
Toni penasaran, apakah benar Dina magang di perusahaan yang bekerja sama dengannya. Ia pun mengambil ponsel dari sakunya, ia mencari-cari nomor Dina kemudian mulai mengetik pesan untuk Dina.
📨hai Din apa kabar?
Toni memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya, berharap Dina segera membalas pesan singkatnya.
"jadi kamu ke sini hanya mau membahas anak magangku saja?" pak Ferdi membuyarkan pikiran Toni
"ah...tidak om...itu tadi hanya sebuah kebetulan saja" Toni tersenyum.
Mereka berdua pun kemudian larut dalam pembahasan bisnis mereka. Ada kalanya mereka berdua serius ada kalanya mereka santai.
Pak Ferdi begitu menyukai Toni, anak muda yang gigih, berbakat dan mau belajar, mau menerima masukan dari orang lain. Ia senang berbisnis dengan Toni, meski masih muda namun dalam hal bisnis ia benar-benar tegas tidak seperti papanya.
Hingga jam makan siang mereka asyik membicarakan kerja sama mereka. "ah...ternyata sudah jam makan siang..." ucap pak Ferdi
"iya sudah jam dua belas lebih, om makan di rumah seperti biasa?"
"iya....istri saya sudah menunggu" Pak Ferdi terkekeh "kamu mau ikut makan di rumah Ton?"
"ah...enggak om...terima kasih...nanti saya malah mengganggu" Toni tersenyum penuh arti
"ya sudah, saya pulang dulu om..." Toni beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan pak Ferdi.
Toni berjalan keluar kantor pak Ferdi, ia berjalan menuju parkiran sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Dina.
Sayup-sayup dari arah belakang Toni terdengar suara yang sudah lama tak ia dengar. Toni menoleh dan mendapati Dina sedang berjalan sambil bercanda dengan salah satu karyawan di sana.
Toni cemburu, tapi ia juga menyadari Dina adalah cewek yang ramah dan mudah bergaul jadi bukan hal yang aneh jika Dina cepat akrab dengan lingkungan baru.
Toni berdiri bersandar pada mobilnya, kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya, pandangannya tak lepas dari Dina yang masih belum menyadari keberadaannya.
Sesaat Dina menatap ke depan, dan menyadari ada yang memperhatikannya dari tadi. Dina bersama karyawan itu berjalan ke arah Toni.
"lhoh....Toni...! aku kira tadi salah orang" sapa Dina dengan senyum mengembang. Toni hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Dina.
"iya....tadi pagi aku melihat kamu tapi kamu tiba-tiba menghilang" Toni terkekeh
"lho kenapa enggak kamu panggil? Aku enggak tahu, ngomong-ngomong kamu di sini ada urusan apa?" sikap Dina kembali lagi seperti dulu waktu mereka baru saja berkenalan
__ADS_1
"aku ada urusan di sini, kamu apa kabar?"
"oh...aku baik...baik Ton..." Dina mengembangkan senyumnya "oh iya....aku mau makan siang, kamu mau ikut?"
"hmmm....makan dimana Din?"
"di warung depan" cowok yang bersama Dina akhirnya membuka suara
"bagaimana kalau kamu ikut aku saja Din?"
"lain kali saja ya Ton...aku sudah janji dengan kak Tio soalnya" Dina tersenyum ramah
"ah...iya...baiklah....kalau begitu aku makan siang sendiri saja" Toni membalik badannya kemudian membuka pintu mobilnya. Ia kecewa karena pertemuannua dengan Dina tak seperti yang ia harapkan bahkan pesan singkat yang tadi pagi ia kirimkan belum juga dibalas.
Dina pergi bersama teman barunya, mereka berjalan keluar dari area perusahaan ke warung sederhana yang terletak di depan tempat ia magang.
Toni melajukan mobilnya dengan perasaan kecewa sedih dan cemburu. Ia ingin bersama Dina walau hanya untuk sebentar saja, ia begitu merindukan Dina. Setelah perpisahannya dengan Andini, ia tak lagi berhubungan dengan siapapun.
Toni fokus menyelesaikan kuliahnya sesuai targetnya dan juga ia masih bolak-balik ke kota J mengurus bisnis yang diberikan oleh papanya. Walaupun Andini masih sering mengejarnya tapi ia abaikan.
"halo om...biasanya anak magang pulang jam berapa?" Toni menelepon pak Ferdi
Ia ingin mengajak Dina pulang lebih awal. Karena menurut pak Ferdi anak magang tidak diwajibkan pulang seperti karyawan lainnya, mereka boleh pulang jika tugas dari pembimbing lapangannya sudah selesai.
Toni memarkirkan mobilnya di depan kantor pak Ferdi. Ia menunggu Dina kembali dari makan siangnya. Ia menunggu dengan cemas, takut Dina sudah kembali ke dalam perusahaan.
Tak berapa lama, Dina kembali bersama par karyawan pak Ferdi yang sebagian besar cowok. Toni turun dari mobilnya kemudian berjalan menghampiri Dina.
"Din...."
"eh Ton....!" Dina terkejut
"kamu sudah jadi makan siang?" tanya Toni lembut menatap Dina
"sudah...tadi bersama teman-teman"
Karyawan perempuan saling senggol, berbisik-bisik membicarakan Toni yang ternyata mengenal Dina. Mereka iri, karena selama ini mereka berlomba-lomba mencari perhatian Toni namun Toni hanya menatap datar pada mereka.
"temani aku makan ya...aku belum makan siang" ucap Toni dengan tatapan memohon
__ADS_1
"tapi Ton..." Dina melihat ke sekelilingnya
"aku tadi sudah telepon om Ferdi, katanya kamu bebas pulang kapan saja, asal pembimbingmu tahu" terang Toni
"bukan begitu maksudku....ini hari pertamaku, tidak enak aku pulang lebih awal" ucap Dina lirih
Toni menghela nafas "baiklah...nanti aku jemput pulangnya ya...." Toni tersenyum
"aku bawa motor sendiri Ton....maaf" Dina tak enak hati
"kalau begitu nanti malam aku ke kosmu saja ya....kamu belum pindah kan?" Toni merasa kesal namun ia tak berani marah pada Dina
"iya aku belum pindah....masih di tempat lama, sudah ya....aku mau ke dalam dulu" Dina meninggalkan Toni yang terdiam
"eh...Din......sial!" Dina telah jauh dari hadapannya
Toni kembali ke dalam mobilnya, ia meninggalkan perusahaan tempat Dina magang dan pergi ke kantornya.
"kamu kenal dengan direktur PT Wijaya Sentosa Din?" tanya salah satu karyawan perempuan
"hah...direktur? Siapa kak?" Dina bingung
"itu tadi....yang mengobrol denganmu" ucap karyawan lain dengan tatapan sinis
"oh...yang tadi....dia teman sekolahku....aku tidak tahu kalau ia direktur, setahuku dia masih kuliah" Dina berusaha sopan di saat semua menatapnya dengan tatapan sinis
"iya...dia kuliah sambil mengelola anak perusahaan Wijaya Grup" ucap karyawati lain dengan nada sinis.
Dina merasa seperti dibenci oleh sebagian besar karyawan perempuan di sana hanya karena ia mengobrol dengan Toni.
Ia tak tahu dimana letak salahnya. Hanya mengobrol dengan teman lama ternyata membuat ia dibenci. Dina pun memutuskan kembali ke kantor kepala produksi untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Jangan lupa komen, like serta votenya ya bestie, terima kasih sekebon bestie...