
Dengan langkah mantap dan perasaan yang sulit untuk dijelaskan Toni mencari keberadaan Dina di kelasnya, ia takut Dina salah paham akan apa yang tadi ia dengar.
Tapi ia tak melihat Dina dimanapun, ia kemudian kembali ke kelasnya. Roy melihat wajah Toni yang memerah menahan amarah menjadi heran. Yang ia ingat tadi Toni sedang bersemangat karena ada Dina yang memlerhatikannya.
"kamu ada apa?" tanya Roy dengan tatapan penuh tanda tanya
"sial....!" Toni menggebrak mejanya
Roy terlonjak kaget, sudah lama ia tak melihat Toni emosi seperti itu. Sejak kejadian Toni membentak Dina, Roy melihat ada perubahan besar dalam emosi Toni.
Tapi hari ini, setelah bertahun-tahun Toni bisa mengontrol emosinya, emosi itu meluap juga. Kilatan amarah terlihat di sorot matanya.
Roy menghela nafasnya "ada apa lagi?" tanya Roy datar
"Dina marah padaku...!"ucap Toni dengan nada marah
"marah...? Bukannya tadi baik-baik saja?"Roy mengerutkan dahinya
"semua gara-gara Bian!" ucap Toni emosi
"Bian?" Roy mengerutkan dahinya "bukannya kamu sudah tidak dekat dengannya lagi?" Roy semakin bingung
"memang! Ia yang mendatangiku, dan berbicara yang tidak-tidak, dan aku yakin Dina mendengar apa yang diucapkan oleh Bian" Toni masih emosi
"memangnya apa yang dikatan Bian? Apa hubungannya dengan Dina?" Roy semakin tidak mengerti
Toni menceritakan semua kejadian setelah pelajaran olahraga tadi di toilet. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Roy yang mendengarnya begitu marah, ia tak habis pikir dengan Bian.
Apa maksudnya Bian berbicara seperti itu. Ia marah bukan karena Toni, tapi ia marah karena Dina, teman yang ia sayangi sejak SMP dianggap seperti barang yang bisa dipertaruhkan seenak hatinya.
Kali ini ia tidak menyalahkan Toni, karena ia tahu seburuk-buruknya Toni, ia tak akan menjadikan orang yang ia cintai menjadi bahan taruhan.
__ADS_1
Meski Toni kadang mudah tersulut emosinya, tapi ia masih bisa berpikir mana yang harus diperbaiki lebih dahulu. Roy juga melihat ada kesedihan di dalam mata Toni.
Roy ingin sekali membantu Toni dan Dina, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Roy tak menyangka kisah Toni dan Dina akan begitu rumit.
"aku harus bagaimana lagi Roy?" ucap Toni
"kamu jelaskan pelan-pelan kepada Dina" ucap Roy datar. Ia pun juga tidak tahu apakah Dina mau mendengarkan penjelasan darinya atau tidak.
Bel Jam istirahat pun berbunyi, Toni enggan keluar dari kelasnya. Roy pun menemaninya untuk tidak keluar kelas, ia takut Toni kembali emosi dan akan berbuat yang tidak-tidak.
Seperti biasa Yuni datang ke kelas Toni untuk menemui teman sekaligus tetangganya.
"kamu apakan Dina?" tanya Yuni datar kepada Toni
"aku tidak berbuat apa-apa Yun" ucap Toni dengan tatapan kosong
"lantas, kenapa Dina sampai menangis di kelas?" Yuni mencecar Toni
"aku tidak berbuat apa-apa Yun..." jawab Toni datar
"aku mencintainya, tak mungkin aku melukai hatinya Yun" ucap Toni kesal
"lantas...kenapa Dina kamu jadikan bahan taruhan dengan teman-temanmu!" ucap Yuni ketus
"dengar ya...Yun...aku tidak pernah menjadikan Dina bahan taruhan! Karena Dina bukan barang!" ucap Toni mulai tersulut emosinya
"lantas... Apakah Dina yang salah mendengar semua pembicaraan kalian?" ucap Yuni sinis
Toni menghela nafasnya "itu yang mau aku jelaskan padanya Yun...tapi ia tak mau menemuiku" ucap Toni lesu "bantu aku untuk mendapatkan maaf darinya Yun...apa yang ia dengar itu semua salah..."
"baik...aku akan membantumu...tapi bukan karena aku kasihan pada kalian, tapi karena Dina sekarang sedang dekat dengan cowok yang aku dan temanku incar selama ini!" ucap Yuni meninggalkan Toni dan Roy. Toni dan Roy saling pandang, mereka tidak tahu apa maksud Yuni.
__ADS_1
"maksudnya apa?" Toni bertanya-tanya, sedangkan Roy hanya mengedikkan bahunya.
"pulang sekolah temui Dina di studio...bicara padanya...aku yakin Dina pasti memaafkanmu" ucap Roy
"tapi di studio ada Widi, aku malas berurusan dengan dia!" ucap Toni
"Widi tak akan membantumu jika memang kamu benar-benar mencintai Dina"
Bel jam pulang sekolah telah berbunyi, Toni bergegas mencari Dina di kelasnya tapi ia tidak ada, ia buru-buru ke tempat parkir dan melihat motor Dina masih terparkir di tempat parkir motor.
Toni berjalan memghampiri pak satpam sekolahnya yang sedang berdiri di depan pos satpam.
"bapak melihat Dina tidak?" tanya Toni ke pak satpam
"mbak Dina... itu motornya masih ada, berarti masih di dalam mas..." ucap pak satpam
"baiklah..terima kasih pak" ucap Toni kembali ke dalam gedung sekolah mencari Dina
Toni mencari Dina dimana-mana tapi tidak menemukannya, ia ke studio juga tidak ada. Ia hanya diberitahu oleh Alex jika Dina nanti ada les jam satu dan jam tiga. Ia tidak tahu Dina berada dimana, seluruh sudut sekolah sudah ia cari tapi tak menemukan keberadaan Dina.
Setelah lelah mencari kesana kemari Toni memutuskan untuk pulang dengan hati yang tak tenang. Pikirannya berkecamuk, tidak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan maaf dari Dina.
Meskipun sebenarnya itu bukan salah Toni, tapi Toni tak ingin memperburuk keadaan yang sudah mulai membaik.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Yang tanya Dina ada dimana silakan baca 'PACARKU ADIK KELASKU'
Jangan lupa ritualnya ya bestie...