Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 74 Terjerumus


__ADS_3

Keesokan harinya Toni terbangun karena pintu rumah kontrakannya diketok orang terus menerus. Dengan mata yang masih berat, dan langkah sempoyongan ia berjalan ke pintu depan.


Toni tak langsung membuka pintu, ia mengintip dari balik jendela melihat siapa yang datang. Dan ternyata Andini yang datang. Toni membuka pintu, belum sempat Toni membuka mulutnya Andini langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.


"mau apa kamu pagi-pagi ke sini" ucap Toni dengan suara serak


"mau ajak kamu jalan-jalan" ucap Andini dengan nada manja


"tapi hari ini aku harus bertemu klien An..." Toni sedikit kesal


"kan bisa ditunda..." Andini berjalan mendekati Toni kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Toni


"enggak bisa An...aku sudah membuat janji jauh-jauh hari" nada bicara Toni tak sesantai tadi


"pokoknya hari ini kamu harus menemani aku jalan-jalan" Andini merajuk


"setelah aku bertemu klien ya..." ucap Toni lebih lembut


"baiklah..." Andini tiba-tiba mencium bibir Toni. Toni terdiam tak membalas ciuman itu. Ia terkejut tidak menyangka Andini seberani itu.


Tak mendapat penolakan dari Toni, Andini semakin menggebu, ia tak hanya mencium Toni namun juga meraba dada Toni.


Toni mendorong pelan Andini "jangan lanjutkan, aku takut kamu menyesal"


"menyesal? Kenapa?" Andini terkekeh


"aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan" Toni memegangi kedua lengan Andini


"ternyata kamu masih polos ya Ton..." Andini tergelak "biar aku yang mengajari kamu" ucap Andini melepaskan genggangaman Toni "kamu nikmati saja" bisik Andini tepat di telinga Toni dengan suara mendesah


Toni terkejut, ia tak menyangka Andini akan seberani itu. Mereka berdua baru saja resmi berpacaran semalam, tapi Andini sudah berani menggodanya.

__ADS_1


Andini memulai aksinya, ia mencium bibir Toni dengan penuh hasrat, meraba meremas tubuh Toni. Toni hanya diam terpaku, ia berusaha sekuat tenaga menahan gairahnya.


Ia tak ingin peristiwa dengan Fara terulang kembali. Cukup Fara saja yang jadi obyek pelampisan dendamnya. Tapi tampaknya Andini semakin menikmatinya.


Andini semakin agresif, ia mulai melepaskan baju yang dipakai Toni, kemudian ia melepaskan helai demi helai kain yang menutup tubuhnya. Hingga keduanya sama-sama polos, tak ada satu helai benang pun yang melekat di tubuh mereka.


Andini mendorong Toni duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Ia mulai mengelus sesekali meremas tongkat ajaib milik Toni. Kemudian ia mulai menghisap tongkat milik Toni menikmatinya seolah-olah ia sedang menikmati permen lolipop.


Pertahanan Toni akhirnya runtuh juga, ia tak kuasa menahan gejolak dalam tubuhnya. Ia pun menarik rambut Andini ke belakang kemudian ia menggerakkan kepala Andini maju mundur.


"****...!" erang Toni


Di sela-sela hisapannya Andini menyunggingkan senyumnya. Kemudian ia melepaskan kulumannya, ia beranjak berdiri kemudian ia mengarahkan tongkat milik Toni ke intinya.


Kemudian ia menurunkan tubuhnya sehingga tongkat milik Toni masuk sepenuhnya ke dalam inti Andini. "ouuwh...." mereka berdua mengerang bersamaan.


"An...jangan lanjutkan...aku takut...." ucap Toni dengan suara berat sambil menahan badan Andini


Toni menatap heran, ia tak menyangka Andini bisa berbuat nekat seperti itu. Dalam hati kecilnya ada rasa bersalah, bukan kepada Andini melainkan ia melakukannya bukan bersama orang yang ia cintai.


Andini kembali membawa bungkus kecil, kemudian ia berjongkok di depan Toni. "kenapa dia mengecil lagi?" Andini terkekeh, kemudian ia meraih tongkat milik mengulumnya kembali sehingga menjadi tegak menjulang. Andini membuka bungkus kecil yang berisi pengaman itu dan memakaikannya pada milik Toni.


Andini memposisikan dirinya di atas Toni kemudian memasukkan tongkat milik Toni dengan cepat. Andini mulai bergerak naik turun dari ritme pelan menjadi semakin cepat. Toni hanya diam menikmati apa yang Andini lakukan.


Ia masih tak menyangka Andini yang ia kenal pemalu dan pendiam memiliki sisi liar seperti itu. Untuk sementara pikirannya teralihkan dari Dina.


Gerakan Andini semakin liar, akhirnya ******* keluar dari mulut Toni. Andini tersenyum lebar, ia merasa puas bisa memiliki Toni seutuhnya. Ia yakin setelah ini Toni akan semakin terikat padanya dan akan selalu membutuhkannya.


Toni tak bisa lagi menahan gejolak rasa dalam tubuhnya, ia membalik posisinya. Ia membanting tubuh Andini tanpa melepas penyatuan mereka. Toni mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat, seperti dia melakukannya pada Fara dulu.


"ka..mu...cepat be...lajar ternya...ta, aaahhh....! atau i...ni bu...kan... yang per...tama untukmu?" ucap Andini di sela-sela desahannya. Tubuhnya terguncang hebat karena gerakan Toni yang semakin lama semakin liar.

__ADS_1


"kamu yang memintanya bukan....? Aku hanya mengikuti maumu" ucap Toni dengan satu sudut bibirnya terangkat


"ii...ya....la..ku....kan....se...su....ka...mu....!! Aahhh......a...ku....ti....dakķk....ta....hannnnn......aaaahhhhhh.......a...ku....sam....pai.....aaaaahhhhh......." jerit Andini tapi kemudian mulutnya dibekap oleh Toni dengan tangan kanannya tanpa menghentikan gerakannya


Toni bergerak cepat, entah sudah berapa kali Andini mendapatkan puncaknya, namun Toni masih belum berhenti. Sekilas ia melihat wajah Andini berubah menjadi Dina yang sedang tersenyum padanya.


"Din....a..ku...keluar....aaarrrhhhhh...." Toni menghentak-hentakkan pinggulnya menumpahkan cairannya. Kemudian Toni ambruk di atas tubuh Andini yang terkulai lemas dengan senyum puasnya.


"enak kan Ton....?" Andini dengan suara lemasnya


"ini bukan yang pertama untukmu?" Toni mencoba menetralkan nafasnya yang masih terengah-engah kemudian ia mencabut miliknya dan beranjak dari atas tubuh Andini


"memangnya kenapa? Menurutku hal yang wajar, kita ini kekasih bukan?" Andini duduk menatap Toni yang sedang mengambil bajunya kemudian memakainya.


Toni tak menjawab, ia bingung, merasa terjebak dengan pelariannya. Ia tak menyangka jika ia sekarang berpacaran dengan cewek yang menurutnya seperti Fara. Cewek yang menganut pergaulan bebas di umur mereka yang terbilang masih muda.


Toni berpikir, haruskah ia memutuskan Andini sekarang juga, ia takut terjerumus lebih dalam lagi dengan Andini. Ia takut akan memunculkan masalah besar di kemudian hari.


Toni beranjak meninggalkan Andini dan berjalan ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan dirinya sambil berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menghindari Andini.


Ia tak mungkin tiba-tiba memutuskan Andini tanpa alasan yang jelas, lagipula baru semalam ia meminta Andini untuk menjadi pacarnya.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2