Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 32 Bintang Jatuh


__ADS_3

Karena terlalu lelah Toni pun tertidur. Toni terbangun sekitar pukul 6 sore. Rumah masih sepi, papa mamanya belum pulang. Hanya ia dan mbok Nah yang ada di rumah yang cukup besar itu.


Sebenarnya Toni kesepian, kesehariannya hanya ada dia dan mbok Nah. Mama papanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Itulah yang membuat Toni bisa terjerumus dengan pertemanannya dengan Bian.


Bian yang selalu mengajaknya berkumpul, berlatih atau pergi kemana pun yang mereka mau. Tapi sayangnya pengaruh buruk Bian yang mudah masuk ke dalam pikirannya.


Toni sudah menyelesaikan makan malamnya, ia kembali ke kamarnya. Ia duduk di balkon kamarnya, pandangannya menerawang jauh. Toni merasa dunianya telah runtuh, Dina yang telah jauh darinya bahkan mungkin tak akan mau bertemu dengannya lagi.


Meskipun Roy selalu mengatakan padanya jika Dina masih menyayanginya, tapi ia tidak bisa percaya begitu saja. Dina yang ia lihat akhir-akhir ini seperti saat mereka masih SMP dulu. Tak saling mengenal apalagi saling tegur sapa.


Dalam lamunannya ia melihat sekilas cahaya, seperti bintang jatuh. Ia memejamkan matanya dan mengucapkan harapannya dalam hati.


'SEMOGA SUATU SAAT AKU BISA KEMBALI BERSAMA DINA LAGI'


Itulah harapan Toni, ia meyakini jika ia mengucapkan harapan saat melihat bintang jatuh maka harapan itu akan terwujud suatu saat. Seutas senyum terbit dari bibirnya.


Setelah mengucapkan harapannya, perlahan rasa percaya dirinya mulai bangkit. Ia mulai merasa optimis Dina akan mau memaafkannya. Ia kembali turun, teringat jika Roy tadi meneleponnya.


Tutt...tutt...tutt..


^^^☎️halo malam^^^


"malam tante...Roy ada?"


^^^☎️ ini dari siapa?^^^


"Toni tante"


^^^☎️oh Toni, sebentar ya....^^^


Terdengar samar-samar suara mamanya Roy memanggil Roy


^^^☎️ Hallo Ton...ada apa?^^^

__ADS_1


"tadi menelepon ada apa?"


^^^☎️ mau tanya, kamu ikut camping antar sekolah tidak?^^^


"tidak...aku malas ikut"


^^^☎️oh....ya sudah... Dina ternyata akhir-akhir ini jarang terlihat karena dia ikut jadi panitianya^^^


"oh...begitu ya Roy...terima kasih ya..."


^^^☎️ iya...ya sudah aku mau tidur^^^


"eh Roy...nomor telepon rumah Dina berapa ya?"


^^^☎️ bukannya kamu sudah tahu?^^^


"aku lupa hehehe..."


"oke terima kasih Roy..."


Toni semakin bersemangat, karena lama mengabaikan Dina, ia sampai melupakan nomor telepon Dina dan sekarang ia telah mendapatkan nomor rumah Dina lagi.


Toni memberanikan diri menelepon rumah Dina, meski ia ragu Dina akan mengangkatnya tapi setidaknya ia mencobanya dulu.


tutt...tutt...tutt...


^^^☎️ halo, malam^^^


"malam...Dina ada?"


^^^☎️ Dina sedang keluar^^^


"baik terima kasih"

__ADS_1


Toni meletakkan gagang teleponnya. Ia menetralkan detak jantungnya yang sempat tak terkontrol. Toni mulai berpikir, Dina kemana malam-malam begini, biasanya Dina tak akan keluar rumah di atas jam lima sore.


Kecewa, itu yang ia rasakan, dengan langkah gontai ia kembali ke atas ke kamarnya. Ia mulai memainkan gitarnya, menyanyikan lagu yang sama yang pernah ia nyanyikan untuk Dina.


.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Toni sudah berangkat ke sekolah, ia ingin menunggu Dina di depan kelasnya. Ia ingin meminta maaf kepada Dina.


Lama menunggu Dina, sampai Roy datang tapi Dina belum muncul juga.


"tumben pagi-pagi di sini" ucap Roy datar


"aku ingin bertemu Dina" ucap Toni dengan nada tidak sabar


"Dina tidak masuk hari ini" ucap Roy datar


"Dina sakit?" Toni mulai kawatir


"tidak...!"


"terus Dina kenapa Roy?" Toni mulai tidak sabar


"saudaranya meninggal, dia di rumah menjaga neneknya karena papa mamanya pergi ke tempat saudaranya" terang Roy


"oh...ya sudah..." ucap Toni lesu. Dengan langkah gontai ia kembali ke kelasnya. Ketika ia ingin berbicara dengan Dina ada saja halangannya.


Semangat yang tadi membara, tiba-tiba hilang berganti dengan rasa pesimis. Ia merasa tak ada gunanya mengucapkan harapannya pada bintang jatuh semalam.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2