
Sepanjang perjalanan, Pak Eko menceritakan kisahnya dari awalnya seorang anak yang punya prinsip muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga menjadi seperti sekarang.
Pak Eko menceritakan bagaimana dulu ketika tiba-tiba kedua orang tuanya bercerai dan kemudian perusahaan papanya bangkrut dan ia jadi putus kuliah.
Semua orang menjauhinya, ia hampir frustasi dan saat itulah dirinya bertemu Tuan Yanuar. Tuan Yanuar menjadikannya teman baiknya. Dari Tuan Yanuar pak Eko banyak belajar tentang bagaimana berusaha agar bisa membiayai kuliahnya yang sempat putus.
Mereka berdua berjualan apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang agar bisa membiayai kuliah mereka meskipun orang tua Yanuar termsuk keluarga yang berkecukupan.
Dari situlah, ia merasa terpacu untuk bisa seperti Yanuar, yang baru saja lulus kuliah namun sudah memiliki usaha sendiri. Meski hanya usaha berjualan alat-alat tulis namun omsetnya tidak main-main.
Pak Eko yang sempat putus kuliah beberapa tahun bertekat untuk mengikuti jejak teman barunya itu. Dan ketika ia sudah lulus, Yanuar yang saat itu sudah mulai merintis perusahaan dibidang konstruksi menawarinya pekerjaan sebagai asistennya, sebagai tangan kanannya apalagi ia seorang sarjana hukum, saat itu Yanuar muda membutuhkan orang yang bisa membantunya mengurus kontrak-kontrak kerja sama.
Perusahaan yang awalnya hanya perusahaan konstruksi dan juga percetakan kecil kini menjadi perusahaan besar dengan banyak bidang usaha. Pak Eko kagum dengan dengan kegigihan Yanuar Muda, dan sejak saat itu ia bertekad mengabdikan dirinya pada keluarga Yanuar yang telah banyak berjasa pada dirinya.
Karena terlalu asyik bercerita, perjalanan yang jauh pun tak terasa lama, mereka kini telah sampai di Hotel Jaya, hotel milik Wijaya Group.
Semua orang menunduk hormat ketika Dina memasuki lobi hotel. Berita jika Dina adalah calon menantu dari pemilik dimana mereka bekerja sudah sampai pada semua karyawan apalagi Dina datang bersama orang kepercayaan pemilik perusahaan membuat mereka semakin bingung, ada masalah apa sebenarnya hingga petinggi Wijaya Group datang ke hotel itu.
Sejak Dina bekerja menjadi asisten Vanya, Dina sudah berubah ia tak seperti dulu yang mudah memaafkan orang apalagi masalah pekerjaan. Namun Dina tetap ramah dan mudah bergaul, namun jika ia menemukan sedikit saja kesalahan maka akan ia kejar sampai dapat.
Tanpa basa-basi Dina langsung naik ke lantai tiga, lantai dimana menejemen hotel bekerja mengendalikan semua aktivitas di hotel itu.
Dina berjalan cepat dengan raut wajah serius menuju ke ruangan General Menejer di hotel tersebut.
"pagi Nona....maaf mau bertemu siapa?" tanya seorang perempuan yang duduk di meja depan ruangan GM.
__ADS_1
"kamu pasti karyawan baru, sampai tidak mengenal kami" ucap Pak Eko santai.
Semua karyawan di sana kebingungan, karena memang Dina tak memberitahukan sebelumnya jika ia akan datang untuk melakukan audit.
"Bosmu ada di dalam?" tanya Dina ramah namun dengan sorot mata tak bersahabat
"hemm....apa anda sudah ada janji dengan beliau?" perempuan itu masih bertanya karena ia masih belum tahu dengan siapa ia berhadapan
"saya tidak perlu membuat janji dengannya, jadi saya akan masuk sekarang" ucap Dina tegas kemudian ia berjalan ke arah ruangan GM
"Nona tunggu..." perempuan itu mengejar Dina namun sayang Dina sudah lebih dulu membuka pintu ruangan itu.
Sesaat Dina terpaku melihat adegan yang ada di depan matanya saat ini. Pak Eko pun tak kalah terkejut, ia ingin melihat apa yang akan Dina lakukan. Karena sebelum berangkat Tuan Yanuar hanya berpesan temani dan jaga Dina, jika Dina meminta bantuan barulah ia membantunya.
Dina mencoba tak terpengaruh dengan adegan yang ada di depannya. Dimana sedang terjadi penyatuan antara dua orang berlainan jenis, namun mereka tak menyadari kedatangan Dina.
"hah....B...Bu...Dina..." laki-laki itu tergagap dan kemudian melepaskan senjata laras panjangnya dari milik perempuan yang masih memunggunhi mereka.
"cepat bereskan semuanya....saya tunggu dalam waktu lima menit" ucap Dina tegas, dan itu membuat GM itu kalang kabut sedangkan wanitanya membalik badannya dan menatap suara siapa yang berani memerintah seorang bos di hotel besar ini.
Dina terkejut melihat siapa wanita yang ada di depannya namun ia menyembunyikannya dengan baik "oh...kamu rupanya....lama tak berjumpa" ucap Dina dengan sorot mata tajam
"siapa kamu berani-beraninya mengganggu kesenangan seorang bos? Apa kamu juga menginginkannya? Mungkin Toni sudah bosan dan membuangmu" ucap perempuan itu tak tahu malu
Dina mengepalkan tangannya namun ia berusaha tetap tenang.
__ADS_1
"kamu cepat keluar dari sini!" GM itu melemparkan pakaian milik perempuan itu
"kenapa aku yang harus keluar sayang....memangnya dia siapa, paling juga cuma mau melamar kerja" ucap perempuan itu sinis
"Andini....!" bentak GM itu namun tangan Dina terangkat memberi isyarat untuk GM itu untuk diam
"melamar kerja? Hahahahha....." tawa Dina menggema di ruangan itu. GM yang sudah memakai pakaiannya dengan rapi semakin takut "asal kamu tahu ya.... Di sini akulah bosnya!" ucap Dina dengan penekanan
"cih...bos...jangan mengada-ada kamu" ucap Andini
"cepat pakai pakaianmu atau aku menyuruh satpam menyeretmu dalam keadaan seperti ini!" ucap Dina dingin "dan satu hal lagi....aku tunangan Toni, tiga minggu lagi aku menikah dengannya, dan hotel ini akulah yang memegang kendali, bukan dia!" Dina menunjuk ke arah GM yang berdiri dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
Mau tak mau Andini memakai pakaiannya dengan perasaab marah dan malu. Karena tubuhnya dilihat banyak orang di ruangan itu. Kemudian ia berjalan keluar dan dengan sengaja menyenggol bahu Dina.
Dina tak menghiraukannya, ia berjalan menuju meja kerja GM itu dan mengangkat gagang telepon "suruh cleaning service ke sini dan jangan lupa bawa desinfektan sekalian" ucap Dina tegas kemudian meletakkan gagang telepon itu.
Pak Eko yang sudah duduk manis di sofa, ia tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Dina. Ia tahu betul Dina dulu tak semenakutkan ini, Dina yang ia tahu periang dan ramah pada semua orang, namun kini sikapnya berbanding terbalik dengan Dina yang ia tahu.
Diam-diam Pak Eko merekam apa yang Dina lakukan dan mengirimnya pada tuan Yanuar. Kini Pak Eko merasa sedikit lega karena yang mendampingi Toni adalah orang yang tepat. Bukan cewek lemah yang hanya bisa sembunyi di balik punggung kekasihnya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g