Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 183 Cerita lalu Toni (2)


__ADS_3

"semakin lama, ia semakin agresif, aku cowok normal yang tak mungkin tak tergoda melihat itu, namun bayangan dirimu yang menangis membuatku seketika emosi, aku melakukannya dengan kasar, awalnya dia tersenyum penuh kemenangan semakin dia tersenyum aku semakin marah dan aku semakin brutal menyetubuhinya, aku benar-benar emosi semuanya aku tumpahkan saat itu hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dan terlihat mengenaskan"


"aku menyudahinya...kemudian mengambil foto untuk jaga-jaga jika saja ia akan menerorku" terdengar helaan nafas dari Toni


"lantas foto itu? Kamu masih menyimpannya?" Dina terlihat begitu kecewa dengan Toni, ia tak menyangka Toni mampu berbuat sekejam itu terhadap cewek yang menyukainya


"aku tidak menyimpannya, waktu itu kamera dibawa Roy"


"Roy?!" Dina terkejut sahabat baiknya ternyata menyimpan rahasia Toni yang tak pernah ia ceritakan padanya


"iya...setelah melakukannya aku meminta Roy menjemputku aku menyuruhnya membawa kamera, dan juga aku menyuruhnya melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan tapi sepertinya ia tidak melakukannya" Toni menatap Dina, ia bisa melihat Dina yang terlihat begitu kecewa padany


"kalau kamu sudah tak sanggup, lebih baik aku tidak melanjutkannya" Toni memiringkan badannya menangkup kedua pipi Dina


"tidak...aku masih ingin tahu semua tentangmu, untung saja Fara sudah meninggal aku tidak tahu apa jadinya jika dia masih hidup"


"setelah peristiwa itu dia tak lagi menggangguku hingga kecelakaan itu terjadi, aku hanya bisa meminta maaf padanya di depan kuburannya, aku menyesal kenapa dulu aku mudah sekali terpancing, aku mengakui dendam membuatku menjadi orang yang bodoh"


Dina masih mendengarkan cerita Toni, meski ia merasakan sakit dalam hatinya namun ia harus mengetahui bagaimana masa lalunya agar ke depannya tak ada lagi masalah dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua.


"masih ada lagi kah? Kamu bilang dia yang pertama, apakah ada yang kedua?" Dina berusaha setenang mungkin


"yang kedua....saat aku mulai mengambil alih PT Wijaya Sentosa, dulu hanya berupa CV yang hampir bangkrut karena salah menejemen"


"berarti dari awal kuliah kamu sudah sering berada di kota J?"

__ADS_1


"iya...dari awal kuliah setiap minggu aku bolak-balik pulang pergi ke kota J"


"tapi kenapa kita nggak pernah bertemu ya..." Dina terkekeh mencoba mencairkan suasana


"bukannya kamu yang nggak mau bertemu denganku" Toni mencubit hidunh Dina "sebenarnya Roy sudah memberitahu alamatmu padaku, tapi saat itu kamu sudah punya pacar ya...aku abaikan"


"dasar anak itu...." Dina mengerucutkan bibirnya


"saat itu aku nggak punya waktu untuk mencarimu sayang...anak perusahaan papa itu benar-benar menguras tenaga dan pikiranku"


"terus kenapa kamu bisa meniduri anak orang?"


Toni terkekeh, melihat Dina yang cemburu saat mengucapkan kata-kata itu "cewek itu anak tangan kanannya papa, yang mengurus perusahaan itu, di awal dia terlihat sopan, pendiam, cantik pula nama kalian pun mirip, dia selalu membantuku, selalu ada jika aku sedang ke kota J, saat itu aku cuma berpikir mungkin memang sudah saatnya aku membuka hati untuk orang lain.


"akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba hubungan lebih dari teman, setelah kami pacaran ternyata dia tidak seperti yang kukira, ia menggodaku memaksaku untuk melakukannya, ya...namanya kucing...disajikan ikan di depannya pastilah dimakan" terang Toni dengan nada santai ia tak mau Dina semakin kecewa padanya


"begitu ya...pantas saja saat kita pacaran kamu melakukannya, ternyata memang kamu pikir aku seperti dia" ucap Dina ketus


"eh...bukan begitu" Toni panik melihat Dina terlihat marah "itu beda ceritanya sayang....kita berdua melakukannya karena cinta, dan kita memang serius menjalaninya, dan juga kita melakukannya setelah hubungan kita jelas arahnya, kamu sudah menerima lamaranku, jika belum aku tidak akan berani mengambil apa yang berharga dari kamu"


"jadi begitu, enggak bohong kan?" ucap Dina dengan tatapan menyelidik


"jelas aku enggak bohong...buktinya aku sudah melamarmu kepada kedua orang tuamu, jika aku main-main sudah aku tinggalkan sejak dulu" Dina masih mencari kebohongan dalam mata Toni namun ia tak menemukannya


"terus apa dia enggak protes kamu tinggal begitu saja?"

__ADS_1


"dia berulang kali datang ke kantor dan menggodaku namun aku tak tergoda, apalagi setelah aku tahu, orang tuanya memperalatnya untuk mendapatkan kekayaan, dan papanyalah orang dibalik kebangkrutan anak perusahaan papa"


"dan yang ke tiga...." ucap Toni tersenyum jahil


"hah...masih ada lagi? Katanya cuma dua..." Dina kesal dia sudah hampir menangis karena sudah tak sanggup menahan emosinya


"iya ada...dan yang ketiga ini membuat aku ketagihan....ingin selalu menyentuhnya....rasanya selalu saja kurang, tiap berada di dekatnya seakan ada magnet kuat hingga aku tertarik untuk segera menyentuhnya" tangan Toni mulai meraba-raba tubuh Dina, meraba bagian sensitif Dina yang tak mungkin ia bisa menolak sentuhan itu


"tubuhnya begitu memabukkan, aku tak pernah bisa berhenti jika sudah menyentuhnya, apalagi...." Toni mulai mencium telinga Dina meremas benda kenyal milik Dina "ketika dia memakai kebaya, begitu cantik, begitu seksi, ingin rasanya mengurungnya seharian dan membuatnya mendesah di bawahku" Toni sudah mulai menindih tubuh Dina


Dina tak kuasa menolak setiap sentuhan Toni. Ia terbuai, hanyut dalam permainan yang dibuat Toni. Ia kembali jatuh dalam permainan Toni yang tak pernah bisa ia tolak.


Pagi menjelang siang itu, dua anak manusia berbagi keringat, saling mendesah saling menjerit mereguk kenikmatan memuaskan dahaga mereke setelah berminggu-minggu tak mereka lakukan.


Sekali Toni bisa memasuki Dina, ia tak akan pernah bisa berhenti, ia terus saja menghentakkan tubuhnya. Berbagai macam posisi mereka lakukan di ruangan itu. Toni sengaja melakukannya ia ingin Dina selalu mengingat permainannya di kala mereka berjauhan.


Ia ingin Dina selalu merindukan sentuhannya, merindukan miliknya yang perkasa, yang selalu membuatnya menjerit nikmat. Percintaan yang hampir dua jam lamanya seolah-olah tak bisa membuat hasrat mereka sirna begitu saja.


Dina mengakui jika Toni memang pandai membuatnya bisa menikmati surga dunia yang membuatnya ketagihan. Kadang ada rasa rindu ingin disentuh namun Dina terlalu gengsi untuk memulai duluan.


Toni menyudahi percintaan mereka setelah ronde ketiga. Ia dan Dina sama-sama kehabisan tenaga, namun mereka begitu puas karena bisa meluapkan kegembiraan mereka atas status mereka yang baru.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2