
Keesokan harinya karena kondisi Dina masih belum membaik, Dina tidak diperbolehkan mamanya masuk sekolah. Dina pagi-pagi sekali menelpon Roy mengabarkan kalau ia tidak masuk. Roy merasa kawatir, tapi Dina meyakinkan Roy kalau dia baik-baik saja.
"Ton....Dina hari ini tidak masuk" ucap Roy datar saat Toni datang. Sejak Toni sering mengabaikan Dina Roy memilih untuk tak lagi memarkirkan motornya di rumah Toni.
"dari mana kamu tahu?" Toni menatap Roy heran
"pagi tadi ia menelponku, Dina masih sakit" ucap Roy dengan nada kesal "sebaiknya kamu ke rumahnya, pastikan ia baik-baik saja"
"iya besok saja setelah pertandingan basket" jawab Toni singkat
"Dina sakit sudah dari kemarin Ton! Wajahnya pucat masih kamu biarkan ia pulang sendiri! Pacar macam apa kamu?!" bentak Roy
"kamu tahu sendiri aku sibuk mempersiapkan tim kita untuk turnamen besok!" Toni tidak mau kalah
"sibuk?! Sibuk apa kamu?! Kamu hanya kumpul-kumpul bersama Bian dan Angga!" Roy makin kesal
"aku keluar dari tim...!" ucap Roy meninggalkan Toni. Toni masih berkeyakinan jika Dina baik-baik saja tidak seperti yang dikawatirkan Roy.
Toni menyusul Roy, ia tidak mau tim yang sudah susah payah ia bentuk kehilangan pemain. "Roy....jangan begitu....ayolah...hanya karena Dina kamu keluar dari tim!" Toni berusaha membujuk Roy.
"pastikan dulu Dina sudah sehat, baru aku mau ikut bertanding!" ucap Roy ketus "perlu kamu tahu Dina kemarin sempat pingsan!"
"dari mana kamu tahu?!"
"Widi!"
"Dina pingsan di sekolah?" Toni mendadak kawatir
"di rumahnya, sewaktu Widi mengantarnya pulang sampai rumah Dina pingsan" jawab Roy menahan amarahnya
"kenapa Widi yang mengantar Dina pulang? Bukankah kemarin ia bilang bisa pulang sendiri?" Toni mulai cemburu
"kamu pikir saja sendiri! Harusnya kamu yang mengantar tapi kamu pergi, Rani tidak tega melihat wajah pucat Dina, ia meminta tolong kepada Widi!" terang Roy menahan emosinya
Tangan Toni terkepal, ia terbakar api cemburu. Ia menganggap Dina telah menduakannya. Beberapa kali Bian menceritakan kedekatan Dina dengan Widi tentunya bukan cerita yang sebenarnya.
Bel tanda pelajaran berakhir telah berbunyi. Ia ingin melihat kondisi Dina. Tapi ditahan oleh Bian, dengan alasan mereka harus berkumpul untuk memantapkan strategi.
Roy geram melihat Toni yang masih lebih mendengarkan Bian daripada dirinya. Dengan perasaan marah Roy melajukan motornya ke rumah Dina.
"bagaimana keadaan kamu Din?" tanya Roy
"sudah lebih baik " ucap Dina dengan senyum dipaksakan
__ADS_1
"kamu sakit apa sebenarnya?"
"anemia dan tekanan darah rendah" jawab Dina masih memaksakan senyumnya
"pertandingannya besok minggy kan Roy?" tanya Dina
"iya...tapi aku tidak ikut bertanding" jawab Roy masih merasa kesal dengan Toni
"kenapa Roy, kasihan Toni kalau kamu tidak ikut bertanding" ucap Dina dengan raut penuh tanda tanya
"Toni sudah punya tim yang bagus kamu tidak perlu kawatir" Roy terkekeh
Dina bingung, biasanya Roy selalu bersemangat jika ada pertandingan basket. Tapi kenapa mendadak Roy mengundurkan diri.
"kalau kamu mau menonton Toni bertanding, besok minggu aku jemput" ucap Roy
"aku bisa pergi sendiri Roy" ucap Dina memaksakan senyumnya.
Dina bingung, ia sakit bukan Toni yang memperhatikannya tapi Roy yang datang menjenguknya. Dina berpikir macam-macam tentang Toni.
"tidak usah memikirkan yang tidak-tidak, Toni sibuk dengan timnya" ucap Roy yang mengerti ketika Dina terdiam.
"besok kamu masuk tidak Din?" tanya Roy
"kalau mendapat ijin dari mamaku aku masuk, tapi kalau tidak ya aku tidur lagi" Dina terkekeh.
"Dina tidak masuk lagi?" tanya Roy menghampiri Rani yang duduk termenung di kursinya sendirian
"seppertinya tidak Roy" ucap Rani dengan nada sedih
"paling belum diijinkan mamanya masuk sekolah" Roy berlalu dan duduk di kursinya. Toni datang bersama Bian dan Angga, raut wajah Toni seperti tidak memiliki beban, padahal Dina masih sakit.
Toni duduk di sebelah Roy "kamu sudah menjenguk Dina?" pancing Roy yang tahu persis Toni sama sekali belum menjenguk Dina ataupun meneleponnya menanyakan keadaan Dina
"belum sempat, besok saja setelah pertandingan" jawab Toni santai. Roy pun diam, ia malas berdebat dengan Toni.
Hari pertandingan turnamen basket antar sekolah, Roy pagi-pagi sudah sampai di rumah Dina "sudah kubilang aku bisa berangkat sendiri Roy..." Dina mengerucutkan bibirnya.
"kamu belum pulih benar Din... Mamamu bilang kamu masih sedikit pusing" ucap Roy
"iya...iya...ya sudah ayo berangkat keburu siang" ucap Dina sambil memakai helmnya
Mereka telah tiba di lapangan basket di gedung olahraga kota K. Roy mengajak Dina duduk di barisan belakang tempat duduk para pemain, tapi Dina menolaknya. Ia tidak mau mengganggu konsentrasi Toni.
__ADS_1
Pertandingan telah dimulai, Dina menyaksikan dari barisan tengah-tengah. Ia tidak ingin Toni melihatnya, ia hanya ingin Toni bermain bagus tanpa harus terganggu kehadirannya.
"kamu lihat kan.... Mudah mencari penggantiku" Roy terkekeh
"kenapa bisa seperti itu ya Roy? bukaknkah kamu dan Toni berteman cukup lama?" tanya Dina sambil matanya tak lepas dari memperhatikan Toni
"entahlah..." Roy mengedikkan bahunya
Pertandingan telah usai, dimenangkan oleh Toni dan teman-temanya. Dina sengaja menunggu penonton membubarkan diri dan ia memberikan selamat pada Toni.
Dina beranjak dari duduknya ketika lapangan basket mulai sepi. Langkah Dina terhenti ketika melihat Toni terlihat akrab dengan seorang cewek yang Dina tidak mengenalnya.
"itu adiknya Bian, dia memang mendekati Toni, tapi percayalah Toni hanya menyayangi kamu" hibur Roy
"ayo Roy kita pulang...." Dina membelokkan langkahnya menuju pintu keluar.
Dada Dina terasa sesak, melihat Toni akrab dengan cewek lain. Dina cemburu, sebulan terkahir ia berkorban agar Toni bisa meraih kemenangan, tapi Toni malah mengabaikannya dan dekat dengan cewek lain.
Roy bisa merasakan apa yang Dina rasakan. Roy tidak bisa berbuat apa-apa. Toni sedikit bergantung dengan Bian, biaya-biaya yang dikeluarkan untuk persiapan pertandingan hari ini Bianlah yang membiayainya. Orang tua Bian adalah rekan kerja papanya Toni.
Apalah arti Roy di mata Bian, ia bukan dari keluarga yang kaya seperti Bian. Maka dari itu Roy lebih memilih mengundurkan diri dari tim mereka.
Toni mengantarkan Dina pulang, sepanjang perjalanan Dina hanya diam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
"sabar.... Toni tidak ada hubungan apa-apa dengan adik Bian, ia tetap menyayangi kamu Din" hibur Roy
"iya Roy aku tidak memikirkannya, aku hanya pusing mungkin masih butuh banyak istirahat" kilah Dina
Roy pulang meninggalkan Dina dengan perasaan tidak tega. Ia kasihan melihat Dina, tapi ia juga tidak mau ikut campur dalam masalah mereka berdua.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
Ditunggu kiriman bunga dan kopinya ya bestie...
Jangan lupa ritualnya juga
__ADS_1
Please like, vote dan komennya ya
Terima kasih sekebon bestie