Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 185 Paket sekoper


__ADS_3

Benar saja, ada kesempatan Toni benar-benar mengambil vitaminnya dulu. Dina semakin kesal karena ia seperti tak bisa melakukan apa yang sudah ia rencanakan.


Namun yang tak Dina ketahui, Toni sudah membelikannya baju kerja cukup untuk dipakai selama dua minggu. Dina tidak tahu kapan Toni menyiapkan itu semua.


"sayang...tolong buka pintunya dong...sepertinya ada yang memencet bel" ucap Dina dari dapur


Toni diam tak menjawab, ia pura-pura tidur. Ia tahu siapa yang datang, satpam apartemen yang mengantarkan paket untuk Dina.


"huh...kalau dimintain tolong pasti susah" gerutu Dina sambil berjalan ke arah pintu "lagian siapa yang ke sini, aku di sini nggak kenal siapa-siapa" Dina membuka pintunya


"permisi...ini ada paket, silahkan ditandatangani di sini" ucap satpam apartemen menyerahkan satu koper besar kepada Dina.


Setelah selesai menandatangani bukti penyerahan paket, Dina menutup pintunya. Ia bingung paket dari siapa, tapi jelas nama penerima adalah dirinya dan alamatnya juga benar.


"siapa sayang..." Toni turun dari lantai dua hanya memakai celana pendek tanpa mengenakan kaos


"satpam apartemen..." jawab Dina acuh kemudian ia kembali ke dapur melanjutkan memasak.


Toni bingung, kenapa tiba-tiba Dina bersikap acuh padanya. Ia pun menghampiri Dina di dapur dan memeluknya dari belakang.


"minggir ahh...aku sedang memasak..." ucap Dina kesal


"kamu kenapa pagi-pagi sudah marah-marah?" Toni menyandarkan dagunya di pundak Dina


Dina berjalan ke meja pantry dan meletakkan makanan yang telah ia masak kemudian kembali lagi mencuci piring. Toni mengekori setiap gerakan Dina.


"kenapa sayang...ayo...jangan cuma diam..." ucap Toni


"kamu itu merusak rencanaku...!" ucap Dina ketus


"hah...maksud kamu apa?" Toni mengekori setiap pergerakan Dina


"kenapa aku mau berangkat ke sini hari kamis, karena mau adaptasi dengan suasana kota ini, bukan malah dikurung di apartemen terus" ucap Dina ketus


Toni bingung, tumben Dina pagi-pagi sudah marah tak biasanya Dina begitu. Biasanya semarah-marahnya Dina dia hanya diam jarang mengomel pagi-pagi.


Toni pun mengalah, ia duduk di meja pantry, melihat Dina yang sedari tadi masih membereskan peralatan memasaknya serta membersihkan dapur.


"ayo makan dulu....setelah ini kita jalan-jalan mumpung hari minggu" ucap Toni lembut


Dina duduk, dan mulai mengambilkan makanan untuk Toni kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"kamu mau jalan-jalan kemana? Nanti aku telepon Deni" ucap Toni sambil mengunyah makanannya

__ADS_1


"kemana saja, asal jangan di apartemen terus" ucap Dina ketus. Toni hanya menghela nafasnya. Salahnya juga membuat mereka harus menghabiskan waktu mereka di apartemen.


Namun sepertinya Dina masih marah dengannya, Dina tampak diam tak menghiraukan Toni yang duduk di sebelahnya. Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelaj selesai bersiap, ia pun duduk di ruang tamu, ia mengamati koper yang masih ia belum buka sampai sekarang. Ia penasaran siapa yang mengirimnya, karena tidak tertera nama dan alamat pengirim.


"kenapa tidak dibuka paketnya?" ucap Toni menghampiri Dina


"malas...nggak tahu siapa yang mengirim" ucap Dina masih saja ketus


"benarkah?" Toni membolak-balik koper yang masih terbungkus plastik bening itu "dasar Ridwan...kenapa tidak ditulis siapa pengirimnya" gerutu Toni dalam hati.


"bukalah dulu...siapa tahu mama yang mengirim" ucap Toni lembut


Dina berpikir sejenak, memang benar ia sudah mengatakan jika ia sementara tinggal di apartemen XX namun ia tak menyebutkan alamatnya.


Akhirnya Dina membuka paket itu, mata Dina terbelalak saat membukanya. Isinya baju-baju formal, juga ada beberapa dress. Dia menghitungnya bisa untuk dipakai selama hampir dua minggu.


Dina melirik Toni yang terlihat santai tak merasa terusik dan tak bertanya lagi tentang paket yang ia buka. Dina merasa curiga jika Toni yang mengirimnya. Ia berpikir ingin mengerjai Toni, ia ingin Toni juga kesal terhadapnya.


Dina berjalan mengambil ponselnya yang tadi ia masukkan ke dalam tasnya, kemudian pura-pura menelpon.


"sayang...terima kasih kirimannya ya....iya...aku suka...suka banget...." Dina sambil melirik ke arah Toni melihat reaksi Toni. "iya....aku juga merindukanmu...." Dina pura-pura mematikan teleponnya.


"siapa yang kamu telepon?" ucap Toni terlihat menahan amarah


"pengirim paket lah...." ucap Dina santai


"memangnya siapa?"


"rahasia...." Dina mengambil tasnya "katanya mau jalan-jalan?"


"jawab dulu Dina siapa yang kamu telepon?!"


"memangnya siapa?"


Toni merebut ponsel Dina, melihat panggilan terakhir, namun tak ada. Panggilan terakhir Dina kemarin pagi itupun menelpon mamanya.


"dasar kami mau membohongi aku ya..." Toni menggelitik Dina


"hahahaha siapa suruh bikin aku kesal...." Dina kegelian


"kamu harus dihukum ya...." Toni mulai ingin mencium Dina, namun ditahan oleh Dina

__ADS_1


"kamu sudah berjanji hari ini kita jalan-jalan"


Toni pun membatalkan niatnya untuk menghukum Dina. Hukuman yang tentunya sangatlah enak, membuat Dina tak berhenti mendesah.


Mereka berdua pun berkeliling kota S diantar oleh Deni. Toni menepati janjinya mengajak Dina jalan-jalan menikmati suasana kota itu.


.


Hari baru telah tiba, pagi-pagi Dina sudah bersiap, ini hari pertamanya bekerja. Toni pun juga sudah siap, ia akan mengantarkan Dina ke kantornya kemudian ia langsung pergi ke stasiun.


"keretamu jam berapa?" tanya Dina sambil mengunyah makanannya


"jam sepuluh" jawab Toni. Dina hanya menganggukkan kepalanya.


"sayang...." Toni mengambil dompet dari saku celananya kemudian ia mengambil sebuah kartu "ini untukmu...pakailah...." Toni meletakkannya di atas meja kemudian mendorongnya ke arah Dina


"apa ini?" Dina hanya menatap kartu itu


"pakailah....jika kamu butuh sesuatu"


"tidak...aku tidak mau...." Dina kembali menggeser kartu itu


"kenapa?"


"aku masih punya tabungan, masih bisa bertahan sampai aku terima gaji" ucap Dina merasa sedikit tersinggung


"sayang....kamu sekarang calon istriku, jadi jangan menolak pemberianku ini, aku hanya ingin memastikan calon istriku tidak kekurangan apapun" ucap Toni lembut


"tapi...."


"kamu pegang....di dalam sini sebagian dari gajiku di perusahaan, kalau kamu tidak membutuhkan tidak apa-apa, kamu simpan saja...."


Dina tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ia melihat Toni yang memang terlihat tulus dan serius saat memberikan kartu itu. Di sisi lain, ia belum berhak menerima nafkah dari Toni.


Dina tersenyum "baiklah....tapi jangan marah kalau isinya aku habiskan" ucap Dina


"habiskan saja, nanti aku akan berkerja lebih keras lagi agar kamu tak kekurangan" Toni mengusap puncak kepala Dina.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2