Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 176 Tegang


__ADS_3

Kini saatnya perkenalan kedua keluarga sebelum masuk ke acara inti. Keluarga Dina sudah memperkenalkan seluruh anggota keluarganya yang hadir saat ini.


Kini giliran keluarga Toni, papanya Toni memperkenalkan satu per satu rombongannya.


"ini mbok Nah....orang yang sudah merawat Toni sejak masih bayi dan sudah seperti ibu kedua buat Toni"


"Diana kemana Yan?" celetuk mamanya Dina


"kami sudah lama berpisah dengannya Ver, dan sekarang ia tinggal di kota J" papanya Toni tak ingin menutup-nutupi apa yang terjadi dengan keluarganya.


Mama dan papa Dina terkejut mendengar perkataan papanya Toni. Ia tidak menyangka papanya Toni kini seorang duda. Mereka kawatir jika rumah tangga anaknya nanti akan berakhir sama dengan orang tuanya.


"aku tahu apa yang kalian pikirkan, aku tidak ingin terjadi pada keluargaku namun inilah yang terjadi, dan aku bisa jamin Toni tidak akan menyia-nyiakan Dina"


Kedua orang tua masih sedikit takut, akan nasib anak perempuan satu-satunya itu. Keluarga Toni tidak utuh ada kemungkinan salah satu anak mereka akan mengikuti jejak orang tuanya.


Papanya Toni sedikit menghela nafas, ia tidak bisa menyalahkan orang tua Dina, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.


"pertama kali aku bertemu dengan Dina saat itu dia masih kelas satu SMA, aku sudah menyukainya, sejak saat itu aku ingin menjadikannya menantuku, hari ini secara resmi aku ingin melamarnya menjadikan menantuku, calon istri untuk anakku Toni" ucap papanya Toni tenang namun juga ada sedikit ketakutan di hatinya orang tua Dina akan menolak lamarannya.


"mereka berdua sudah lama saling mengenal, dan semakin dekat dua tahun terakhir ini" papanya Toni menjeda ucapannya "aku pernah berkata pada Dina setelah ia wisuda aku akan menemui kedua orang tuanya untuk melamarnya secara resmi, dan hari ini aku menepati ucapanku itu, aku harap kalian memberikan ijin bagi Toni untuk menikahi Dina" papanya Toni telah melakukan yang seharusnya ia lakukan sebagai orang tua


"semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, apalagi Dina putriku satu-satunya, aku menginginkan yang terbaik untuknya" papanya Dina menjeda ucapannya membuat jantung Toni berdebar semakin tak karuan, ia takut papanya Dina tidak akan menerima lamaran mereka.


"aku hargai kejujuranmu tentang keluargamu Yan, tentang apa yang terjadi padamu dan Diana, aku tidak menginginkan kejadian itu menimpa putri kesayanganku"


Wajah Toni menjadi pucat, ia sudah kehilangan semangatnya mendengar ucapan papanya Dina. Ia yakin dari kata-kata papanya Dina, mereka tidak menerima lamaran itu.

__ADS_1


Papanya Dina menatap Toni yang wajahnya terlihat pucat, serta mulai berkeringat terlihat jelas kalau Toni sangat gugup dan ketakutan. Ia pun tersenyum tipis tanpa ada yang menyadari.


"aku ingin bertanya pada Toni" papanya Dina menatap Toni dengan sorot mata tajam


Toni menegakkan duduknya, nyalinya menciut. Biasanya ia menghadapi klien seperti apapun ia berani, namun kali ini ia takut menghadapi papanya Dina.


Wajahnya terlihat menyeramkan bagi Toni seolah-olah akan memakannya hidup-hidup. Wajah Toni semakin pucat, keringat dingin semakin deras mengalir dari pelipisnya.


Baru kali ini ia ketakutan seperti ini. Ternyata hanya dengan tatapan tajam dari calon mertuanya itu Toni sudah ketakutan.


"apakah kamu serius ingin menikahi Dina?" ucap papanya Dina tegas, sorot matanya masih tajam dan begitu menakutkan. Semua orang terlihat tegang, sungguh situasi yang menegangkan.


Tidak ada yang mengira sama sekali jika acara lamaran ini seperti sidang pembunuhan. Yang menjadi terdakwa Toni, seolah-olah ia telah membunuh orang dengan keji.


"saya serius om...." ucap Toni gugup, suaranya terdengar bergetar, ia benar-benar sudah kehilangan harapan, namun ia harus tetap menghadapi situasi ini.


Toni tersentak, ia begitu kaget, papanya Dina membentaknya. Bagaimanapun juga ia menyadari jika ia pernah mengecewakan Dina sekali di masa lalu dann papanya Dina mengetahuinya, jika papanya Dina bersikap seperti itu sudah sewajarnya.


Vanya terusik, ia tak tega melihat adiknya dibentak seperti itu. Meskipun mereka sering bertengkar namun ia tetap memyayangi adik laki-lakinya itu.


Ia ingin membela adiknya namun, papanya menahannya. Papanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tahu papanya Dina hanya ingin mengetahui sejauh mana Toni serius dengan anaknya.


Papanya Toni sedikit banyak tahu sifat dari saingannya di masa lalu itu. Orang yang tak banyak bicara, tegas namun baik hati. Ia yakin semua akan baik-baik saja.


Apalagi Toni pernah mengecewakan Dina, sebagai orang tua wajar jika bertanya seperti itu. Ia tak ingin Dina tersakiti lagi. Ia sendiri juga akan bersikap seperti itu jika itu terjadi pada Vanya.


"saya serius om" Toni menjawab dengan nada tegas meskipun gugup namun ia ingin menunjukkan keseriusannya.

__ADS_1


"apa kamu yakin bisa membahagiakan Dina dan tidak akan menyakitinya lagi?"


Ternyata masih ada pertanyaan lanjutan dari papanya Dina. Toni kira setelah ia menjawab seperti itu papanya Dina akan memberikan jawaban atas lamarannya.


"saya akan berusaha membahagiakan Dina om...saya tahu tak ada hubungan yang sempurna tak ada pertengkaran tak ada permasalahan, namun saya akan berusaha menyelesaikan masalah kami sebaik mungkin tanpa ada yang tersakiti" entah keberanian dari mana Toni bisa menjawab selancar itu.


Mendengar itu, satu sudut bibir papanya Toni terangkat "itu baru pewaris Wijaya Group" batin papanya Toni.


Papanya Dina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya namun tatapannya masih tajam. Ia masih belum puas mengerjai Toni, ia masih ingin mengetes calon menantunya itu.


"Jika aku tidak menerima lamaran kamu, bagaimana?"


Toni membulatkan matanya, mendadak seluruh persendiannya terasa lemas. Ia sudah yakin jika papanya Dina memang tak akan menerima lamarannya. Ia merasa tak semangat, apalagi saat ia menatap Dina, terlihat sorot mata kesedihan di mata Dina.


Ia semakin yakin jika ini akhir dari perjuangannya untuk mendapatkan Dina. Ia merasa perjuangannya selama ini akan sia-sia.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Kira-kira lamaran Toni diterima nggak ya?


Apakah ia harus memperjuangkan kembali restu dari papanya Dina?

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennya ya bestie....nona tunggu....


__ADS_2