
"Masak sih....enak lho...punya calon istri anak presiden, udah cantik, kaya, bapaknya berkuasa, pasti hidup kamu enak nantinya" goda Dina
"buat apa semua itu kalau nggak ada cinta, nggak akan bahagia"ucap Toni kesal
"banyak orang menikah tanpa cinta, tapi hidup mereka baik-baik saja, bahagia sampai tua..."
"sayang....cukup...aku hanya mau kamu yang jadi istriku, bukan orang lain" Toni semakin kesal
Dina tergelak, melihat Toni yang terlihat semakin kesal karena ia menggodanya. "Apanya yang lucu?" Toni semakin kesal
"iya....iya...aku percaya..." Dina tergelak. Tiba-tiba tawanya terhenti melihat Toni menatapnya tajam.
"kenapa kamu pakai baju seksi hemmm?" Toni membelai wajah Dina
"aku harus pakai apa? Di lemari hanya ada baju seperti ini dan baju pesta" Dina mengerucutkan bibirnya "kamu sengaja kan..?"
Toni terkekeh "memang.....kamu benar-benar cantik memakainya sayang..." Toni membelai wajah Dina dan menatapnya dengan tatapan teduh
Toni mendekatkan bibirnya ke wajah Dina, mengecup dahi, mata, hidung kemudian bibir Dina dengan lembut "aku mencintaimu sayang..." ucap Toni lembut
"aku juga mencintaimu" Dina mengalungkan tangannya di leher Toni
"bolehkah sayang?" ucap Toni lembut, Dina menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Toni bangkit berdiri, ia melepas semua pakaian yang menempel di badannya hingga tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Kemudian ia mengukung Dina kembali dan mulai menciuminya dengan lembut.
Ciuman Toni turun ke leher Dina, ia mencium setiap jengkal leher Dina dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Ia pun menurukan tali baju Dina, kemudian menciumi dadanya.
Perlahan Toni menurunkan baju yang dipakai Dina hingga gunung kembar Dina terlihat menantang. Toni menghisap salah satu puncak gunung kembar tangannya tak tinggal diam ia memainkan gunung kembar milik Dina satunya.
"sshhh....ssaaa...yaa...nngg...." desah Dina tak kuasa menolak setiap sentuhan Toni. Tangan Toni pun mulai ke bawah, ke bagian inti Dina, ia membelainya "sudah basah ternyata..."
Toni mulai memainkan inti Dina dengan tangannya, ia memasukkan jarinya ke dalam inti Dina dan mulai mengobrak-abrik pertahanan Dina. Dina semakin menggeliat ia tak kuasa menahan gejolak rasa setiap sentuhan Toni.
"sayaang.... Kamu terlalu lama" ucap Dina kemudian membalik posisi mereka sehingga Dina berada di atas tubuh Toni, kemudian ia menenggelamkan tongkat sakti milik Toni ke dalam intinya "aaahhhhh......." teriak mereka berdua bersamaan
__ADS_1
"milikmu sempit sekali sayang...." ucap Toni merasakan apa yang selama ini ia rindukan. Dina tak menghiraukan ucapan Toni, ia mulai mengerakkan pinggulnya naik turun hingga gunung kembarnya berayun bebas.
Toni memegang, meremas, sesekali memainkan puncak gunung kembar Dina. Gerakan Dina semakin liar, ia terlihat begitu menikmati apa yang ia rasakan. Bukan ******* lagi yang keluar dari bibir Dina, melainkan teriakan karena ia merasakan begitu nikmat tongkat milik Toni.
"ssaayaanngg.....milikmu...besar sekalii.....aku nggak tahan.....aahhhh..........aaku keluar....aahhhh...." Dina mencapai puncak kenikmatannya ia berteriak, mengejang kemudian ia ambruk di atas dada Toni dengan nafas terengah-engah
Toni merebahkan tubuh Dina di sampingnya tanpa melepas penyatuannya. "Aku akan membuatmu tak bisa berjalan sayang..." ucap Toni dengan mata berkabut gairah.
"siapa takut...?" Dina tersenyum mengejek
"baiklah...." Toni mulai memajumundurkan pinggulnya dengan cepat dan sesekali mendorong Dina dengan keras "ini hukumanmu karena suda bertemu dengan mantanmu"
Dina juga mengikuti gerakan Toni, ia menggerakkan pinggulnya naik turun "aku juga akan memberikan kamu kepuasan yang tak pernah kamu dapatkan dari mantan-mantan kamu"
Mereka berdua bergerak liar saling memberikan kenikmatan, Toni membalik tubuh Dina hingga Dina memunggunginya kemudian ia memasukkan tongkatnya dari arah belakang, gerakan Toni semakin kasar, Dina hanya bisa mendesah menjerit nikmat, entah sudah berapa kali ia mencapai puncaknya Dina sudah tak bisa menghitungnya lagi.
******* dan jeritan mereka berdua bersahut-sahutan, bahkan mereka berdua menjadikan kamar itu sebagai arena pergulatan mencari kenikmatan mereka berdua. Kamar yang tadinya rapi, kini semua barang-barang yang ada di situ berantakan karena aktivitas mereka berdua.
Bahkan Toni mencapai puncaknya sebanyak dua kali, sungguh pengalaman yang belum pernah ia rasakan. Mereka bergulat hingga ayam jantan mulai berkokok. Dina terlihat kelelahan, dan Toni pun menyudahi aktivitas mereka.
"terima kasih sayang...kamu yang terbaik..." ucap Toni membelai rambut Dina
"iya sayang....aku percaya padamu..." Toni memeluk Dina kemudian mereka berdua pun tertidur.
Dina merasa terusik karena cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Dina mengerjapkan matanya, ia terbangun dan mendapati ia hanya sendirian.
Ia menatap sekeliling, mencari keberadaan Toni namun tak ada. Ia menatap ke samping tempat tidur sudah tersedia sarapan untuknya. Dina berusaha bangun, namun badannya terasa remuk dan bagian intinya terasa nyeri.
Dina melihat setangkai mawar merah dan ada secarik kertas, ia mengambilnya dan membacanya.
Sayang...aku pergi sebentar, ada yang harus aku selesaikan, kamu makanlah dulu, jika terasa sakit jangan bangun, tunggu aku datang
Dina meletakkan kertas itu, dan meminum air putih kemudian ia memakan sarapan yang telah disediakan oleh Toni. Dina mengambil remot tv dan menyalakan dan Dina pun tertidur kembali.
"sayang...." Toni mengecup dahi Dina membuat Dina terbangun
__ADS_1
"kamu dari mana?" ucap Dina sambil mencoba bangun
"dari rumah mama....." ucap Toni jujur
"kenapa?"
"aku mencoba membatalkan perjodohan yang mama buat"
"terus...?" Dina penasaran
"mama tetap memaksa aku menikahi Lea" ucap Toni lirih
Dina tersenyum "kalau demi kebaikan keluarga kamu, aku rela mengalah"
"jangan....aku tidak peduli perjodohan itu" Toni tiba-tiba ketus
"sayang....aku juga ingin mendapat restu dari mama kamu" ucap Dina lembut
"tidak perlu sayang....mama tidak pernah peduli padaku, nggak usah kamu pikirkan" ucap Toni kemudian ia meraih tubuh Dina
"jangan begitu, dia tetap mama kamu sayang.....kita harus tetap mendapatkan restu darinya" ucap Dina lembut
"entahlah sayang....aku ragu....papa sudah merestui kita, itu sudah cukup bagiku" Toni membelai tubuh Dina
Dina hanya diam, ia tidak tahu apa yang membuat mamanya Toni masih tidak merestui mereka. Dalam hati kecilnya ia ingin egois namun kedua orang tuanya pasti tak akan mau.
Mereka pasti menginginkan mamanya Toni juga merestui mereka berdua. Dina juga tak ingin terlalu jauh terlibat dalam masalah Toni dan mamanya, karena ia tak ingin memperkeruh suasana.
Dina mempercayakan semuanya pada Toni. Ia percaya Toni pasti akan memberikan yang terbaik untuknya.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g