
Keduanya terdiam duduk berhadapan di ruang keluarga. Toni menatap Dina dengan pandangan sulit diartikan, sedangkan Dina hanya menatap Toni datar.
Lama mereka berdua terdiam, Dina masih menunggu apa yang ingin Toni ucapkan. Sedangkan Toni sendiri bingung harus memulai dari mana.
"apa yang ingin kamu katakan?" ucapan Dina memecah keheningan di antara mereka berdua
Toni menyandarkan tubuhnya di sofa "sampai kapan kamu akan marah padaku?"
"aku nggak tahu" jawab Dina datar
Toni menghela nafasnya "selama satu bulan kamu menghindariku, mau sampai kapan kamu begini?"
"dua kali aku memergoki kamu bersama cewek lain, dan keadaannya kamu pasti ingat, bagaimana perasaan kamu jika posisinya dibalik?" ucap Dina datar
"aku minta maaf untuk itu Din....mereka yang sengaja menggodaku, tapi aku tak tergoda sama sekali, percayalah..." Toni berusaha setenang mungkin
"semua itu bisa kamu cegah jika kamu tidak memberi kesempatan pada mereka" Dina mulai ketus "aku nggak tahu Ton...apa masih bisa percaya kamu lagi"
"aku harus bagaimana Din? Aku belum mengenal cewek itu, dia tiba-tiba masuk kantorku..." Toni mulai frustasi
"belum kenal kok sudah buka-bukaan" ucap Dina sinis
"dia yang tiba-tiba menggodaku membuka bajunya di depanku, aku harus bagaimana Din...?"
"kamu bisa saja mengusirnya, mendorongnya keluar...tapi sepertinya kamu menikmati apa yang ada di depanmu" ucap Dina sinis
"Din...! Aku bukan cowok seperti itu...yang dengan mudahnya tergoda dengan cewek!" Toni emosi
"begitukah....?"
__ADS_1
"terserah kamu mau percaya atau tidak itu kenyataannya...!" nada bicara Toni mulai meninggi
"kenapa kamu jadi marah?! Aku hanya berteman dengan mantan-mantanku, hanya bertemu di kampus itu pun tidak sengaja kamu sudah marah dan cemburu buta, sekarang apa aku nggak boleh marah melihat kamu berduaan dengan cewek lain di dalam ruangan tertutup?!" nada bicara Dina tak lagi terkontrol. Ia ingin meluapkan semua yang ia rasakan selama ini
"tapi aku tidak melakukan apa-apa Din!"
"aku pun juga tidak...bahkan banyak orang yang melihat aku bertemu dengan cowok manapun, nggak pernah dalam satu ruangan tertutup tapi kamu sudah marah-marah tak beralasan!"
Toni tak berkutik, ketika Dina membandingkan peristiwa dimana Toni tiba-tiba cemburu buta pada Dina. Ia seperti ditarik ke masa lalu, yang selalu membuat Dina kecewa.
Toni terdiam, ia tak tahu lagi harus mengatakan apa pun untuk membenarkan perbuatannya. Selama ini Dina telah begitu sabar menghadapinya. Tapi ia juga lelah terkadang Dina begitu kekanak-kanakan, Dina lebih suka menghindari masalah yang seharusnya sudah mereka selesaikan sejak lama.
"kalau kamu memang marah padaku, marahlah...pukullah aku jika itu membuatmu lebih baik, tapi jangan kamu lari dari masalah" ucap Toni datar
Dina menghela nafasnya "aku marah iya...aku pun juga lelah...saat itu jika aku meluapkan emosiku, kamu nggak akan tahu apa yang akan terjadi padamu dan cewek itu" Dina menjeda ucapannya "aku lebih baik pergi daripada aku berbuat sesuatu yang akan aku atau kamu sesali di kemudian hari"
Toni menatap Dina dalam-dalam "memangnya apa yang akan kamu lakukan?"
"seharusnya kamu juga jangan menghilang begitu lama.." Toni masih menyalahkan Dina
"aku butuh waktu Ton....untuk berpikir, meyakinkan diriku sendiri jalan mana yang harus aku pilih" Dina menatap datar Toni yang entah Toni menyadari atau tidak akan kesalahannya.
"apalagi itu cewek pilihan mama kamu, aku nggak ingin kamu menjadi anak durhaka yang melawan ibunya sendiri, jadi memang lebih baik aku yang mengalah"
"itu pilihan mama, bukan pilihanku lagipula papa sudah merestui kita buat apa kamu mempermasalahkan mamaku" nada bicara Toni kembali meninggi
"aku hanya ingin kamu menghargai dan menghormati mama kamu, aku ingin hubungan kalian lebih dekat lagi"
"kamu tidak mengenal mamaku, dan jangan berusaha memperbaiki hubunganku dengan mamaku karena itu akan sia-sia" ucap Toni datar
__ADS_1
"misalkan....kamu belum melamar aku...misalkan kita hanya sebatas teman, apakah kamu akan menerima dia yang dijodohkan oleh mamamu?" Dina menahan sesak di dadanya, berusaha menguatkan dirinya mendengar jawaban Toni yang mungkin akan membuatnya kecewa
"jika ada pilihan yang lebih baik, aku tak akan memilih cewek itu...." jawab Toni dengan suara yakin "tapi....meskipun sekarang kita hanya berteman, aku akan tetap lebih memilih kamu, karena cintaku masih sama seperti 7 tahun yang lalu"
Air mata yang dari tadi Dina tahan akhirnya luruh juga. Entah apa yang membuatnya menangis, Dina sendiri tidak tahu.
"sekarang apa yang kamu inginkan dengan hubungan kita ini?" Toni berusaha menahan emosi dan juga rasa sedihnya.
Dina terdiam, ia tak tahu harus bagaimana, apakah ia akan melanjutkan hubungannya dengan Toni atau harus melepasnya.
Dina sadar ini saat-saat yang menentukan untuk dirinya dan Toni. Namun Dina tak tahu harus menjawab apa. Dina sudah menyerahkan dirinya pada Toni, ia menyayangi Toni dan di saat yang bersamaan Toni mengecewakannya lagi.
Meskipun apa yang ia lihat saat itu Toni memang tidak bersalah. Namun di situ Toni juga memiliki andil sehingga peristiwa itu terjadi.
Jika saja Toni bisa lebih tegas pasti semua tak akan serumit sekarang. Toni memberikan kesempatan bagi cewek itu untuk menggodanya.
Toni pun juga dilema, ia ingin memberi Dina kebebasan, ia ingin melepaskan Dina namun ia begitu mencintainya, banyak yang telah ia korbankan demi Dina.
Ia menyadari selama ini Dina sudah membuktikan bahwa dirinya setia kepada Toni. Ia selalu sabar menghadapi Toni yang tiba-tiba suka cemburu buta.
Dan lagi, Dina telah menyerahkan dirinya pada Toni. Toni mengingat itu semua, pengorbanan yang begitu besar yang telah Dina lakukan demi membuktikan perasaannya pada Toni.
Mereka berdua lagi-lagi terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Baik Dina maupun Toni mencoba untuk merenungkan, memikirkan apa yang selama ini telah mereka lalui.
Banyak hal yang telah mereka lalui, banyak hal yang membuat mereka berdua yakin memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius lagi.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g