
Seharian Toni merawat Dina, ia tak membiarkan Dina beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuatkan makanan, mengompres dahi Dina semua ia lakukan dengan sepenuh hati.
Dina merasa kasihan, Toni jauh-jauh datang hanya untuk merawatnya yang sedang sakit padahal pekerjaannya pasti banyak.
"sayang...aku sudah lebih baik, kalau kamu mau pulang aku nggak apa-apa" ucap Dina tersenyum
"aku akan di sini sampai kamu benar-benar sembuh...ini sudah resikonya LDR..." ucap Toni datar
Toni tahu, Dina pasti akan memaksanya pulang. Dina bukan tipe yang mau dirawat kecuali benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk bangun.
Dina hanya bisa menghela nafasnya, ia pasti akan kalah berdebat ketika Toni sudah menyebut kata LDR. Percuma protes, Toni tak akan mau meninggalkannya dalam kondisi sakit seperti ini.
Keesokan harinya, Dina sudah benar-benar sehat. Semalam pun ia sudah tak lagi demam, bahkan ia bisa tidur dengan nyenyak. Bangun tidur, ia langsung ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Toni, hari ini ia akan berangkat ke kantor.
Dina merasa tidak enak dengan orang kantornya, ia masih training namun sudah tidak masuk kerja. Ia tidak takut tak akan lolos masa training hanya saja, ia ingin memberikan kesan yang baik di perusahaan itu.
Saat asyik memasak, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya.
"kenapa memasak? apa kamu sudah sehat?" tanya Toni lembut
"aku sudah sehat...pagi ini aku mau masuk kantor"
Toni memutar tubuh Dina menjadi menghadapnya "yakin sudah sehat?" Toni menatap mata Dina
"sudah...." ucap Dina kemudian membuang wajahnya, ia tahu pasti Toni mengetahui jika dirinya berbohong.
"yakin?"
"masih sedikit pusing sih..." ucap Dina lirih
"wajahmu masih pucat sayang...." Toni menarik Dina ke dalam pelukannya "jika kamu membantahku, aku akan ke kantormu dan membayar pinaltimu"
Dina mengangguk, ia ingin merasakan bekerja dengan usahanya sendiri bukan mendapat bantuan dari orang lain meskipun cuma sebentar.
Aneh memang, banyak orang berlomba-lomba memanfaatkan koneksi untuk mencari pekerjaan, namun tidak dengan Dina, ia ingin mencoba peruntungannya dengan berusaha mencari pekerjaan dan ternyata berkat kepandaiannya ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan.
.
Dua hari sudah Dina beristirahat di apartemen, kini ia sudah sembuh. Meski masih sedikit pusing namun itu masih ringan dan dapat ia tahan.
__ADS_1
"sayang...maafkan aku...aku harus pulang malam ini juga, Ridwan kewalahan menangani perusahaan" ucap Toni sendu. Ia masih tak tega meninggalkan Dina dengan kondisi masih terlihat pucat di matanya.
"aku sudah sehat sayang....kamu pulang saja jangan kawatirkan aku" ucap Dina lembut "kereta jam berapa?"
"jam enam nanti"
"baiklah...aku akan bersiap, aku ingin mengantarmu ke stasiun"
.
Keesoka paginya, Dina kembali masuk kerja. Ia lebih siap menghadapi Bimo, ia tak akan menghindar lagi. Dua hari ia ditemani Toni, bagaimana Toni merawatnya, memberikan ia kekuatah untuk menghadapi Bimo. Ia akan membuat Bimo menyerah dan tak mengganggunya lagi.
Dina memasuki ruangannya, semua menyambutnya dan menanyakan kondisinya. Dina menjawab dengan sejujur-jujurnya.
"eh...Din...benar kamu sudah bertunangan?" tanya Mira yang duduk di meja sebelahnya
"tahu dari mana Mir?"
"kemarin, waktu aku masih di depan, ada cowok ganteng, kukira mau melamar kerja di sini, ternyata ia mengantarkan surat ijinmu"
"iya Mir tiga minggu tang lalu kami bertunangan" jawab Dina jujur
"hah?!"
"jangan kaget begitu, bukannya kamu sudah tahu kalau banyak cowok-cowok di kantor ini menyukai dirimu?" tanya Mira yang kemarin sempat mendengar obrolan pria-pria saat di pantry. Dan dijawab dengan gelengan oleh Dina
Mira hanya bisa memukul dahinya sendiri, karena bisa-bisanya Dina tidak tahu jika banyak yang sedang memperebutkan dirinya.
"terus kapan kalian menikah?"
"belum tahu Mir, setelah selesai masa trainingku baru akan dibicarakan kembali, dan juga aku juga tidak tahu apa masih diberi kebebasan untuk tetap bekerja di sini"
"memangnya kenapa?" Mira penasaran
"calob mertuaku, kedua orang tuaku tidak ingin aku jauh dari tunanganku itu" Dina tak mungkin menceritakan siapa tunangannya sebenarnya. Ia tak mau dianggap pamer dan sombong.
"sabar...semua pasti ada jalan..." ucap Mira menenangkan Dina
Mereka berdua pun kembali bekerja. Dina mengerjakan semua yang harus dia kerjakan. Pekerjaannya menumpuk di meja kerjanya, sampai-sampai jam makan siang terlewati ia tidak tahu.
__ADS_1
Ponselnya berbunyi, Dina asal menjawab telepon, ia masih fokus dengan laporan yang harus ia susun.
"sayang...kamu sudah makan?"
Dina melihat siapa yang menelponnya ternyata Toni
"sudah..." jawab Dina tentu saja berbohong
"ya sudah...jaga..."
"Din...ayo makan siang, aku tahu kamu belum makan siang..." tiba-tiba Bimo berada di depan meja kerjanya
"itu siapa sayang? Jadi kamu belum makan siang?!" nada bicara Toni terdengar marah
"teman kantorku sayang....hehehe....sebentar lagi aku makan, tanggung tinggal sedikit lagi" Dina merubah nada bicaranya menjadi mesra pada Toni
"cepat makan....! Atau kamu tidak boleh bekerja di sana lagi...!"
Toni tiba-tiba memutuskan teleponnya. Dina menghela nafasnya, rasanya ia ingin teriak sekencang-kencangnya, ia kesal kepada Toni tang mengancamnya dan juga Bimo yang tiba-tiba berada di depannya.
"siapa yang kamu telepon?" Tanya Bimo dengan suara terdengar menahan emosi
"tunanganku ..." jawab Dina santai kemudian ia kembali menatap layar komputernya
Bimo menatap jari manis Dina, melingkar sebuah cincin berlian. Bimo tidak bodoh yang tidak tahu itu cincin apa. "Ayo makan dulu...aku dengar kamu kemarin sakit" Bimo merubah nada bicaranya menjadi lebih lembut seperti dulu waktu ia mendekati Dina
Dina mengangkat satu alisnya kemudaian menatap Bimo. "Aku traktir kamu....sebagai teman....masih mau kan bertemab denganmu?" Bimo menyadari Dina pasti akan menjaga jarak kembali dengannya, jika itu terjadi maka rencana untuk merebut hati Dina kembali akan sulit.
Dina masih saja menatap Bimo debfab tatapan penuh tanda tanya.
"jadi kamu nggak mau berteman lagi denganku?" Bimo tersenyum
"hemmm....baiklah..." Dina kemudian beranjak dari duduknya. Dan mengikuti langkah Bimo. Dina pikir tak ada salahnya jika ia menerima ajakan Bimo, toh dirinya juga sudah mengakui jika ia sudah memiliki tunangan.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g