Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 146 Sarapan Pagi


__ADS_3

Keesokan harinya Dina mengerjapkan matanya, ia menoleh ke arah samping Toni masih terlelap. Ia beranjak dari tidurnya dan membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


Dina mencari baju yang bisa ia pakai di lemari, ternyata baju-baju Toni saja. Ia pun mengambil kemeja Toni dan memakainya. Biarlah daripada ia kedinginan pikirnya.


Dina keluar dari kamar ia ke dapur mencari apa yang bisa dimakan perutnya lapar sekali. Dina membuka kulkas tak ada bahan apapun di sana.


Dina membuat secangkir teh hangat untuknya. Dina duduk di meja makan dalam diam memperhatikan sekelilingnya. Setiap sudut rumah terdapat foto mereka berdua bahkan di ruang tengah terdapat foto mereka berdua saat Toni melamarnya.


Dina tak pernah menyadari jika ada orang yang mengabadikan momen-momen itu. Yang ia ingat hanyalah sewaktu Toni memakaiakan cincin di jari manisnya memang ada yang memfoto mereka.


Cukup lama Dina melamun, teh yang ada di cangkirnya hampir dingin. Dina meneguknya, mengingat semua hal yang telah ia lalui selama ini. Kisahnya bersama beberapa cowok dan berakhir dengan Toni saat ini.


Terbesit rasa bimbang dalam hatinya, ia masih takut salah mengambil keputusan. Ia tak menduga keputusannya memberikan Toni kesempatan kedua membawanya pada semua pengalaman yang tak pernah ia alami sebelumnya.


Dina bimbang apakah keputusan yang tepat menerima lamaran Toni. Dina menerima Toni karena hanya dialah satu-satunya cowok yang sesuai kriterianya. Cowok yang mau berjuang untuknya meskipun terkadang sikapnya kasar jika cemburu.


Dalam hatinya masih ada Dendy, cowok yang lembut yang selalu bersikap lembut kepadanya namun tak memilik usaha untuk mempertahankan Dina di sisinya.


"sayang...aku mencarimu ternyata kamu di sini..." ucap Toni penuh senyum berjalan menghampiri Dina


Dina terhenyak, menatap Toni yang mendatanginya "sudah bangun?"


Dina beranjak dari duduknya dan mengambil cangkir kemudian membuatkan teh untuk Toni "aku terbangun karena kelaparan" Dina meletakkan teh di depan Toni sambil mengerucutkkan bibirnya


"maaf...sebentar..." Toni beranjak dari duduknya kemudian menelpon seseorang. Toni berjalan menghampiri Dina "maaf...sebentar lagi makanan datang" ucap Toni lembut


"selalu saja...." ucap Dina kesal


Tak berapa lama ada seseorang mengantar makanan untuk mereka berdua. Toni mengambilnya kemudian menyiapkannya di meja makan.


"makanlah dulu...setelah ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"


"kemana?"

__ADS_1


"ke rumah mama..." ucap Toni sedikit tercekat


"memangnya mamamu dimana? Nggak sama om Yanuar?" Dina mengerutkan dahinya


"mereka sudah lama berpisah...mama sekarang tinggal di kota ini" ucap Toni datar


"hah...? berpisah? Kenapa?" Dina membulatkan matanya


"kamu tahu sendiri mama itu seperti apa, dia selalu ingin bebas kemana saja, berulang kali papa memintanya untuk berhenti bekerja namun ditolaknya dan jadilah begini..."


Dina berjalan mendekati Toni kemudian memeluknya "yang sabar ya...sayang..."


Toni membelai tangan Dina "dari kecil aku tidak pernah dekat dengannya jadi aku tidak pernah merasa kehilangan"


Toni tersenyum kemudian menarik tangan Dina dan mendudukkan di pangkuannya "aku ingin mengajakmu ke sana hanya untuk memperkenalkan calon istriku padanya"


"hmmm.... Ton.... aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat, aku masih ingin bekerja dan menikmati masa mudaku" ucap Dina sedikit ragu


Dina menghela nafasnya "sayang....aku masih ingin menikmati kebebasanku, aku masih ingin pergi bersama teman-temanku dan lagipula aku ingin bekerja di tempat lain sesuai dengan ilmu yang telah aku pelajari selama ini"


Toni menyadari akan sulit memaksa Dina untuk mengikuti apa maunya "kamu sendiri telah berjanji akan membantuku, apakah kamu akan mengingkari janjimu"


"ayolah sayang....beri aku kesempatan mewujudkan cita-citaku...aku minta paling tidak satu atau dua tahun saja, setelah kita menikah aku akan menuruti apa maumu" ucap Dina dengan tatapan memohon


Toni tidak tega melihat Dina yang terlihat sedih "baiklah....tapi masalah kerja....aku akan membantumu mencarikan tempat yang layak untukmu..." ucap Toni tegas tak mau dibantah


Dina menghela nafasnya "iya...iya...tuan pemaksa..." Dina mengerucutkan bibirnya


"sayang....aku hanya ingin yang terbaik untukmu, untuk kita...aku sudah berjanji akan menjagamu, dan aku akan menepati itu... Sekarang makan dulu"


Toni mulai menyuapi Dina yang duduk di pangkuannya. Meskipun Dina sedikit kesal namun ia berpikir lagi apa yang dikataakan oleh Toni ada benarnya.


.

__ADS_1


Toni mengendarai mobilnya ke daerah pinggir kota J. Daerah dimana banyak terdapat perumahan mewah yang menjual pemandangan dan juga kesejukan udaranya.


Toni membelokkan mobilnya di sebuah rumah besar bercat putih dan ada ornamen emas. Toni berjalan menggandeng tangan Dina yang terasa dingin. Toni tahu Dina pasti gugup dan takut menghadapi mamanya.


Teman-teman semasa sekolahnya sudah tahu bagaimana perangai mamanya Toni, yang selalu melihat orang dari apa yang ia pakai. Ia sering memandang sebelah mata pada teman-teman Toni.


"cari siapa den?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang sedang berada di taman


"ibu Diana ada di rumah?" tanya Toni santai


"sudah ada janji?"


"belum....tolong bilang ke ibu Diana Toni datang" ucap Toni santai


"baik tunggu di sini dulu saya mau ke dalam" ucap laki-laki itu


"mau bertemu orang tua sendiri kok disuruh menunggu di luar begini" gumam Dina dan Toni tersenyum "itulah mamaku" Toni terkekeh


Setelah sepuluh menit menunggu, laki-laki paruh baya tadi keluar dari pintu utama rumah "silahkan masuk Den, ibu sudah menunggu di ruang keluarga" orang itu membungkuk kemudian meninggalkan mereka berdua.


Toni menggandeng tangan Dina memasuki rumah mamanya. Rumah yang selama ini ia hindari. Setiap ia bertemu mamanya selalu berakhir dengan pertengkaran.


Toni pernah membenci mamanya karena selalu memaksakan kemauannya pada Toni. Namun seiring berjalannya waktu Toni mulai mengabaikan kebenciannya. Ia hanya menjaga jarak dengan mamanya karena ia tak mau dianggap durhaka karena telah membenci mamanya.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2