Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 42 Plin-plan


__ADS_3

"katanya menyuruh Dina datang menemani makan, kenapa sudah makan duluan?" tanya Toni sambil menarik kursi untuk Dina


"jam dua papa mau ada tamu, jadi papa makan dulu" ucap pak Yanuar "tidak apa-apa kan Din, om makan duluan?" pak Yanuar menatap Dina


"ah...iya om...tidak apa-apa" ucap Dina dengan senyum canggung


"sekarang kalian makan, papa mau ke ruang kerja" ucap pak Yanuar kemudian meninggalkan meja makan


Toni menghela nafasnya, papanya memang sibuk. Padahal sudah berjanji akan makan siang bersama dengan dirinya dan Dina. Toni hanya diam dan terlihat enggan makan.


"sudah jangan sedih...papamu itu sedang bekerja Ton..." ucap Dina lembut


"tapi kan ia sudah berjanji untuk makan bersama kita Din..." ucap Toni lesu


"ayo makan... Kalau kamu tidak makan aku kembali ke kelas saja ya..." Dina meletakkan sendok dan garpunya. Toni menoleh ke arah Dina "jangan....temani aku" ucap Toni dengan tatapan memohon


Mereka berdua melanjutkan makan mereka dalam diam, hanya dentingan sendok bertemu piring yang terdengar. Sepuluh menit kemudian mereka berdua telah menyelesaikan makan mereka.


"piringnya biar mbok Nah yang mencuci..." ucap Toni lembut


"tapi Ton..." protes Dina


"Din...kamu itu diundang papa kesini bukan untuk mencuci piring..." ucap Toni dengan penekanan.


"tapi kan kasihan mbok Nah..." ucap Dina lirih


"kali ini saja ya... Ayo ke depan" Toni meraih tangan Dina. Dina menghembuskan nafasnya kasar, berdekatan dengan Toni membuat semua yang selama ini ia rencanakan menjadi berantakan.

__ADS_1


Dina memang masih menyayangi Toni, tapi selama ini Dina berusaha menghindar dan menjaga jarak dengan Toni untuk menyembuhkan lukanya.


Tapi karena suatu hal yang tak terduga, ia terjebak dengan Toni kembali. Dina hanya ingin menghargai papanya Toni bukan karena ia ingin kembali bersama dengan Toni.


Sesampainya di ruang tamu, papanya Toni sedang duduk di sana seorang diri sambil membaca beberapa lembar kertas. Toni duduk di seberang papanya bersama Dina.


"jadi...sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya papanya Toni tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ia baca.


Toni dan Dina saling berpandangan, Dina menatap Toni dengan raut penuh tanda tanya.


"kami hanya berteman om..." ucap Dina gugup


"hmm....begitu ya...om malah berpikir kalian berpacaran" ucap papanya Toni sambil terkekeh "om pernah muda Din...jadi tahu bagaimana tatapan orang yang saling jatuh cinta"


"sudahlah pa...aku dan Dina hanya berteman baik jangan bertanya lagi" protes Toni


Papanya Toni mengembalikan kertas-kertas yang ia baca ke dalam map "terserah kalian mau menyebut apa, papa hanya ingin yang terbaik untuk kalian, kalian masih sangat muda harus bisa menjaga diri kalian, kamu paham kan maksud papa?" papanya Toni menatap ke arah Toni


Mereka berdua kembali ke sekolah, mereka diam tak ada satu pun yang memulai pembicaraan di antara mereka. Sesampainya di gerbang belakang gedung sekolah mereka Dina berjalan cepat meninggalkan Toni.


Toni hanya menghela nafasnya menatap punggung Dina yang semakin menjauh. Menurutnya Dina itu terlalu rumit, ia masih belum mengerti kenapa sikap Dina selalu berubah-ubah.


Dina bertemu dengan Roy sedang mengobrol dengan Ani ketika melewati depan kelas Ani.


"yang habis makan siang bersama calon mertua..." ledek Roy


"statusnya sudah berubah ya..." Ani menimpali

__ADS_1


"kalian ini...!" ucap Dina kesal


"ingat hari sabtu...ditunggu makan-makannya" Roy menggoda Dina


"baiklah...baiklah...kalian boleh bawa teman dekat kalian ke resto 'N'" ucap Dina kesal "tapi jangan bawa teman banyak-banyak ya... Uang sakuku pas-pasan" Dina terkekeh


"siap tuan putri..." ucap Roy kemudian ia meninggalkan Ani dan Dina


"jadi...kalian berbaikan?" tanya Ani duduk di sebelah Dina


"memangnya aku pernah bertengkar?" Dina menautkan kedua alisnya


"maksudku...kalian balikan lagi?" tanya Ani


"enggak An.... Aku masih belum bisa melupakan perlakuan dia dulu" ucap Dina sendu


"saranku... Jangan beri Toni harapan kalau kamu belum siap" ucap Ani


"mauku begitu, tapi entahlah An...aku sendiri bingung..." ucap Dina menatap ke arah kelas Toni "sabtu jangan lupa ya...pulang sekolah"


"beres..." ucap Ani sambil mengacungkan jempolnya


Dina beranjak dari duduknya kembali ke kelasnya. Dina merasa dirinya plin-plan, Dina sendiri bingung, hati dan pikirannya tak bisa sejalan. Dina bingung harus bagaimana, ia butuh seseorang yang bisa mengerti ceritanya, dan memberikan saran terbaik untuknya.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2