Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 153 Pesta yang rumit


__ADS_3

Ulang tahun PT Sumber Makmur, perusahaan dimana Toni dan Dina bertemu kembali diadakan di sebuah hotel berbintang di kota J. Semua kolega bisnis, karyawan beserta keluarganya diundang ke acara tersebut.


Toni menggandeng Dina masuk ke dalam aula dimana acara ulang tahun diadakan. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.


Seorang pengusaha muda, pewaris Wijaya Grup datang bersama dengan seorang cewek yang terlihat cantik dengan dandanan yang sederhana tidak seperti tamu undangan lainnya.


Toni sengaja menyuruh Dina menjadi dirinya sendiri, berdandan sesuai usia mereka, karena menurutnya Dina jauh lebih cantik ketika menjadi dirinya sendiri.


Toni menghampiri beberapa tamu yang ia kenal dan memperkenalkan Dina sebagai tunangannya. Semua tidak mengira jika Dina adalah tunangannya, mereka mengira Dina adalah adik Toni karena terlihat jauh lebih muda dari yang sebenarnya.


Toni menggandeng Dina berjalan ke arah tuan rumah yaitu om Ferdi. Terlihat pemilik acara sedang berbincang dengan beberapa orang.


"Malam om..." sapa Toni sopan


"eh...kamu Ton..." om Ferdi menyapa Toni


"selamat dan sukses untuk perusahaannya ya om..." ucap Toni sambil menjabat tangan om Ferdi


"terima kasih..." ucap om Ferdi mengembangkan senyumnya "kamu datang dengan siapa?"


"dengan tunangan saya om..." Toni menggeser sedikit badannya karena Dina berdiri di belakang Toni


"tunangan? Kenapa kamu nggak mengundang saya?" ucap om Ferdi sambil menatap Dina "sepertinya aku kenal?" om Ferdi mencoba mengingat-ingat


"selamat malam pak....selamat hari jadi perusahaan semoga sukses" ucap Dina mengulurkan tangannya, Om Ferdi mengulurkan tangannya juga, masih bingung mencoba mengingat siapa yang ada di hadapannya.


"Dina om...anak magang di sini tahun lalu" Toni terkekeh


"oh...iya....aku ingat sekarang...." om Ferdi tergelak "kalian sudah bertunangan?"


"belum resmi sih om....hanya di hadapan papa saja saya melamarnya" Toni tersenyum simpul


"kenapa belum resmi, segera resmikan...! saya tunggu undangannya"


"tunggu dia lulus dulu om..." ucap Toni malu-malu


Toni berbincang-bincang dengan om Ferdi dan beberapa kolega bisnisnya. Dina bosan, ia pun pamit kepada Toni untuk duduk di meja yang sudah di sediakan untuk mereka.


Sebelum duduk Dina mengambil beberapa makanan terlebih dahulu. Berdiri lama membuatnya merasa lapar. Dina berjalan, memilih-milih makanan yang tersaji di sana.

__ADS_1


"kamu Dina kan...?" sapa seseorang yang dari samping Dina.


Dina mendongak, menatap orang yang berbicara padanya "iya om..."Dina tersenyum sopan


"kenapa bisa ada di sini? Kamu karyawan di sini?" tanya orang itu


"bukan om....saya belum lulus..." ucap Dina sopan "om apa kabar?"


"baik...baik...tadi om ke sini diantar Bimo..." ucap orang itu yang tak lain adalah papanya Bimo


"ah...iya om..." Dina menjadi canggung ketika papanya Bimo menyebut namanya Bimo "maaf om...saya permisi dulu..." ucap Dina sopan


Dina ingin segera menghindari papanya Bimo, ia tak mau membicarakan Bimo dengan papanya. Ia sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bimo, terlebih Dina sudah membuang jauh-jauh nama Bimo dari hatinya.


Dina tak ingin lagi terjebak dalam masalah rumit dengan Bimo. Ia sudah lelah menghadapi Bimo yang makin hari semakin terlihat tak waras ketika bersamanya.


Toni masih terlibat pembicaraan dengan om Ferdi, entah apa yang mereka bicarakan, mereka terlihat sangat akrab.


"Toni...kamukah itu?" suara seorang cewek mendekat ke arah mereka. Toni menoleh hanya menatap datar pada suara yang menyapanya.


"kalian saling kenal?" om Ferdi menatap keduanya


"dia ini cowok yang papa jodohkan dengan saya om..." ucap cewek yang tak lain tak bukan adalah cewek yang mamanya Toni pilih


"papa dan mamanya Toni sudah menyetujui hubungan kami om" jawab cewek itu


Sedangkan Toni malas meladeni, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dina. Terakhir ia melihat Dina sedang mengambil makanan, sekarang sudah tak ada lagi.


Toni kembali mengamati sekelilingnya, dan melihat Dina duduk di meja yang tak jauh dari dirinya berdiri. Toni mengepalkan tangannya ketika melihat Dina.


"maaf om...saya permisi...saya mau mencari Dina dulu..." ucap Toni sopan


"iya...silahkan..."


Toni hendak melangkahkan kakinya namun tangannya dicekal oleh cewek tadi "kamu mau kemana?!"


"lepaskan Lea..." Toni menepis tangan Lea kemudian berjalan meninggalkan Lea bersama om Ferdi


Dina duduk sendiri, di meja bulat tak jauh dari Toni dan om Ferdi berbincang. Ia mulai menikmati makanannya, ketika tiba-tiba suara yang tak asing di telinganya berbicara padanya.

__ADS_1


"boleh aku duduk di sini?" ucap Bimo yang langsung menarik kursi di sebelah Dina. Dina hanya menatap datar pada Bimo yang seenaknya duduk di sebelahnya


"kamu ke sini dengan siapa?" tanya Bimo sambil mengambil makanan yang tadi diambil Dina.


Belum juga Dina menjawab, suara seseorang mengagetkan mereka dari belakang.


"denganku...!" ucap Toni tegas dengan tatapan tajamnya "sayang...maaf aku terlalu lama ya..." ucap Toni sambil mencium kening Dina


Bimo mengepalkan tangannya, ia masih tak rela Dina bersama Toni. "Aku kira kamu sudah dibuang oleh pacarmu itu!" ucap Bimo sinis


"apa kamu bilang?!" Toni kesal


"sayang...sudah...." Dina membelai dada Toni meredakan amarah Toni.


"Dina tunanganku...kamu jangan macam-macam!" ucap Toni dengan nada tinggi


"sayang...sudah....jangan bikin keributan di sini..." Dina berdiri memegang lengan Toni


"ayo kita pulang!" ucap Toni ketus, Dina menggandeng tangan Toni mengikuti Toni yang tampak menahan emosinya.


"Toni..." teriak Lea dari belakang, Dina menoleh namun Toni fokus berjalan keluar dari ruangan itu.


"sayang...." ucap Dina


"sudah abaikan saja...!" ucap Toni kesal dan jalannya semakin cepat


Dina hanya bisa diam, ia mengikuti apa mau Toni, dan masuk ke dalam mobil Toni. Ia tahu Toni marah karena kehadiran Bimo.


"sayang....aku bisa jelaskan...soal..." ucapan Dina terhenti ketika Toni tiba-tiba mencium Dina dengan kasar. Dina hanya bisa pasrah dan berusaha membalas ciuman Toni.


Ia tahu Toni marah, jika ia diam saja, emosi Toni akan semakin menjadi-jadi. Lama Toni menciumi Dina, perlahan ciumannya semakin lembut dan ia pun melepaskan ciumannya.


Toni diam, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya keluar dari area hotel itu. Ia masih emosi, ia berusaha menahan amarahnya seperti janjinya pada Dina.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


Jangan lupa ritualnya ya bestie...please like, komen dan votenya ya...


__ADS_2