
Tak butuh waktu lama Toni telah sampai di restoran XX. Toni masuk ke dalam restoran itu, mengedarkan pandangan, dan melihat Dina berada di sudut restoran itu dengan seorang pria. Posisi Dina menghadap ke arah pintu masuk, sedangkan pria tersebut membelakangi pintu masuk.
Toni merasa emosi, melihat Dina terlihat sangat akrab dengan pria tersebut. Bisa terlihat jika Dina tampak senang bersama pria itu. Dengan langkah lebar Toni menghampiri Dina.
Semakin dekat, Toni semakin emosi karena Dina masih tak menyadari keberadaan dirinya. Toni berdiri di sebelah Dina "jadi ini alasannya, kamu jarang menelpon aku?" ucap Toni dingin
Dina dan pria itu pun menoleh, Dina membulatkan matanya karena tak menyangka Toni akan bersikap seperti itu. "Ayo pulang..." Toni mencegkeram pergelangan tangan Dina
"maaf dia siapa?" tanya pria itu pada Dina
Dina akan membuka mulutnya namun dipotong oleh Toni "aku tunangannya..." ucap Toni dingin
"oh...maaf saya tidak tahu" ucap pria itu ramah "perkenalkan saya Dewa..." pria itu mengulurkan tangannya
"apa anda tidak dengar saudara Dewa? jika Dina ini tunangan saya" ucap Toni penuh penekanan
"sayang....tolong jangan buat keributan di sini..." ucap Dina lembut
"sekali lagi saya minta maaf, karena tidak tahu Miss Dina sudah mempunyai tunangan" ucap Dewa tak enak hati, hendak beranjak dari duduknya
"tunggu dulu Pak Dewa...maafkan tunangan saya ya pak..." ucap Dina sopan
"kenapa kamu minta maaf pada dia Din...?!" Toni semakin marah
"maaf sebaiknya saya permisi, kita lanjutkan besok saja Miss Dina..." Dewa beranjak dari duduknya
"maafkan saya pak...nanti saya hubungi lagi untuk kelanjutan pembicaraan yang tadi" Dina beranjak berdiri mengulurkan tangan kepada Dewa namun ditepis oleh Toni
Dina hanya menghela nafasnya, "saya mengerti Miss Dina" Dewa tersenyum kemudian meninggalkan Dina dan Toni.
Dina begitu kesal, karena Toni mengacaukan pertemuannya dengan Dewa. Sifat Toni yang mudah marah kembali lagi, Dina tak tahu lagi harus bagaimana agar Toni bisa lebih mengendalikan emosinya.
"jadi di belakangku kamu sering bertemu pria itu?!" tanya Toni dingin
"bukan cuma sama dia, masih banyak lagi..." jawab Dina ketus
"kamu serius tidak dengan pernikahan kita sudah dekat? Hah?!"
__ADS_1
"serius....seriburius bahkan...!" Dina mengambil tasnya kemudian berdiri meninggalkan Toni.
"Din...kamu mau kemana?!" teriak Toni yang mendapat tatapan dari pengunjung lain di restoran itu.
"balik ke kantor" ucap Dina tanpa mempedulikan Toni yang mengejarnya
Dina pun masuk ke dalam mobilnya, dan buru-buru meninggalkan restoran itu. Dina kesal, Toni membuatnya malu di depan klien Wijaya Group. Padahal pertemuan itu juga demi perusahaan tapi Toni malah marah-marah tanpa alasan.
Toni baru menyadari jika Dina kini telah bisa mengemudikan mobil sendiri. Ia pun langsung masuk ke mobilnya dan mengikuti kemana Dina pergi.
Toni memarkirkan mobilnya asal, dan langsung mengejar Dina yang sudah menghilang di balik lift. Toni menunggu lift berikutnya dengan perasaan gelisah.
Toni telah sampai di lantai di mana ruangan Dina berada, ia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Dina sampai -sampai Vanya diacuhkannya.
"eh...Ton...!" teriak Vanya namun diabaikan oleh Toni.
Toni membuka pintu ruangan Dina dengam kasar, ia berjalan menghampiri Dina yang sedang membereskan barang-barangnya dengan sorot mata tajam.
"kenapa meninggalkan aku? Hahhh?!"
"memangnya kenapa?" jawab Dina santai sambil membereskan barang-barangnya. Dina menahan kesal, karena Toni ia membatalkan pertemuan dengan klien menggantikan Vanya yang beralasan sedang tidak enak badan.
"Ton...kamu mau bicara apa lagi? Aku tidak mau bicara denganmu kalau kamu masih membentakku" ucap Dina dengan sorot mata tajam.
"siapa pria tadi Din?!" Toni masih tak mengindahkan ucapan Dina
"Pak Dewa, seorang klien" ucap Dina menahan kesal
"klien? Bukannya yang harus bertemu klien itu Vanya, atau kalau tidak kalian berdua?!" Toni masih tak terima dengan jawaban Toni
"aku capek Ton kalau harus bertengkar denganmu karena hal nggak penting" Dina ketus
"nggak penting katamu?" ucap Toni sinis
"akhir-akhir ini kamu mengabaikan aku, bahkan teleponku pun nggak kamu angkat"
"siapa yang lebih sibuk? Aku atau kamu?!" Dina menunjuk dada Toni "kamu sendiri tiap akhir pekan tidak ada waktu untukku, kamu telepon selalu di jam kerja, dimana kamu setelah pulang kantor hemm?"
__ADS_1
Toni tak tahu apa yang harus ia katakan lagi, ia bingung, banyak hal yang ada di kepalanya yang ingin ia luapkan pada Dina. Namun kata-kata Dina seolah menampar dirinya.
Toni akhir-akhir ini sering menghabiskan waktunya di cafe, berkumpul dengan orang-orang baru, atau di lapangan golf ditemani caddy cantik.
"banyak hal yang harus aku kerjakan Din..." kilah Toni
"berarti kita sama" jawab Dina asal
Dina telah selesai merapikan meja kerjanya, kini ia bersiap untuk pulang karena ia telah membatalkan pertemuan dengan klien, tak ada alasan lagi untuk tetap berada di kantor.
"kita belum selesai bicara" Toni mencekal tangan Dina
"bicara apa lagi?" tanya Dina dingin
"pria tadi itu siapa?"
"sudah kujawab tadi, dia seorang klien"
"sepertinya kalian akrab" Toni masih terlihat marah
"sudahlah Ton...kalau hanya mau mengajak bertengkar lebih baik aku pulang, sore ini aku sudah membatalkan dua pertemuan dengan klien, aku lelah aku ingin pulang..." ucap Dina kehabisan tenaga untuk berdebat
"kenapa kamu yang bertemu mereka?"
"tanyalah pada kak Vanya, dia tadi mengeluh tidak enak badan, hari ini pekerjaan dia aku yang menyelesaikan" Dina mendesah kesal
"tapi...dia..."
"sudahlah Ton...aku lelah...kalau kamu meragukan aku, tersera....! Selama ini aku hanya sibuk bekerja, terserah kamu percaya atau tidak" Dina menepis tangannya kemudian berjalan keluar ruangannya.
"Dina tunggu...!" Toni meraih tangan Dina kemudian menariknya berjalan menuju lift. Dina hanya diam, ia sudah lelah jika harus berdebat dengan Toni.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g