
Di hari pertama pembukaan restoran mereka, banyak pengunjung yang ingin menikmati hidangan yang disajikan di restoran mereka. Semua pengunjung merasa puas dengan menu makanan di restoran milik Toni.
Sebagai pemilik Toni ikut terjun langsung melayani tamu. Dina pun juga membantu Toni, ia bertugas menanyai para pengunjung tentang pelayanan dan juga rasa makanan mereka.
Hingga malam menjelang, banyak pengunjung yang datang. Dina sudah kelelahan, Toni mengajak Dina beristirahat di vila di sebelah restoran mereka.
"ini milik kamu juga?" tanya Dina saat masuk ke dalam vila
Toni hanya tersenyum, ia tak menjawab pertanyaan Dina. Toni membuka pintu kamar yang pernah ia tempati bersama Dina waktu itu.
"istirahatlah...kamu pasti lelah....aku kembali ke resto sebentar" ucap Toni lembut
Dina menarik tangan Toni "aku takut sendirian di sini" ucap Dina dengan wajah memohon
"baiklah....kamu mandilah dulu...di lemari itu ada beberapa baju kamu bisa memakainya" Toni menyunggingkan senyumnya kemudian ia keluar kamar.
Dina masuk ke dalam kamar mandi, tubuhnya sangat lelah, ia pun mengisi bathtube dengan air hangat dan menuangkan aromaterapi ke dalamnya. Dina masuk dan berendam menikmati aroma yang menenangkan. Dina memejamkan matanya karena merasa begitu nyaman.
Tiba-tiba ada sepasang tangan memijat bahunya, Dina membuka matanya dan melihat siapa yang memijat bahunya.
"aku kira kamu kembali ke resto" ucap Dina sambil tersenyum
"memang...aku baru saja dari sana" Toni membuka bajunya kemudian ia ikut masuk ke dalam bathtube. Toni memberikan pijatan lembut pada tubuh Dina.
"sayang...aku ingin segera menemui orang tuamu, aku ingin segera meresmikan hubungan kita" ucap Toni lembut sambil memijat tubuh Dina
"kamu ingat kan kata-kata papamu? Ia akan menemui orang tuaku saat aku sudah lulus kuliah" ucap Dina memejamkan mata menikmati pijatan Toni.
"kalau begitu cepatlah lulus..." ucap Toni lembut
"aku masih ingin menikmati masa mudaku Ton...aku tidak ingin buru-buru menikah"
"aku takut kamu akan pergi meninggalkanku jika aku tidak segera mengikatmu dalam sebuah ikatan suci"
"aku bisa pergi kemana? aku sudah menjadi milikmu seutuhnya....tak ada tempat lain yang bisa aku tuju" Dina masih menikmati pijatan Toni
__ADS_1
"aku menginginkanmu sekarang sayang...." Toni mulai meraba tubuh Dina, menciumi setiap inchi tubuh Dina. Dina hanya bisa mendesah menikmati setiap sentuhan Toni.
Toni mendorong tubuh Dina hingga Dina memunggunginya di dalam bathtube. Toni mulai memasukkan tongkat sakti miliknya yang telah berdiri kokoh tak tertandingi dari belakang tubuh Dina.
"aaagghhh...." Dina menjerit tubuhnya terhentak mendapatkan serangan tiba-tiba dari Toni
"aahh....sayang....milikmu sempit sekali..." Toni berhenti sejenak, menikmati pijatan dari dinding inti Dina yang membuatnya mabuk kepayang.
Toni mulai memaju mundurkan pinggulnya perlahan semakin lama semakin cepat. ******* demi ******* lolos dari bibir mereka. Dina menjerit mendesah menikmati desakan tongkat sakti milik Toni yang selalu membuatnya ketagihan.
"aaahh....saa...yaa..nnggg...a..kuu...nggak kuaat..." jerit Dina mendapatkan pelepasannya, tubuh Dina terkulai lemas Toni dengan sigap menahan tubuh Dina.
Toni mengangkat tubuh Dina, ia membantu Dina membilas tubuhnya kemudian ia mengambil handuk dan menggendongnya keluar dari kamar mandi.
Toni menidurkan Dina di ranjang miliknya. Ia melanjutkan apa yang telah ia mulai di kamar mandi karena tongkat miliknya masih berdiri kokoh tak tertandingi.
"sayang...kamu di atas ya..." ucap Toni dengan mata berkabut gairah dengan suara beratnya
"aku...nggak bisa sayang..." ucap Dina lirih
Tanpa berkata-kata Toni membalik posisi mereka sehingga Dina berada di atas tubuhnya.
"aaggghhh....." mereka mendesah bersamaan merasakan sensasi luar biasa yang baru mereka rasakan "sekarang gerakkan pinggulmu naik turun" ucap Toni dengan suara beratnya
Dina mulai menggerakkan pinggulnya sesuai apa yang Toni katakan, semakin lama Dina mulai terbiasa. Gerakannya semakin liar, ia sudah tak bisa mengingat apapun. Yang ia pikirkan hanyalah mencapai puncaknya.
Toni membantu menggerakkan pinggulnya naik turun. Gerekan meraka berdua semakin lama semakin liar. Hingga Dina mendapatkan pelepasannya kembali.
Toni membalik posisi mereka, ia memasukkan tongkatnya dari arah belakang tubuh Dina. Ia menggerakkan pinggulnya dengan gerakan cepat seperti ia sedang menunggangi kuda.
Ia masih belum puas, ia menarik tubuh Dina hingga memunggunginya di pinggir ranjang. Toni menggerakkan pinggulny kembali kali ini ia sambil memukul bokong Dina.
******* dan jeritan menggema di kamar itu. Mereka berbagi keringat beratapkan sinar bulan dan bintang, hingga hampir dua jam lamanya akhirnya Toni mendapatkan puncaknya. Tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh Dina.
"kamu hebat sayang..."ucap Toni dengan nafas terengah-engah
__ADS_1
"hmmm..." Dina sudah tak memiliki tenaga lagi.
"kamu itu candu bagiku....inilah sebabnya aku ingin segera menikahimu" Toni mulai menetralkan nafasnya
"belum menikah saja kamu sudah sering menggempurku habis-habisan, bagaimana jika kita menikah?" ucap Dina lirih sambil memejamkan matanya
"aku tak akan membiarkanmu tidur setiap malam" Toni tersenyum ia mencabut miliknya dari inti Dina "aahh....sstt..."
Toni menarik tubuh Dina, membenarkan posisi tidur Dina agar lebih nyaman. Setelah itu Toni pun membaringkan tubuhnya di sebelah tubuh Dina dan memeluknya.
"jika kamu hamil bagaimana" Toni membelai rambut Dina
"nggak akan..." jawab Dina tanpa membuka matanya
"tapi kita sering melakukannya sayang..."
"heemmm..." Dina tak menjawab lagi, ia begitu lelah dan mengantuk, tubuhnya terasa remuk. Setiap bercinta dengan Toni, ia selalu merasa badannya seperti terlindas truk.
Dina pun tertidur dalam pelukan Toni. Toni tersenyum melihat Dina tertidur dalam pelukannya. Ia merasa bahagia namun kebahagiaannya masih terasa belum lengkap. Ia mulai memikirkan, berandai-andai memilik anak dari Dina.
Namun Toni menghormati keputusan Dina. Ia ingin Dina benar-benar telah siap saat mereka menikah kelak. Ia tak ingin membuat Dina tertekan karena ia begitu ingin menikahinya.
Sebenarnya dalam waktu dekat ia ingin melamar Dina pada kedua orangtuanya dan bertunangan secara resmi di hadapan kedua orang tua masing-masing, namun Dina masih menolak.
Selain itu, ia masih belum bertemu mamanya yang telah berpisah dengan papanya beberapa tahun silam. Ia masih belum yakin mamanya akan menyetujui hubungan mereka.
Toni membelai rambut Dina, mengecup dahinya "aku tidak tahu kenapa aku bisa tergila-gila padamu" Toni terkekeh sambil mengecup kembali dahi Dina.
Hingga akhirnya ia pun juga tertidur, mereka berdua melewatkan makan malam. Selalu saja seperti itu jika mereka bermalam berdua. Makan malam selalu terlewatkan dan berganti makan tengah malam atau dini hari.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g