
Toni melepaskan genggaman tangannya, ia merogoh sakunya. Mengeluarkan kotak beludru berwarna merah marun seperti baju Dina. Membukanya kemudian dia berlutut di depan Dina. Dina melihat cincin yang ia pernah lihat tempo hari.
"aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengatakan ini, aku pikir hari inilah aku harus menagatakannya" Toni menjeda ucapannya
"Jocelyn Andina Prasetya...Will you Marry me?" jantung Toni berdegup kencang, ia menantikan jawaban Dina.
Dina tercengang, ia tak bisa berkata-kata, ia mengatupkan kedua tangannya di depan mulutnya. Matanya berkaca-kaca ia tak menyangka secepat ini Toni mengatakannya.
"mungkin bagi kamu terlalu cepat, tapi ini yang selama ini ingin aku katakan kepadamu, aku ingin membuat sebuah ikatan yang lebih kuat di antara kita, aku ingin menunjukkan keseriusanku" dada Toni bergemuruh ia takut Dina akan menolaknya.
"sekali lagi..........Will you marry me....?"
Hening, Toni sampai bisa mendengarkan degup jantungnya yang semakin kencang. Ia sudah kehabisa kata-kata, ia tak tahu kata apa lagi yang harus ia ucapkan untuk meyakinkan Dina.
"yes....i will Ton..." ucap Dina lirih, Toni mendongak menatap Dina
"apa Din?"
"Yes...i will" ucap Dina sambil berurai air mata bahagia
"benarkah sayang?" Toni bangkit berdiri memegang bahu Dina, Dina mengangguk "iya sayang" Toni memeluk Dina meluapkan rasa bahagianya
"terima kasih sayang....terima kasih..." Toni menguraikan pelukannya kemudian ia mengambil cincin yang ia pegang tadi dan memakaikannya di jari manis Dina. Cincin dengan batu rubi dengan berlian kecil disekelilingnya sangat indah melingkar di jari manis Dina.
Bertepatan dengan Toni selesai memakaikan cincin pada jari manis Dina, lampu di sekitar mereka menyala. Dina terkejut, ia melihat sekelilingnya, ternyata ada banyak mata memandang mereka.
Dan ada satu orang yang berjalan paling depan menghampiri mereka.
"selamat untuk kalian berdua, ternyata kamu sudah dewasa Ton.." orang itu menepuk bahu Toni
"terima kasih pa..." ucap Toni dengan senyum mengembang
"selamat ulang tahun Din, cepat selesaikan kuliahmu, agar om bisa segera mendatangi kedua orang tuamu" ucap papanya Toni
"iya om...terima kasih..." Dina tersipu malu, ia tidak menyangka jika papanya Toni sejak tadi memperhatikan mereka.
"papa pulang dulu...ingat...jangan cepat-cepat memberikan papa cucu..." papanya Toni tergelak kemudian meninggalkan mereka berdua.
"selamat ya Din...Selamat ulang tahun dan juga pertunanganmu" ucap Tere membawa kue ulang tahun menghampiri Dina
"hah...kakak....kenapa ada di sini?" Dina terkejut
"tanya pada pangeran tampanmu itu" Tere melirik pada Toni "tiup lilinnya dulu sebelum lilinnya meleleh" ucap Tere
"eit...make a wish dulu..." ucap Tere ketika Dina hendak meniup lilinnya. Dina memejamkan mata sebentar kemudian ia meniup lilinnya.
"selamat ya...sudah sold sekarang" ucap Caca
__ADS_1
"kamu ini apa sih?" Dina memukul lengan Caca
"selamat ya..." Ratna dan Berta bergantian mengucapkan selamat sambil mencium pipi kiri dan kanan Dina
"terima kasih..." Dina mengembangkan senyumnya.
"selamat sahabatku...." Ani menghampiri Dina kemudian memeluk Dina
"Ani...kenapa kamu ada di sini?" Dina terkejut, benar-benar kejutan yang luar biasa untuknya "kamu sama siapa?"
"itu dengan gengnya Toni" Ani tergelak "selamat ya Ton...jangan kecewakan Dina lagi, nanti kamu bisa nangis guling-guling lagi kalau sampai kamu kecewakan dia" Ani terkekeh
"kamu tenang saja...sudah sejauh ini, nggak mungkin aku belok atau putar balik" ucap Toni kemudian tergelak
Dina melihat seseorang yang berdiri sedikit jauh di belakang Ani dengan tatapan yang sulit diartikan. Dina berjalan menghampirinya.
"Roy....aku dilamar" Dina tampak bahagia sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya
"aku ikut bahagia untukmu....selamat ulang tahun" Roy menyerahkan kotak kecil yang ia bawa "mungkin tak sebanding dengan yang Toni berikan"
"terima kasih....kamu mengenalku lebih dari siapapun jadi jangan berkata seperti itu lagi...kita tetap bersahabat sampai kapanpun" ucap Dina mengembangkan senyumnya
"bukalah hatimu Roy...ada Ani yang dari dulu menyukaimu" ucap Dina pelan
"aku tahu..." Roy mengembangkan senyumnya "sepertinya calon suamimu tak akan membiarkanmu berbicara denganku" Roy terkekeh
Dina menghela nafasnya "posesif" gumam Dina
"kamu masih ingat mereka kan?" Toni menunjuk ke arah teman-teman sekolahnya dulu
"masih..."
Satu per satu teman-teman tim basket Toni sewaktu SMA memberi ucapan selamat pada mereka berdua. Paling akhir ada Biyan cowok yang selalu mengganggunya menghampirinya.
"selamat ulang tahun princessnya Toni" Biyan mengulurkan tangannya. Dina menoleh pada Toni, Toni mengangguk, kemudian Dina menjabat tangan Biyan
"terima kasih" ucap Dina singkat
"maafkan perbuatanku dulu Din...aku menyesal telah membuat kamu dan Toni berpisah" ucap Biyan penuh penyesalan
"aku sudah melupakannya" uca Dina datar kemudian meninggalkan mereka bertiga dan menghampiri Ani dan teman-teman yang lain.
"kenapa kalian bisa ke sini bersama-sama?"
"ceritanya panjang....intinya ini reuni kecil-kecilan yang Toni buat, lihat dia mengundang teman-teman sekelasmu" ucap Ani sambil menunjuk sekumpulan teman-teman yang sedang mengobrol dengan Toni
"Non selamat ulang tahun ya..." Raya mendekati Dina menyerahkan satu buket bunga kepada Dina
__ADS_1
"terima kasih kak Raya..." Dina mencium pipi kiri dan kanan Raya
"selamat nona....akhirnya..." ucap Ridwan sambil terkekeh
"kenapa kalian nggak kasih tahu aku sih...kalau Toni menyiapkan kejutan" Dina mengerucutkan bibirnya
"kalau kami kasih tahu, bukan kejutan namanya" Raya terkekeh
"permisi Non...saya dapat tugas khusus dari mas Toni malam ini..." pamit Ridwan
"tugas...tugas apalagi? Ini sudah malam apa Toni nggak kasihan sama kakak malam-malam begini masih di sini"
"nona cukup nikmati saja malam ini..."
Kemudian di sudut ruangan Ridwan mulai beraksi, ia menjadi DJ dadakan yang disuruh oleh Toni untuk merayakan ulang tahun Dina.
"kak Raya duduk saja...pasti capek berdiri..." Dina menggandeng Raya ke pinggir dekat dengan meja makanan.
"sayang...ini malam kamu...ayo..." Toni menarik Dina ke tengah di bawah lampu disko yang tadi tak terlihat oleh Dina.
"ya...ampun...dari dulu aku minta ditemani masuk club, nggak mau...sekarang malah bikin sendiri" Dina tergelak
"khusus buat kamu princess...." ucap Toni lembut kemudian menyodorkan gelas yang berisi anggur merah pada Dina.
Malam semakin larut, mereka semua terhibur dengan acara yang dibuat Toni. Ridwan berhasil menyulap taman sebelah cafe Toni menjadi diskotik dadakan.
Mereka berpesta merayakan ulang tahun Dina, sekaligus reuni teman-teman sekelas mereka. Dina begitu bahagia, apa yang selama ini ia inginkan telah diwujudkan oleh Toni.
.
.
.
T h e e n d....
.
.
.
.
tapi bohong....
B e r s a m b u n g
__ADS_1
karena nona sedang baik hati malam ini meluncur lagi 1 bab.....tolong spam likenya ya bestie...yang belum like tolong like dulu, ditunggu vote dan komennya, jangan lupa kirim bunga atau kopi ya...biar bisa melek ngetik bab selanjutnya terima kasih reader ku tersayang...