
Toni melewati Roy begitu saja seolah-olah Roy tak ada. Roy menyusul Toni masuk ke dalam, ia menjadi lebih kawatir lagi setelah melihat Toni dengan raut wajah marah.
Toni masuk ke dalam kamarnya dan mengambil jaket dan kunci motornya.
"kamu mau kemana?!" Roy menghadang Toni
"mau pergi!" jawab Toni ketus
"jangan pergi! Kamu tidak boleh mengendarai motor dengan kondisi begini!" teriak Roy tak mau dibantah
"apa hakmu melarang aku?!"
"jangan bahayakan dirimu sendiri, kalau kamu masih mengharapkan Dina" ucap Roy datar
Toni berbalik masuk ke dalam kamarnya dan kembali melepas jaketnya. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidurnya menghadap ke jendela dengan tatapan kosong.
Roy menarik kursi dan duduk di dekat Toni, dia hanya diam menunggu Toni untuk berbicara.
"Dina tak mungkin kembali padaku Roy..." ucap Toni datar tatapannya kosong menerawang jauh ke luar jendela
"Dina sudah punya pacar sekarang"
"tahu dari mana kamu?" Roy mengerutkan dahinya
"aku baru saja bertemu dengan mereka" jawab Toni dengan nada sendu
"aku tidak yakin jika Dina sudah memiliki pacar lagi" ucap Roy
Toni menoleh ke arah Roy "memangnya kenapa?"
"yang aku tahu, Dina masih menyayangimu, dan masih belum bisa membuka hatinya untuk orang lain" Roy berdiri berjalan ke arah jendela kamar Toni dan berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya
"bagaimana kamu yakin?" tanya Toni dengan nada penasaran
"dari tatapannya kepadamu...."
"tapi...hari ini tatapannya lain kepadaku, ia begitu marah Roy..."
Roy menghela nafas, meski sekarang ia dan Dina bersahabat, tapi persahabatan di antara dua orang lawan jenis tak ada yang tak melibatkan perasaan.
Roy masih menyayangi Dina, tapi ia juga tak mungkin mengharapkan lebih dari sekedar bersahabat karena komitmen di antara mereka waktu masih sama-sama duduk di bangku SMP.
__ADS_1
"akhirnya aku tahu kenapa Bian begitu membenci Dina" ucap Roy menghela nafasnya
"hah...kenapa Roy?" Toni berdiri menghadap Roy
"Bian dulu pernah suka dengan Dina, tapi Dina tak pernah mempedulikannya"
"kapan itu Roy?!" Toni semakin penasaran
"sewaktu masih SMP" ucap Roy "dan yang aku tahu waktu SMP Dina tak punya banyak teman di luar kelas kami, Dina lebih fokus belajar dan mengaabaikan semua orang yang ingin mendekatinya"
"mungkin karena itulah Bian merasa dicampakkan oleh Dina" ucap Roy datar
"apa hanya karena masalah itu Bian begitu benci dengan Dina?" Toni mengepalkan tangannya
"memang tidak hanya karena itu, ia tak hanya benci dengan Dina, tapi ia juga ingin membuatmu menderita" ucap Roy
"aku bingung Roy, apa salahku padanya sehingga ia bisa seperti itu" ucap Toni kesal
"kamu ingat dulu waktu kita kelas satu? Saat itu yang aku tahu adiknya Bian menyukaimu, tapi kamu sudah berpacaran dengan Dina"
"kamu tahu dari mana kalau Bian membenci Dina dan aku?"
"aku tadi pulang sekolah bertemu Deni, teman dekat Bian waktu SMP sampai sekarang mereka masih dekat"
"Deni memang dekat, tapi ia orang yang bijak tidak seperti Bian" ucap Roy menatap Toni yang raut wajahnya mulai berubah menjadi raut wajah penuh dendam
"aku ingat, dulu aku lebih memilih bersama Bian daripada Dina, dan setiap ada Bian adiknya pasti ikut, dan sering kali adiknya Bian mendekati aku dan meminta aku mengantarkan kemana yang ia mau" ucap Toni datar
"lantas kamu mau?" tanya Roy sedikit kesal, dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Toni
"kamu ingat waktu turnamen basket waktu itu?" tanya Roy
"turnamen yang mana Roy?"
"waktu kita kelas satu sebelum kamu putus dengan Dina" ucap Roy mengingatkan Toni
"memangnya kenapa?" Toni mengerutkan dahinya
"waktu itu, Dina masih sakit belum pulih benar, ia memaksan dirinya untuk datang menonton pertandingan, karena ia benar-benar menyayangimu ia tidak mempedulikan kondisinya" Roy menghela nafasnya
"aku mengajaknya duduk di barisan depan, tapi ia tidak mau, sepanjang pertandingan pandangannya tak lepas darimu"
__ADS_1
"setelah selesai, ia sengaja menunggu lapangan sepi ia ingin menghampirimu, tapi saat itu kamu bermesraan dengan adiknya Bian, aku tahu saat itu Dina sedih dan kecewa tapi ia menutupinya dariku"
Mendengar cerita Roy, Toni seakan dibawa ke masa lalu. Toni berusaha mengingat-ingat kejadian-kejadian sebelum ia dan Dina berpisah. Ia terlibat pertengkaran hebat dengan Dina, dan Dina menyebut Toni bersama cewek lain.
Toni menyadari kesalahannya, ia tidak tahu jika waktu itu Dina cemburu dan marah terhadapnya. Ia masih saja menyudutkan Dina, dengan menuduh Dina berselingkuh.
Toni mundur dan terduduk di lantai kamarnya, ia semakin marah terhadap dirinya dan Bian. Sekarang apa yang ia harapkan telah meninggalkannya, kesempatan yang mulai terlihat di depan mata hilang begitu saja.
"aku akan membalas Bian!" ucap Toni mengepalkan tangannya
"membalas? Membalas bagaimana?!" Roy membalikkan badan dan menatap Toni
"aku akan ikuti kemauannya, aku akan mendekati adiknya" ucap Toni dengan satu sudut bibirnya terangkat ke atas
"lantas Dina?! Berarti kamu tidak menyayangi Dina lagi!" ucap Roy dengan sorot mata marah
"Dina? Dina selamanya akan tetap di hatiku, dan aku akan mengejarnya dengan caraku" ucap Toni berubah menjadi sendu ketika menyebut nama Dina
"aku akan mendekati adiknya Bian, kemudian mencampakkannya dan mempermalukan mereka!" ucap Toni dengan kilatan amarah di matanya
"jangan mencari masalah kamu! Kamu tidak tahu siapa orang tua Bian!" ucap Roy mengingatkan jika keluarga Bian adalah salah satu keluarga yang berpengaruh di kota mereka
"aku akan melakukannya dengan cara halus Roy, kamu tenang saja" ucap Toni dengan salah satu sudut bibir terangkat
"aku mengenal mereka, mereka tak akan peduli dengan anak-anaknya, yang mereka pedulikan hanya uang, jadi kamu jangan kawatir Roy" Toni bangkit berdiri menepuk bahu Roy kemudian ia berjalan keluar dari kamarnya.
Roy terpaku ia bingung menghadapi Toni, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Toni, yang ia tahu itu adalah hal yang berbahaya. Ia pun menyusul Toni keluar kamar dan berjalan turun ke bawah.
Ternyata Toni pergi ke ruang makan, dan sudah duduk di meja makan, karena ia tadi belum sempat makan siang karena terlalu terpuruk. Roy berjalan mendekati mbok Nah yang sedang membereskan ruang keluarga.
"mbok...tolong nasehati Toni, ia mulai tidak waras sepertinya" bisik Roy
"hah...bagaimana maksudnya mas?" mbok Nah terkejut
"ia ingin balas dendam ke Bian" ucap Ŕoy
Mbok Nah makin bingung, tadi Toni begitu terpuruk bahkan sempat mengamuk, tapi sekarang Toni berubah menjadi pendendam. Tugasnya semakin berat, ia harus benar-benar mengawasi anak majikannya itu agar tidak berbuat nekad.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g