Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 122 Kedatangan Om Yanuar


__ADS_3

"percaya diri sekali kamu!" Mamanya Bimo kesal, ia tidak terima anaknya disebut-sebut mengejar Dina.


"sudah ma...malu...." bisik papanya Bimo "ayo ma...Bim....kami permisi dulu Pak Toni....Dina" ucap papanya Bimo sedikit malu. Toni hanya sedikit tersenyum


"kenapa papa sopan dengannya? dia siapa? paling juga mahasiswa nggak jelas masa depannya" cibir mamanya Bimo


"mama...! Dia itu anak pemilik wijaya grup" bisik papanya Bimo


Dina sama sekali tak memperhatikan keributan di depannya, ia terlalu malas meladeni Bimo dan mamanya.


"kak Tere....!" teriak Dina dengan senyum mengembang sambil melambaikan tangannya.


Dina berjalan menghampiri Tere "selamat kak....aku sudah menunggu dari tadi, lama sekali kakak keluarnya" ucap Dina sambil mencium pipi kiri dan kanannya Tere kemudian menyerahkan bunga yang ia pegang.


Toni memberikan ruang pada Dina bersama temannya. Ia masih berdiri di depan Bimo dan keluarganya. Sedangkan Bimo hanya bisa menatap Dina dengan tatapan yang sulit diartikan.


"jaga dia baik-baik.....jika kamu menyakitinya lagi, aku akan membuat perhitungan denganmu" ucap Bimo dingin


Toni hanya terkekeh mendengar ancaman Bimo, ia tak menghiraukannya. Kemudian ia berjalan menghampiri Dina dan Tere dan memeluk pinggang Dina kembali.


Toni ingin menunjukkan jika Dina miliknya dan sampai kapanpun akan tetap miliknya. Ia menengok ke arah Bimo dengan yang menatapnya dengan kilatan amarah di matanya, Toni tersenyum namun senyuman itu senyum mengejek Bimo.


Acara wisuda telah berakhir, Toni mengajak Dina pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Sesampainya di rumah Toni Dina duduk di kursi ruang tamu, ia merasa kesal karena dipermalukan oleh mamanya Bimo.


"ternyata mantanmu juga wisuda hari ini" ucap Toni duduk di sebelah Dina.


Dina menghela nafasnya "makanya aku mengajakmu, aku enggak mau dia merasa aku datang ke acara wisuda itu karena dia"


"jadi kamu memanfaatkan aku?" ucap Toni sedikit tidak terima


"aku tidak memanfaatkan kamu, aku pikir lebih baik mengajakmu daripada kamu dengar dari orang lain jika aku bertemu dengannya" ucap Dina datar


"aku percaya kamu....terima kasih karena telah jujur padaku" Toni memeluk Dina


"aku lelah menghadapinya sendiri, aku takut dia akan berbuat nekat, aku butuh seseorang yang bisa melindungiku" Dina terisak.


Dina merasa begitu lelah menghadapi Bimo, ia harus memilik tameng untuk sepenuhnya bebas darinya. Setiap hari Dina harus berusaha menghindari Bimo dan itu benar-benar melelahkan.


"aku akan selalu melindungimu" Toni mengecup dahi Dina.


"terima kasih sayang...." Dina mengeratkan pelukannya, bersandar di dada bidang Toni membuatnya jauh lebih tenang.


.


Hari-hari berlalu, Dina kembali ke rutinitasnya kembali. Ia berharap ini semester terakhirnya sebelum ia bisa mengambil tugas akhirnya. Toni pun juga disibukkan dengan proyek-proyek barunya dan kuliahnya.


Mereka saling meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya. Dina jarang sekali menginap di rumah Toni lagi. Namun Dina masih sering datang ke rumahnya untuk memasak untuk mereka berdua.

__ADS_1


Kebersamaan yang sederhana, hanya memasak kemudian makan malam dan sesekali mereka bercerita tentang apa yang mereka alami. Dina tak lagi menerima gangguan dari Bimo, meski terkadang Bimo masih muncul di kampus tapi ia tak mendekati Dina.


"sayang....kamu mandilah dulu, aku akan memasak untuk makan malam" ucap Dina ketika mereka berdua baru saja sampai rumah


"baiklah...." Toni naik ke kamarnya sedangkan Dina berada di dapur.


Tak lama terdengar pintu rumah diketuk. Dina keluar membukakan pintu.


"kenapa kamu ada di sini?" tanya orang yang baru datang


"sore om apa kabar? Tadi Toni meminta saya memasak untuk makan malamnya" ucap Dina sopan


"dasar anak nakal!" orang itu langsung masuk ke rumah "dimana dia?"


"sedang mandi om..."


"ya sudah aku tunggu di sini..." orang itu duduk di ruang tamu


Dina pun masuk ke dapur, dan membuatkan secangkir teh hangat untuk tamu yang baru saja datang. Kemudian ia melanjutkan memasaknya. Toni turun langsung ke dapur menghampi Dina yang sedang sibuk memasak.


"ada papamu di depan" ucap Dina tanpa menoleh ke arah Toni


"papa?" Toni pun keluar dari dapur


Dina menyelesaikan memasaknya, kemudian ia menyiapkan semuanya di meja makan. Setelah selesai ia pun mengambil tasnya dan hendak pulang ke kosnya.


"kenapa buru-buru Din?" ucap papanya Toni


"saya ada tugas om..." ucap Dina sopan


"setidaknya ayo makan dulu, kamu sudah capek-capek memasak masak langsung pulang" ucap papanya Toni


"iya Din...kamu makan dulu, daripada nanti kamu keluar lagi cari makan" ucap Toni lembut


Papanya Toni hanya geleng-geleng kepala melihat Toni yang seperti kucing manis di depan Dina. Ia mendapat laporan dari beberapa koleganya jika Toni orang yang tegas dan cenderung tak banyak bicara, namun ternyata Toni tak berubah sama sekali jika bersama Dina.


"baiklah..." Dina mengalah


Mereka bertiga ke ruang makan, papanya Toni sangat senang dengan masakan Dina, ia senang karena anak laki-lakinya sekarang sudah tak banyak berulah sejak kehadiran Dina kembali.


Mereka mengobrol layaknya keluarga. Dari awal kehadiran Dina sudah diterima baik oleh papanya Toni. Melihat tatapan penuh kebahagiaan dari Toni dan Dina membuat papanya yakin jika hanya menunggu waktu mereka berdua akan meresmikan hubungan mereka.


Namun sampai sekarang Toni belum mendapat restu dari mamanya, karena selama ini mereka jarang berkomunikasi. Mamanya sibuk dengan kegiatannya, dan mengabaikan keluarganya.


"Toni...papa ingin meminta bantuanmu" ucap om Yanuar


"apa pa...?"

__ADS_1


"bantu papa mengurus Wijaya grup beberapa bulan ke depan"


"memangnya papa mau kemana?"


"papa mau berlibur sekaligus berobat ke Singapura"


"kenapa lama sekali pa? Kan ada Vanya kenapa harus aku?" Protes Toni


"iya ada Vanya...kamu bantu kakakmu itu, ia akan kewalahan karena selama ini ia tak pernah terlibat mengurusi perusahaan"


Dina hanya menjadi pendengar setia, pembicaraan papa dan anak laki-lakinya. Dina melihat hubungan Toni dan papanya sudah jauh lebih baik daripada dulu saat mereka masih SMA.


"kamu tidak keberatan kan Din...om pinjam Toni, dia akan lebih sibuk beberapa bulan ke depan?"


"kenapa saya harus keberatan om, itu sudah kewajiban Toni kan? Lagipula bulan depan saya berangkat KKN" jawab Dina santai


"hah...?kenapa kamu nggak bilang Din?" Toni menatap Dina dengan tatapan kesal


"bukannya aku sudah cerita?"


"kapan?"


Papanya Toni hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka berdua. Mereka berdua memang pasangan serasi, mereka berdua juga mirip. Sikap tenang Dina mampu mengimbangi sikap Toni yang kadang meledak-ledak.


"sudahlah...aku pulang dulu...keburu malam" ucap Dina kesal


"kamu pulang naik apa? Ini sudah malam" ucap papanya Toni


"jalan kaki om, dekat ini" ucap Dina sopan


"nanti biar sopir om yang mengantar kamu"


"enggak om...tidak perlu"


Mereka bertiga berdebat masalah mengantar Dina, dan akhirnya Dina dan Toni mengalah. Dina pulang ke kosnya diantar oleh sopir papanya Toni.


Malam ini papanya Toni menginap di rumah Toni. Ia ingin melihat hasil kerja keras Toni. Selama ini ia hanya menerima laporan tentang perkembangan perusahaan yang dipegang oleh Toni namun tak pernah melihatnya secara langsung.


Papanya Toni juga bersyukur, beberapa bulan Toni kembali berpacaran dengan Dina, ia tak melupakan kewajibannya. Malahan perusahaannya lebih berkembang lagi. Itu bukti jika kehadiran Dina tak mengganggu kinerja Toni sama sekali.


Ia sempat kawatir, Toni akan mencampuradukkan masalah perusahaan dengan masalah pribadi, namun nyatanya kekawatirannya tidak terbukti. Kehadiran Dina menambah semangat Toni untuk terus maju.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2