Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 203 Masalah apa?


__ADS_3

Papanya Toni tidak mengerti apa yang Dina maksud. Ia mengerutkan dahinya, mencona mencerna apa yang dikatakan oleh Dina.


"maksud kamu?"


Dina menghirup nafas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya "aku ingin membatalkan pernikahan kami pa" ucap Dina lirih. Butuh keberanian besar untuk mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang selama ini tak ingin ia ucapkan.


Papanya Toni terkejut "apa ada masalah di antara kalian?" papanya Toni berusaha menjadi pihak yang netral ia tak ingin membela siapa-siapa di sini. Dina menjawab dengan anggukan, kepalanya pun masih tertunduk.


"masalah apa sehingga kamu ingin membatalkan pernikahan kalian?"


"buat apa menikah pa, kalau tidak ada kepercayaan di antara kami" ucap Dina masih belum berani menatap calon mertuanya itu


"kepercayaan?" Papanya Toni semakin dibuat bingung


Akhirnya Dina menceritakan apa yang baru saja terjadi. Dina tak menutup-nutupi apa yang terjadi di antara mereka sejak dulu. Kejadian itu bukan yang pertama kalinya.


Papanya Toni menghela nafasnya berkali-kali. Ia tidak menyangka selama ini Toni masih bersikap kekanak-kanakan. Ia tak habis pikir, setelah semua pengorbanan Dina Toni masih tak percaya padanya.


"sementara jangan beritahu kedua orang tuamu dulu Din, papa mengenal kedua orang tuamu seperti apa, biarkan papa berbicara pada Toni terlebih dahulu" ucap papanya Toni lembut. Ia merasa kasihan dengan Dina, terlebih Dina adalah calon menantu yang dia inginkan sejak lama.


"baiklah pa...kalau begitu Dina permisi..." ucap Dina kemudian ia pergi keluar dan pulang ke rumahnya.


.


Di rumah Dina, Toni memberanikan diri mengetuk pintu rumah Dina. Namun sepi sepertinya tak ada seorang pun di rumah dan terlihat tak.ada tanda-tanda Dina telah pulanh. Padahal tadi ia melihat Dina pulang menaiki taksi.


Toni gusar, jika Dina tidak berada di rumah lalu kemana perginya Dina. Toni berkali-kali mengetuk namun tak ada jawaban. Ia pun menelpon Dina, namun panggilannya tak kunjung dijawab oleh Dina.


Toni mengusap wajahnya kasar, saat ini pikirannya sedang kacau. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di kepalanya hanyalah perkataan Dina yang ingin membatalkan rencana pernikahan mereka.

__ADS_1


Kata-kata itu yang terngiang-ngiang di kepalanya. Bagaimanapun juga ia benar-benar mencintai Dina, namun rasa cemburu dan curiga menutupi rasa cintanya pada Dina.


Lima belas menit Toni menunggu namun tak ada tanda-tanda ada orang di rumah itu. Ia pun meninggalkan rumah Dina. Ia ingin sekali membagi beban di hati dan pikirannya namun entah dengan siapa.


Ia pun teringat sahabat baik Dina, Ani dan Roy. Tak mungkin malam-malam ia pergi ke rumah Ani, maka ia memutuskan untuk ke rumah Roy.


Sesampainya di rumah Roy, seperti biasa ia langsung masuk ke kamar Roy. Roy terkejut dengan kedatangan Toni, apalagi dengan raut wajah yang tak bisa ditebak.


Toni pun menceritakan semua yang baru saja terjadi, ia hampir menitikkan air mata, namun ego nya terlalu besar ia pun menyembunyikan rasa sedihnya.


"akhir-akhir ini aku jarang bertemu Dina, namun pernah satu kali aku bertemu dia di cafe X bersama beberapa pria berpakaian rapi, ia terlihat serius, entah apa yang mereka bicarakan sepertinya masalah pekerjaan"


"aku tidak tahu lagi Roy harus bagaimana..."


"Dina itu tipe setia Ton, pernah dia menceritakan jika ia sebenarnya punya keinginan untuk meniti karir di kota S, namun ia urungkan niatnya demi kamu dan papa kamu, jadi jangan sia-siakan dia...atu aku akan mengambilnya dari kamu"


Setelah mendengar semua perkataan Roy, Toni pun pamit pulang. Perasaannya semakin campur aduk, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia sendiri bingung dengan perasaannya kini.


"tumben kamu pulang ke sini bukan di hari libur" ucap papanya


Toni pun duduk di sofa kecil di seberang papanya "sedang ingin pulang pa...."


"sudah bertemu dengan Dina?" pancing Vanya. Beberapa hari terakhir Vanya sengaja menyuruh Dina menggantikannya bertemu dengan klien, alasannya hanya karena Vanya malas, ia lelah dengan kesibukannya. Vanya orang yang bebas, ia tipe tidak mai repot.


"sudah kak..." jawab Toni lesu


"lantas kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya papanya Toni yang sengaja ingin membuat Toni jujur padanya.


"Dina membatalkan rencana pernikahan kami pa..." ucap Toni lirih.

__ADS_1


"alasannya?"


"sepertinya ia memiliki pria lain pa..." ucap Toni menyandarkan kepalanya di sofa


"maksud kamu bagaimana?" tanya papanya Dina dengan sorot mata marah. Apa yang Dina katakan ternyata benar, Toni masih mencurigainya.


"hari ini aku memergoki Dina bertemu pria lain pa..."


Papanya Toni menghela nafas di sini Toni yang bersalah, namun ia melemparkan kesalahannya pada Dina "apa kamu yakin itu?"


"tadi Dina ke sini, dia sudah menceritakan apa yang selama ini ia simpan sendiri, dan papa kecewa padamu Ton" ucap papanya Toni dingin


"hah...? Dina kesini? Lalu?!" Toni membulatkan matanya


"dia serius ingin membatalkan rencana pernikahan kalian"


"terus papa bilang apa ke dia?!" Toni benar-benar tak habis pikir Dina melakukan apa yang telah ia ucapkan tadi


"aku hanya bilang padanya untuk jangan memberitahu kedua orang tuanya, hingga aku bicara dengan kamu"


Toni sedikit lega, mendengar ucapan papanya. Ia tak langsung menyetujui apa yang Dina inginkan. "Papa tidak menyangka kamu akan mengecewakan Dina, Dina telah banyak berkorban untukmu, jangan sia-siakan dia...perbaiki sikapmu dan mintalah maaf padanya"


Toni terdiam, kata-kata papanya hampir sama dengan apa yang diucapkan Roy. "Semakin dekat hari pernikahanmu, banyak masalah akan datang pada kalian, itu ujian untuk kalian, jadi perbaiki semua jika kamu benar-benar mencintai Dina" papanya Toni meninggalkan Toni yang hanya bisa diam mencerna ucapan demi ucapan papanya


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2