Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 137 Dinner romantis


__ADS_3

Pukul enam lebih sepulu menit, Toni sudah datang menjemput. Dina dan Raya bergegas turun. Dina membatu Raya turun karena terlihat kesusahan menuruni tangga.


Mereka berjalan turun perlahan, Dina memakai heels dan Raya yang perutnya membuncit. Sampai di depan pintu Dina melihat Toni membelakangi pintu memakai setelan jas.


"malam bos..." ucap Raya. Toni membalik badannya tatapannya tertuju pada Dina yang terlihat sangat cantik. Senyum Toni mengembang menatap Dina dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"sayang...kamu cantik sekali..."


"ini karena kak Raya yang mendandaniku" Dina mengerucutkan bibirnya. Raya melangkah menjauhi Dina, hari ini ia begitu puas dengan hasil karyanya.


"enggak usah dandan saja kamu sudah cantik, apalagi dandan begini" ucap Toni mengembangkan senyumnya.


"gombal....! Sebenarnya kita mau kemana, kenapa harus berdandan seperti ini?"


"nanti kamu juga tahu, sekarang aku mau tutup matamu dulu" Toni mengambil kain dari sakunya kemudian mengikatnya menutupi mata Dina.


"Raya...sebentar lagi Ridwan menjemputmu" ucap Toni


"ya bos..."


Toni membantu Dina naik ke mobilnya kemudian mengemudikannya ke tempat yang sudah ia siapkan. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di antara mereka, hanya Toni sesekali menoleh menatap Dina yang terlihat begitu cantik malam ini.


Tak sia-sia ia menyuruh Raya mengurus semuanya, hasilnya begitu memuaskan. Rasanya ia ingin menatap Dina semalaman dan tak mengijinkan orang lain melihat penampilannya saat ini.


Tiga puluh menit berkendara mereka telah sampai di lokasi yang mereka tuju. Toni membantu Dina turun dari mobil dan menuntunnya masuk ke dalam.


Setelah sampai di dalam Toni membuka penutup mata Dina. Dina mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya. Dina terkejut, ia memperhatikan sekelilingnya. Sebuah tempat berada di alam terbuka berhiaskan taburan bintang di langit.


Di depannya ada sebuah meja yang dihias begitu indah, dua buah lilin telah menyala di atas meja itu. Di sekelilingnya dihiasi bunga mawar berwarna peach serta lampu-lampu kecil yang menambah kesan romantis. Dina takjub ia tak kuasa menahan rasa kagumnya.


Toni menggandeng Dina kemudian menarik kursi untuk Dina. Setelah Dina nyaman ia duduk di hadapan Dina. Dina menoleh ke sampingnya pemandangan begitu indah, kerlap- kerlip lampu kota dapat ia lihat dari tempat ia duduk. Dina tak bisa berkata-kata dengan apa yang ada di depan matanya.


"selamat ulang tahun sayang..." Toni mengecup bibir Dina penuh kelembutan


"hari ini aku ulang tahun ya...aku pikir masih besok" Dina terkekeh

__ADS_1


"hanya lupa hari kan, enggak lupa sama aku?" Toni terkekeh


"sejujurnya aku mulai melupakanmu, yang aku ingat Pak Hendra terus" Dina terkekeh


"kenapa yang kamu ingat dia" Toni ketus


"setiap aku mengerjakan skripsi yang kuingat wajah dia waktu mencorat-coret proposalku wajahnya membuat aku ingin cepat menyelesaikan skripsiku" Dina tergelak


"oh...aku kira kamu ingin berlama-lama dengan dia..." Toni cemburu


"hahaha....ternyata dia itu kalau sedang bimbingan galak...nggak cocok sama aku" Dina tertawa melihat raut wajah Toni yang terlihat masam


"kenapa jadi bahas dosenmu..." Toni kesal


"siapa yang mulai duluan..." Dina terkekeh, ternyata sikap mudah cemburunya belum hilang.


Tak berapa lama, pelayan datang menuangkan anggur merah ke dalam gelas mereka. "sekali lagi selamat ulang tahun sayang..." Toni mengetukkan gelasnya ke gelas Dina


"terima kasih sayang....untuk kejutan yang luar biasa ini"


Terdengar alunan biola dari arah belakang Dina, menambah kesan romantis. Pelayan kembali mengantarkan makanan untuk mereka berdua.


Dina mendongak menatap Toni yang malam ini terlihat begitu menawan "aku tidak bisa berdansa ...."


"tinggal menggerakkan kaki saja..."


Dina menerima uluran tangan Toni kemudian berdiri. Toni menarik Dina berdiri sedikit ke tengah. Tangan kanan Toni menggenggam tangan kiri Dina tangan kirinya melingkar di pinggang ramping Dina. Perlahan mereka berdua menggerakkan kaki mereka mengikuti alunan musik.


Dina sungguh bahagia, malam yang bergitu romantis di tempat yang begitu indah. Tak pernah terbayangkan olehnya akan mendapat kejutan seperti ini.


"sayang...terima kasih untuk kejutan yang indah ini..." Dina mengembangkan senyumnya


"kamu suka?"


"suka...suka sekali..." Dina mengecup bibir Toni

__ADS_1


Mereka berdua berciuman, ciuman lembut penuh cinta. Tak ada keraguan lagi dalam hati Dina. Ia bisa merasakan perasaan Toni yang begitu dalam padanya melaui ciuman mereka.


"Sayang....terima kasih untuk kebersamaan kita satu tahun ini, satu tahun yang penuh kebahagiaan buatku, happy anniversary sayang..." Toni mengecup bibir Dina kembali


"sudah satu tahun ya..." Dina terkekeh


"iya...hari ini di hari ulang tahunmu, tepat satu tahun kita berpacaran"


"aku mencintaimu Louis Antoni Wijaya" Dina mengecup lembut bibir Toni


"aku juga sangat mencintaimu Jocelyn Andina Prasetya" Toni memeluk erat Dina sambil menggerakkan tubuh mereka mengikuti alunan musik. Dina tak menyadari jika ada banyak pasang mata sedang menatap ke arah mereka.


Tiba-tiba Toni melepaskan pelukannya ia meraih kedua tangan Dina sedikit memberikan jarak di antara mereka. Toni menatap mata Dina dalam-dalam.


"sayang....bertahun-tahun aku hidup dalam penyesalan, menyesal karena telah menyia-nyiakan dirimu waktu itu"


"ketika kamu lebih memilih meninggalkan aku, aku begitu terpuruk, bertahun-tahun berusaha melupakan dirimu, aku tak bisa..."


"aku mencari penggantimu, namu tak ada yang sebaik dirimu yang mampu membuat aku jatuh cinta setiap saat"


"bertahun-tahun aku berusaha memperbaiki diriku agar aku punya kesempatan untuk membuktika bahwa selama ini aku tetap mencintaimu"


Mendengar kata-kata Toni mata Dina mulai berkaca-kaca, ia teringat semua yang telah ia lalui selama ini. Rasa sakit karena dikecewakan, rasa marah karena dipermainkan. Rasa sayang dan benci pada Toni yang pernah ia rasakan.


"satu tahun ini, adalah tahun yang penuh kebahagiaan, awalnya aku tidak berharap karena beberapa kali kamu menolakku, tapi tepat satu tahun yang lalu semua penantianku terjawab, hari yang begitu membahagiakan akhirnya terjadi"


"kamu memberiku kesempatan kedua, tak ada kata-kata yang bisa aku ungkapkan di hari itu, aku begitu bahagia, mungkin orang menganggapku terobsesi kepadamu, aku pun mulai meragukan perasaanku sendiri, namun....setelah menjalani hari-hari bersamamu....aku menyadari bahwa itu bukan obsesi, tapi rasa cinta yang harus diperjuangkan"


"Di malam ini, tepat di hari ulang tahunmu, sama seperti setahun yang lalu, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, sesuatu yang selama ini ingin aku katakan kepadamu"


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


Hari ini sudah meluncur 3 bab, jangan lupa like, komen dan votenya ya...ditunggu juga kiriman kopi atau bunganya. Lope...lope...sekebon...


__ADS_2