukup akrab lah...kenapa memangnya?"


"aku hanya ingin tahu dulu Toni di kampus itu seperti apa sih?"


"hemm...dia itu orang yang misterius...nggak semua anak kampus tahu siapa Toni, kalau saja ia tak pernah membawaku ke rumahnya aku juga nggak akan tahu siapa dia"


Dina mengerutkan dahinya "misterius? perasaan dia itu orangnya ramah dan pandai bergaul"


"kamu tanya dia dulu di kampus kan...ya begitu itu..." Deni terkekeh


"terus...terus...apalagi, sejak aku lulus nggak pernah lagi bertemu dengannya ternyata dia berubah ya..."


"dia itu kalau di kampus dijuluki si ganteng bermuka datar" Deni terkekeh "dia itu ke kampus kalau ada kuliah saja, awalnya sih...terus lama-lama aku mencoba membujuknya akhirnya ia ikut tim basket dan juga band kampus"


"ya memang itu hobinya...kalau soal dua itu ia tak akan bisa menolaknya.." Dina tersenyum


"sampai-sampai banyak cewek kampus yang tergila-gila padanya namun balik lagi...dia itu misterius...selesai acara langsung ilang" Deni terkekeh


"masak begitu sih Den..." obrolan mereka terhenti karena pelayan mengantarkan pesanan mereka. "ayo sambil makan sambil ngobrol"


Mereka berdua pun mulai makan dan melanjutkan obrolan mereka "terus apa Toni pernah punya pacar?"


Deni terkekeh "pacar...? Bahkan cewek telanjang di depannya ditinggal begitu saja"


"masak iya begitu" Dina tidak percaya


"itu benar Din...dia itu nggak punya waktu...dia itu jika ada waktu luang pasti ke kota J, namun aku pernah dikasih tau sama pembantunya, Toni begitu sejak putus dengan kamu"


Dina menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Tidak mungkin hanya gara-gara putus dengannya Toni jadi orang yang misterius seperti itu. Rasanya Dina tak ingin percaya tapi ia teringat cerita Toni hampir sama dengan yang Deni katakan.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2