Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 120 Tamu bulanan


__ADS_3

Sore harinya, mereka berdua pulang bersama. Sejak peristiwa di kantor Toni masih mendiamkan Dina. Ia hanya berbicara seperlunya saja dengan Dina.


"aku tidur di kos saja ya..." ucap Dina


"kenapa?"


"ada yang sakit gigi" ucap Dina asal


"siapa?"


"entah" Dina mengerucutkan bibirnya


Toni diam tak menanggapi, ia menurunkan Dina di depan kosnya "besok pagi aku jemput jam 8 ya..."


"iya..." Dina turun dari mobil Toni kemudian ia masuk ke kosnya. Dina sebenarnya juga kesal Toni mendiamkannya tanpa sebab namun ia berusaha mengabaikan.


Keesokan paginya, Dina terbangun dengan rasa nyeri luar biasa di perutnya. Ia enggan beranjak dari tempat tidurnya, ia lebih nyaman berbaring di kasurnya


Dina mengambil ponselnya kemudian ia mengetik pesan untuk Toni


📨 sayang, hari ini aku nggak ikut ke kantor, perutku sakit


Dina meletakkan ponselnya di meja, ia pun kembali tidur, yang ia inginkan hanya tidur seharian


Ponselnya bergetar terus namun Dina tidak mendengarnya. Dina masih tidur nyenyak, jendela kamarnya pun masih tertutup rapat. Dina terbangun karena suara gedoran di pintunya. Dengan rasa malas dan menahan kram di perutnya, ia pun membuka pintu kamarnya.


Di depan pintu kamarnya telah berdiri Toni, Reni dan Tere. Setelah melihat Dina baik-baik saja Reni dan Tere meninggalkan kamar Dina.


"kenapa kamu tak menjawab teleponku hah?!" Toni sedikit berteriak


"kamu menelponku?" Dina berjalan ke meja belajarnya dan melihat ada puluhan panggilan tak terjawab "aku tidur jadi nggak dengar" Dina meletakkan ponselnya kembali


"kamu marah padaku?!" Toni duduk di kursi belajar Dina


"marah? Kenapa aku mesti marah?" Dina kembali merebahkan tubuhnya


"itu kenapa kamu nggak angkat teleponku, nggak jadi ikut ke kantor?"


Rasanya Dina ingin menghajar Toni, mendengar Toni berbicara ketus padanya. "sudah kubilang perutku sakit!" Dina meringkuk di atas tempat tidurnya


"itu hanya alasan kamu saja kan?"


Emosi Dina semakin memuncak "terserah mau percaya atau enggak, aku beneran sakit! Kalau kamu ke sini hanya untuk bicara yang tidak-tidak lebih baik kamu pergi saja!" Dina membalik tubuhnya membelakangi Toni


"jadi kamu ini sakit atau tidak?!"

__ADS_1


Dina tak menjawab, rasanya ingin sekali memukul kepala Toni, agar ia sadar apa yang Dina rasakan sekarang.


"Din...kenapa kamu diam saja!"


"terus aku harus bagaimana?!" Dina semakin kesal


"kamu ini sakit apa? Hahhh?!"


"aku datang bulan....!" Dina berteriak


"hah?!" Toni terkejut


"kenapa enggak bilang?"


"buat apa aku bilang ke kamu, dari kemarin siang kamu mendiamkan aku! Sudah....sudah....suaramu membuat aku semakin emosi!"


Toni beranjak, meninggalkan kamar Dina begitu saja. Dina merasa lega Toni sudaj pergi, kehadiran Toni hanya membuatnya merasa semakin sakit.


Sore harinya, Dina sudah merasa lebih baik. Ia merasa bosan di kos terus-terusan. Ia memutuskan untuk bergi ke kos Caca. Ia ingin menghibur dirinya setelah pertengkarannya dengan Toni hanya karena masalah sepele.


Berkali-kali Toni menelponnya namun tak ia hiraukan. Ia masih kesal karena Toni sudah marah-marah tidak jelas padanya. Ia sengaja bersembunyi di kos Caca karena Toni tak tahu dimana kos Caca.


Ia sengaja memberi Toni pelajaran agar tak seenaknya sendiri membentaknya.


"aku menginap di sini saja ya...."


"bukannya aku tak mau menampungmu, tapi selesaikanlah masalah kalian" ucap Caca


"aku kesal saja, udah hari ini rasanya senggol...bacok...e...dia marah-marah nggak jelas"


Caca terkekeh "cowok memang begitu, enggak mau ngerti, kita itu kalai sedang datang bulan rasanya nano-nano sekali, mereka pikir semua itu sandiwara"


"kamu belum punya pacar jadi enggak tahu bagaimana rasanya ketika pacarmu marah-marah hanya karena masalah sepele"


"terserah kamu saja Din..."


Dina pun menginap di kos Caca, tak ada seorang pun yang tahu, karena Dina tak memberitahu siapapun jika ia menginap di sana.


Toni panik, ia tak bisa menghubungi Dina, bahkan Dina tak berada di kosnya. Ia pun memikirkan Dina sekarang sedang bersama cowok lain.


"Wan....kamu tahu kira-kira Dina ada di mana?"


"saya nggak tahu mas, sepertinya mbak Dina punya teman dekat, kenapa mas, nggak tanya saja padanya"


"aku hanya tahu Tere, dan tadi Tere bilang nggak tahu Dina ada dimana" ucap Toni kesal

__ADS_1


"salah mas Toni juga....sudan tahu datang bulan malah diomelin" sindir Ridwan


"apa katamu? Mau aku pindah ke kantor papa?"


"salah lagi...sudah mas...saya pulang dulu, selamat mencari" Ridwan buru-buru meninggalkan rumah Toni


Toni mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan singkat


📨sayang, kamu ada dimana? Maafkan aku..."


tak ada balasan dari Dina, Toni semakin kesal, ia bingung harus mencari Dina dimana.


Keesokan paginya, Dina menyalakan ponselnya, dan banyak sekali pesan singkat yang masuk di ponselnya sebagian besar dari Toni sisanya dari Tere dan Reni.


"kenapa Din? Pagi-pagi ponselmu berisik sekali"


"Toni Ca..."


"pulanglah...temui dia" ucap Caca


Dina pun pulang ke kosnya, sesampainya di kos Toni sudah menunggunya. Namun Dina masih merasa kesal, ia pun mengabaikannya. Dina masuk ke kamarnya, Toni mengikutinya.


"kamu dari mana sayang? Semalaman aku kawatir" ucap Toni dengan nada penuh kekawatiran


"dari tempat temanku" ucap Dina ketus


"sayang...aku minta maaf, kemarin aku membentakmu dan menuduhmu" ucap Toni dengan raut penuh penyesalan


"dulu aku pernah bilang, kalau kamu membentakku lagi, aku akan pergi..." ucap Dina datar


"jangan tinggalkan aku Din, aku berjanji tak akan mengulangi lagi" Toni benar-benar menyesal


"dulu kamu juga berjanji seperti itu, nyatanya...kamu mengulanginya lagi"


"kali ini aku berjanji...ini yang terakhir kalinya Din..."


Dina tak menghiraukan Toni, ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia ingin Toni belajar dari kesalahannya, agar tak seenaknya memperlakukannya seperti mainan.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2