
Toni membuka pagar pintu rumahnya, kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah. Roy langsung menuju ke ruang makan, mbok Nah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Roy.
"mbok, aku lapar" ucap Roy santai kemudian ia menarik kursi makan
"mas Roy ini.... Jam segini sudah lapar" ucap mbok Nah mengambilkan piring untuk Roy. Roy pun mulai membuka tudung saji di meja makan dan mengambil makanan.
Sedangkan Toni masuk ke dalam kamarnya, ia mencari kotak hadiah untuk Dina tapi tidak menemukannya. Kemudian ia turun dan mencari mbok Nah.
"mbok....mbok....mbok...." teriak Toni dari tangga
"iya mas...." mbok Nah bergegas menghampiri Toni
"mbok lihat kotak warna kuning ada pitanya?" tanya Toni sambil berjalan ke ruang makan
"mbok simpan mas...tadi tertinggal di meja makan, sebentar mbok ambil dulu..." ucap mbok Nah.
Toni menghampiri Roy yang sedang asyik makan, kemudian ia menarik kursi dan duduk di seberang Roy yang sedang makan.
"jadi, bagaimana caramu membalas Bian?" tanya Roy sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya
"aku akan ikuti permainan dia, aku ikuti kemauan dia..." ucap Toni dengan tatapan penuh amarah
"lantas Dina?" Roy meletakkan sendoknya
"sementara waktu aku akan menjauh darinya, tapi aku akan tetap mengawasinya dari jauh" ucap Toni dengan nada sendu
Mbok Nah berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Toni yang sedang mengobrol dengan Roy
"Ini mas..." mbok Nah menyerahkan kota warna kuning ke Toni
"terima kasih mbok...aku balik ke sekolah dulu" ucap Toni kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalam keluar diikuti Roy yang sudah menyelesaikan makannya.
__ADS_1
Toni mengikuti pelajaran dengan hati yang kembali tak tenang, ia teringat lagi akan Dina yang marah kepadanya. Ketakutan akan Dina menjauh darinya kembali merasuk ke dalam hati dan pikirannya.
Toni berpikir, di saat ia telah menyadari sepenuhnya semua kesalahannya terhadap Dina, ternyata semua sudah terlambat. Di saat Dina sudah mulai kembali mau berbicara dengannya kejadian tak terduga terjadi.
Pikiran Toni melayang antara Dina dan bagaimana membalas Bian tanpa ia harus menjaga jarak terhadap Dina. Semakin ia berpikir, ia semakin takut semua tak seperti yang diharapkannya.
Jam pulang sekolah terasa sangat lama bagi Toni. Ia ingin menemui Dina kembali untuk memberikan coklat sebagai tanda permohonan maafnya.
Ia sengaja menunggu saat pulang sekolah karena ia tak ingin Bian tahu jika ia dan Dina sedang tak baik-baik saja. Bel sudah berbunyi tapi guru yang mengajar masih belum mengakhiri pelajarannya.
Toni gusar, ia takut Dina sudah pulang terlebih dahulu. Lima menit terasa berjam-jam bagi Toni. Akhirnya guru yang mengajar di jam terakhir menyudahi pelajarannya.
Toni bergegas beranjak dari duduknya, ia tak sabar ia langsung berjalan menuju pintu ruang kelasnya meninggalkan Roy. Karena terburu-buru keluar kelas, ia tak sengaja menabarak seseorang di depan kelasnya.
Toni menatap ke arah orang yang ia tabrak "maaf Din... " ucap Toni dengan raut penyesalan Dina hanya membalasnya dengan senyuman
"mau kemana? kok enggak pulang Din?" tanya Toni
"ya sudah aku pulang dulu kalau begitu, kalau butuh apa-apa mampir saja ke rumah "ucap Toni dengan senyum mengembang " ini buat kamu" Toni menyodorkan sebuah bungkusan yang terbungkus rapi dengan kertas berwarna kuning yang di atasnya tertulis I Love You Dina .
"terima kasih Ton "Dina mengambil bungkusan yang diberikan oleh Toni dan kembali berjalan ke arah studio. Toni hanya menatap punggung Dina yang berjalan menjauh darinya dengan tatapan penyesalan.
Toni berdiri di depan kelasnya, memastikan Dina benar-benar masuk ke dalam studio. Setelah Dina tak lagi terlihat Toni berjalan ke arah gerbang sekolah bagian depan.
"Toni...!" teriak Roy "tunggu...!"
Toni berhenti dan menoleh ke belakang, menunggu Roy yang berjalan ke arahnya.
"sudah? cuma begitu?" tanya Roy dengan wajah tak percaya
"apa?" Toni mengerutkan dahinya kemudian berjalan kembali
__ADS_1
"itu...Dina..." ucap Roy sambil mensejajari langkahnya
"apa yang bisa aku lakukan lagi Roy, selain menjaga jarak dengannya" ucap Toni datar. Roy hanya diam mengikuti langkah Toni. Mereka berdua berpisah di tempat parkir, karena motor Roy diparkir di tempat parkir sekolah.
Toni berjalan pulang, sekarang ia hanya tinggal menunggu, apa yang sekanjutnya akan Bian lakukan. Ia akan mengikuti semua permainan Bian. Ia ingin membalas Bian dengan menyakiti adiknya.
Toni memasuki halaman rumahnya, ia heran mobil mamanya terparkir di halaman. Seingatnya mamanya sedang ada perjalan dinas keluar kota.
Toni tak mau ambil pusing, ia masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Saat melewati kamar papa mamanya tak sengaja ia mendengar perdebatan antara mama dan papanya.
Bagi Toni itu sudah biasa, papanya menginginkan mamanya berhenti bekerja, sedangkan mamanya selalu ingin papanya mengikuti jejaknya menjadi seorang politikus.
Toni segera masuk ke kamarnya, ia merbahkan dirinya menatap fotonya bersama Dina yang terpajang di dinding kamarnya. Toni memajang kembali fotonya bersama Dina, setelah dirinya tersadar jika apa yang ia tuduhkan dulu terhadap Dina adalah salah.
Toni pernah mencoba berhubungan dengan seorang cewek temannya semasa SD dulu, tapi ternyata cewek itu hanya memanfaatkan Toni. Ia merasa tak ada tang seperti Dina. Tapi karena ia masih berada dalam bayang-bayang Bian, Toni mengabaikan perasaan itu begitu saja.
Dan kini, Toni menyadari jika dari beberapa cewek yang pernah dekat dengannya, Dina lah yang terbaik. Ia hanya bisa meratapi kebodohannya sambil memandang foto Dina.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie....
Please like, vote dan komennya ya..
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1