Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 100 Bibir biru


__ADS_3

Toni memegang dahi Dina, memeriksa kondisinya. Sesaat Toni tersenyum "demamnya mulai turun". Dina tak bereaksi apa-apa ia pikir Toni terlalu berlebihan, membawanya ke rumahnya, tapi ia juga berpikir akan sangat kesepian jika di kosnya.


"aku sudah sering sakit demam Ton...kamu itu terlalu berlebihan" Dina mengerucutkan bibirnya


"aku kawatir Din...aku belum pernah melihatmu sakit sampai pingsan begitu" ucap Toni sambil membereskan mangkok-mangkok bekas mereka pakai


"aku ingin mandi, tapi enggak bawa baju ganti"


"ini sudah larut Din...apalagi kamu sedang sakit, jangan mandi"


"tapi aku dari pagi belum mandi, terus aku tadi seharian ada bagian produksi....badanku bau besi"Dina mengomel


"kamu bersihkan badanmu, tapi jangan mandi, di kamar mandi ada air hangat itu bajumu ada di tas dekat lemari" ucap Toni lembut tanpa nada paksaan.


Dina mengakui hanya Toni yang selalu bisa mengerti apa yang ia butuhkan ketika dirinya sakit. Tidak memaksa atau memberikan ceramah yang tidak perlu, selalu cekatan melakukan semua yang perlu ia lakukan.


Dina pun berjalan perlahan mengambil bajunya, kepalanya masih terasa pusing bahkan ketika berdiri terasa berputar. Toni melihatnya pum bergegas meraih tubuh Dina dan memapahnya.


"ck...selalu...kalau butuh bantuan bilang Din...."


"kupikir aku sudah baik-baik saja setelah makan"


"apa susahnya minta tolong kalau kamu memang sedang butuh? ayo aku bantu ke kamar mandi ambil baju mana yang mau kamu pakai"


"siapa yang membawa baju-bajuku ke sini?" ucap Dina sambil membuka tasnya "mana banyak pula, memangnya aku di sini sebulan" gerutu Dina


"tadi Tere yang menyiapkannya, Ridwan yang mengambilnya, sudah...ayo keburu malam"


Toni membantu Dina masuk ke kamar mandi, kemudian menutup pintu kamar mandi "kalau sudah selesai bilang, aku enggak mau kamu jatuh di kamar mandi" teriak Toni dari luar


Dina pun mulai membersihkan dirinya, meski sudah memakai air hangat namun masih terasa dingin baginya. Dan benar Dina merasa badannya kedinginan. Ia tak sanggup lagi, ia pun menyudahi acara bersih-bersihnya.


Dina membuka pintu kamar mandi, Toni dengan langkah lebar menghampiri Dina "sudah kubilang kamu panggil aku kalau sudah selesai"


"aku masih sanggup Ton..."


"iya...tapi bibirmu menjadi biru begitu, kamu kedinginan?" Toni memapah Dina berjalan ke tempat tidur


Toni membantu Dina berbaring di tempat tidur kemudian ia menyelimutinya "masih kedinginan?" Dina hanya mengangguk

__ADS_1


Toni membuka lemarinya, mencari baju hangat untuk Dina. "Ini pakailah..." Toni menyodorkan baju tebal kepada Dina. Dina pun menurut ia memakainya kemudian merebahkan dirinya kembali


"Ton...maaf ya..." ucap Dina lirih


"untuk...?"


"selalu merepotkanmu ketika aku sakit"


"enggak perlu dipikirkan...aku sudah mengatakan akan berusaha menebus semua salahku dan mendapatkan hatimu lagi, sudah istirahatlah...aku mau ke bawah dulu"


Toni meninggalkan Dina untuk membereskan semua peralatan yang ia pakai untuk memasak tadi. Setengah jam berlalu, Toni kembali ke kamarnya dan mendapati Dina tertidur.


Toni memegang dahi Dina, dan terasa panas kembali. Toni duduk di sisi tempat tidur sambil mengompres Dina. Toni benar-benar membuktikan apa yang pernah ia ucapkan pada Dina.


Toni merasa lelah, seharian banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dan tiba-tiba mendapati Dina jatuh pingsan dan sampai dini hari ia masih mengompres Dina.


Tak sadar karena terlalu lelah, Toni pun tertidur dengan posisi duduk di sebelah Dina yang tertidur pulas.


Dina terbangun, melihat ke arah jendela dan sudah nampak terang. Ia melihat ke arah sampingnya, Toni masih tertidur dengan posisi duduk bersandarkan kepala tempat tidur.


Perasaan Dina campur aduk, ia bingung harus bersikap seperti apa pada Toni. Setelah pertemuan mereka kembali Toni menunjukkan kesungguhannya memperbaiki kesalahannya.


Dina bangun dan berjalan ke kamar mandi. Kepalanya masih pusing namun sudah tidak seperti semalam. Ia sudah merasa lebih baik, dan ingin pulang ke kosnya saja.


Dina membuka pintu kamar mandi, dan ia terkejut Toni sudaj berdiri tepat di depan pintu kamar mandi menatapnya dengan tatapan tajam.


"kenapa enggak bangunin aku?"


"aku cuma ke kamar mandi Ton..." Dina kesal


"kalau kamu jatuh bagaimana? Semalam badanmu panas lagi, istirahatlah dulu"


"aku sudah lebih baik Ton...aku pulang ke kos saja ya..."


"masih pusing?" Toni memegang dahi Dina yang masih terasa demam namun tidak seperti semalam


"aku baik-baik saja Ton..."


"kamu istirahat lagi saja...aku akan menyiapkan sarapan untukmu" Toni berjalan meninggalkan Dina

__ADS_1


"Ton..."


Toni berbalik "ada apa?"


"aku bosan di sini, aku ikut ke dapur ya...biar aku yang memasak" Dina berjalan keluar kamar.


"biar aku yang memasak, kamu duduk saja, besok saja kalau sudah sembuh kamu yang memasak" Toni tersenyum kemudian menggandeng Dina menuruni tangga.


Toni memasak makanan untuk mereka berdua sarapan. Dina hanya duduk di meja makan sambil memperhatikan Toni. Perlahan hatinya mulai terbuka, perlahan ia merasa senang dengan perhatian-perhatian kecil dari Toni.


Ini kali kedua ia melihat Toni memasak untuknya. Tak dipungkiri Toni cowok yang pandai memasak. Semua yang ia masak selalu enak dan membuat Dina selalu merasa ingin lagi dan lagi.


Tak butuh waktu lama karena Toni hanya memasak omelet dan ayam panggang. Toni membawa dua piring nasi dan lauknya, ia meletakkan di meja makan.


"ayo makan...setelah itu minum obatmu dan istirahatlah" ucap Toni meletakkan segelas air putih di depan Dina


"aku mau berangkat magang Ton...sayang...tinggal beberapa hari lagi"


"Dina...istirahat dulu ya...kalau kamu sehat terserah kamu mau apa" ucap Toni lembut namun penuh penekanan


Dina tak menjawab lagi, ia memakan hasil masakan Toni. Dina diam, ia kesal dengan Toni, meskipun apa yang Tonu bilang itu benar namun Dina tetap kesal.


"setelah ini aku mau ke kantor sebentar, nanti ada yang menemani kamu" ucap Toni sambil mengunyah makanannya


"kalau begitu aku pulang ke kos saja..." Dina meletakkan sendok garpunya


Toni menghela nafasnya, ia menyadari, ia menyuruh Dina tinggal karena Tere hari ini tidak bisa menemaninya, dan ia malah akan meninggalkan Dina di rumah bersama orang yang tak ia kenal sama sekali.


"baiklah..." Toni berdiri kemudian ia mengambil ponselnya dan terlihat menelpon seseorang.


"Wan...ambilkan saja dokumen-dokumen yang perlu aku periksa...aku akan memeriksanya di rumah"


Kemudian Toni meletakkan ponselnya kembali semua tak luput dari perhatian Dina. Sebenarnya ia tak bermaksud membuat Toni melalaikan pekerjaannya, namun sepertinya Toni lebih memilih menemaninya di rumah.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2